
πππ Lima tahun kemudian πππ
"Momy, lihatlah Papih belum bangun tidurnya, dia sudah berjanji akan membelikan mainan baru setelah itu pergi jalan-jalan bersama Om darren," rengek Zico kepada Clara yang kini tengah duduk di sofa.
"Pencet saja hidung Papih mu sayang, dia pasti bangun. Memangnya Om Darren mau ngajak jalan-jalan? dia selalu malas pergi keluar hah," sahut Clara.
"Tidak, dia berjanji pada Zico hari ini Momy," balasnya sambil tersenyum.
"Ya sudah, bangunkan Papihmu sana," sahutnya lagi sambil mengusap kepala Zico anaknya.
Zaki sedang asyik bersama Ibu farrah menonton Spongebob kartun kesukaannya. Clara hanya tersenyum melihat ke akraban mereka berdua, tak lama, Darren datang sambil membawa senyumannya seperti biasa.
"Ziko sama Zaki mana,?" tanya Darren pada Clara.
"Ada tuh satu, Ziko di atas lagi membangunkan Papihnya yang masih malas-malasan di atas kasur," sahutnya santai.
"Ya sudah, Kakak ke atas dulu," sahutnya sambil menghampiri Zaki yang sedang asyik nonton, Darren mencium dan menggendongnya sebentar.
"Jagoan Om sudah besar dan pintar nih," ucapnya sambil menciumi seluruh wajah keponakannya.
"Basah Om, sana jangan ganggu Zaki," sahutnya cuek.
Darren makin gemas, setelah itu. Dia langsung melangkah ke lantai atas menuju kamar Kakak iparnya.
Darren membuka pintu dan mendapati Surya lagi menenangkan putranya yang merengek minta mainan dan jalan-jalan.
"Woy, mandi sana, kita ajak mereka main. Kebetulan gue suntuk banget di rumah sendiri." Ucapnya sambil duduk santai di sofa.
"Cari pasangan hidup biar kamu tidak bosan, menikahlah, nanti keburu gak laku, umur kamu sudah meninginjak kepala 3 hahahah," seru Surya sambil melempar bantal pada muka Darren.
"Aku belum memikirkan hal itu, lagian gak ada wanita yang bikin gue srek di hati." Ucapnya santay dan malah bermain ria dengan Zico.
"Ah sudahlah, terserah lho. Menikah itu menyenangkan dan kamu pasti ketagihan hahha," sahutnya dan melangkah pergi ke kamar mandi.
"Sana mandi, dasar pemalas," gerutunya.
Satu jam telah berlalu.
Setelah itu, Surya sudah siap pergi mengantar anaknya yang merengek terus. Hari ini memang hari libur bagi mereka, maka dari itu, Darren mengajaknya main.
Darren begitu akrab bersama kedua anak Clara yang kini sudah menginjak lima tahun lebih yang semakin pintar dalam hal apapun.
Darren belum menemukan pasangan yang membuat dirinya srek di hatinya. Sikap dingin dan cuek begitulah Darren kepada wanita.
__ADS_1
Semua wanita yang bekerja di kantornya enggan untuk mendekatinya, karena Darren tidak terlalu menyukai wanita yang tebar pesona.
Namun ada wanita yang menggelitik hatinya, tapi Darren cuek dan tidak mau melanjutkan lagi mencari tau tentang wanita itu.
Sekertaris barunya Amira, dia dari kampung orangnya pintar dan bisa bekerja di kantor Darren dengan kemampuannya.
Entahlah, Darren tidak terlalu memikirkan wanita itu, walaupun senyumannya selalu terngiang-ngiang di pikiran Darren.
Sipat Darren yang cuek, dingin dan kadang arogan ketika mood-nya tidak bersahabat. Apalagi setelah perceraian Papah Farrel dan Mamah Shiren, membuat Darren enggan untuk menikah.
Bagi Darren wanita sama saja, seperti halnya Mamah Shiren, sampai sekarang Darren masih membencinya dan tidak menjenguknya sama sekali.
Sudah Clara bujuk dengan cara apapun, namun hasil nihil, tapi Clara selalu berdoa. Supaya Kakakanya bisa luluh hatinya terhadap kebencian yang ada di hatinya.
Papah Farrel juga sudah menikah lagi, dan mempunyai anak satu perempuan. Darren juga menerima Ibu tirinya tapi belum sepenuhnya juga. Hanya menghargai Papah Farrel saja, padahal ibu tirinya sangat baik.
Rey dan Clery saat ini sedang liburan ke luar negri menikmati kota Faris. Mereka semakin lengket setelah Rey mengatakan cintanya kepada Clery bahwa dirinya telah mencintainya.
Hubungan mereka semakin harmonis, membuat Mamah Shiren yang ada di dalam sel tahanan bahagia mendengar itu semua dari cerita Clara.
Clara dua hari sekali datang ke sana, tapi bila waktunya sibuk, palingan lima hari sekali dia ke sana. Clery jarang menjenguk Mamah Shiren membuat hati Mamah Shiren sakit, tapi selalu ada Clara yang hampir tiap hari ke sana, setelah mengantar anaknya pulang sekolah. Clara dan kedua anaknya selalu mampir dulu, membuat Mamah Shiren semakin merasa bersalah kepada Clara.
πΎπΎπΎ
Darren berangkat pergi ke kantor karena hari ini ada rapat penting bersama pengusaha terkenal dan kaya raya. Di sana juga ada Surya yang terlibat dalam rapatnya, Surya terkenal sebagai CEO kaya raya dan mapan. Selalu berhasil memenangkan proyek besar.
Darren semakin bangga kepada adik iparnya itu. Tak lama, setelah rapat selesai, sekertarisnya datang ke ruangan Darren.
Kepala menunduk dan terlihat gugup.
"Pak, tolong tanda tangan di sini," ucapnya pelan sambil menundukan kepalanya ke bawah.
"Hmm"
Darren langsung menandatangani berkas itu, tak lama, dia bertanya kepada Amira.
"Kamu sekertaris baru saya," tanyanya.
"Iya pak, baiklah kalau tidak ada lagi yang harus di bicarakan saya permisi." Sahutnya buru-buru.
Setelah itu Darren kembali mengerjakan tugasnya yang ada di laptop. Tak lama, Clara datang menghampiri Darren yang kini sedang sibuk bekerja.
Setelah itu, Darren kaget melihat dua keponakannya yang sudah berada di kantor besar miliknya.
__ADS_1
"Om," serentak.
"Lihatlah Kak, mereka merengek minta datang ke sini," ucap Clara sambil duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Darren.
"Duh, keponakan Om ini sangat menggemaskan. Apa kalian sudah makan siang," tanyanya.
"Belum," serentak.
Clara hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dan Kakaknya yang semakin dekat pada Darren.
Clara enggan untuk membicarakan Mamah Shiren kepada Darren. Itu hal sensitif bagi Darren.
Tak lama Darren menghubungi sekretaris barunya untuk segera membuatkan minuman untuk sang Kakak.
"Baiklah Pak, tunggu sebentar," ucap Amira. Dirinya menghembuskan nafasnya kesal, karena dia lagi sibuk mengerjakan tugasnya dan Darren seenaknya menyuruh pekerjaan yang bukan hak dirinya.
"Kebiasaan suka menyuruh seenaknya, dasar bos dingin," gerutu Amira sambil melangkah menuju dapur kantor.
"Padahal ada Pak Yanto untuk mengerjakan semua tugas ini, apalah aku hany anak baru di sini yang harus mengerjakan tugas yang bukan hak aku." Gerutunya lagi.
Bagi Amira Darren selalu menyuruhnya yang bukan haknya, membuat dia geram dan kesal sama bos dinginnya itu.
Sering kali, Amira menyebutnya bos kulkas yang tidak tau diri.
Selang beberapa menit, Amira datang membawakan teh dan susu untuk Adik dan Keponakannya itu.
Amira tersenyum kepada Clara yang tengah duduk sambil membaca majalah.
Clara tersenyum melihat Amira datang menghampiri sambil meletakan teh manisnya itu.
"Terima kasih," ucap Clara lembut sambil tersenyum manis kepada Amira.
Setelah itu, Amira pergi ke luar sambil membungkukkan badannya sedikit kepada Clara.
"Dia cantik, apakah dia sekertaris baru mu Kak," tanya Clara.
"Iya, dia baru seminggu kerja di kantorku. Katanya sih dia dari kampung tapi otaknya pinter sih dia." Sahut Darren sambil bermain bersama kedua anak Clara.
"Dia cantik juga," sahut Clara menggoda.
"Benarkah itu, aku tidak terlalu memperhatikan wanita itu," balasnya cuek.
Clara hanya tersenyum mendengar ucapan sang Kakak.
__ADS_1