
"Sayang cepat bangun, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku yakin kamu kuat." Ucap Clara menangis, Mamah Bella hanya bisa menangis melihat Clara hancur. Dan ini hanya untuk menyelamatkan dirinya.
Tak berselang lama, Surya Membuka matanya dan berkata.
"Baa... hehehhe." Surya terkekeh dan langsung memeluk istrinya.
"Kamu, ini darah. Kamu terluka, kenapa masih bisa tertawa. Ayo kita ke rumah sakit honey." Ucap Clara, namun Surya malah tertawa lagi.
"Kamu tau, lihatlah, aku sengaja pakai pengaman dan menipu Dewi. Sebelum pakai jaket aku menempelkan anti peluru di dada, dan berisi cairan seperti darah. Untung saja dia menembak tepat di dada, kalau misal di kepala entahlah mungkin aku tinggal nama." Ujar Surya sambil memeluk dan mencium Clara.
"Kau sangat menyebalkan, di saat seperti ini saja, kamu bisa tertawa. Ayo kita pergi aku tau Kevin di mana. Mah aku pergi dulu soalnya ini sangat mepet, Dewi mau membawa Kevin ke luar kota." Ujar Clara bergegas bersama Surya.
"Semoga kalian selalu di lindungi Allah." Ujar Mamah Bella. Ia merasakan sakit di kepalanya, efek di Jambak oleh Dewi.
"Maafkan Mamah sayang Semoga kamu baik-baik saja, Kevin Mamah kangen kamu sayang. Semoga Clara bisa cepat menemukanmu." Lirih Mamah Bella.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit.
Clery, masih belum sadarkan diri, Rey juga masih sama belum ada perubahan lagi. Twin mereka sudah normal dan di bawa Mamah Shiren ke rumahnya.
Anak buah Surya, masih berjaga setiap hari mereka bergantian, untuk menjaga Rey dan Clery.
🌾🌾🌾
Di tempat sekap.
Kevin merintih kesakitan, ia merasa tangannya sangat sakit akibat di borgol sama penjahat.
Dirinya menyesal, karena waktu semasa sekolah dulu. Ayah-nya menyuruh ikut karate untuk bela diri. Dan sekarang dia lagi di sekap gini gak bisa melawan, dan hanya pasrah. Kevin berharap ada yang mau menolong dirinya malaikat tak bersayap.
Dewi sudah tiba, ia langsung bergegas ke rumah kosong itu. Dan terdapat anak buahnya yang berjaga di luar pintu rumah.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Kevin,? tanya Dewi pada ketua Bos preman itu.
"Dia ada di dalam, dan terlihat memperhatinkan dengan keadaan yang sekarang ini." Ujarnya dan langsung ikut masuk ke dalam.
"Kita bergegas pindah tempat, karena ini sudah tidak aman untuk kita menyekap si Kevin." Ujar Dewi.
Semua anak buahnya bersiap-siap untuk pergi keluar kota membawa Kevin. Dewi ketakutan karena dirinya sudah ketangkap basah sama Clara.
"Wanita itu, dia sudah banyak berubah,terlihat berani dan kuat. Bagaimana bisa dia yang dulunya lugu sekarang terlihat agak sangar. Aku takut kejahatan ku langsung mereka laporkan ke polisi. Dan keadaan Surya apa dia mati atau masih hidup, ahh ini sungguh pusing." Dewi mendesah kesal.
Ia bangkit dan langsung ke ruangan di mana Kevin di sekap di ruangan gelap.
Pintu ia buka secara perlahan, terlihat Kevin sedang duduk termangu. Tangannya ia borgol ke belakang.
Suara langkah kaki Dewi, membuyarkan segala lamunan yang ada di benak Kevin. Ia pasrah dan gak bakal ada yang mau menolongnya saat ini.
"Hei kau, lihat ini, untung saja aku memotret dulu Orangtua'mu dan juga lihat ini. Surya sudah mampus di tanganku hahahah." Terdengar sangat menyebalkan ucapan Dewi itu di telinga miliknya.
"Kamu apakan Mamahku dan juga Surya kau bunuh. Dasar iblis, sekarang kamu bisa tertawa renyah, namun tawamu akan menjadi tangis yang sangat kamu tidak di sangka." Ujar Kevin tersenyum kecut ke arah Dewi.
"Terserah kamu, aku berharap ada malaikat tak bersayap menolongku hari ini, esok atau lusa." Desis Kevin kesal.
"Jangan terlalu berharap, karena itu akan sangat menyakitkan hatimu dan juga jiwamu hahahha." Dewi tertawa dan langsung pergi meninggalkan Kevin.
🌾🌾🌾
Di perjalanan, Clara dan Surya sudah agak dekat dengan lokasi yang mereka tuju.
"Kamu sangat pintar sayang, bisa-bisanya kamu menyempatkan diri menempelkan GPS di mobil Dewi." Seru Surya tertawa.
"Itu adalah kesempatan kita, untuk tau di mana Kevin dia sekap selam berminggu-minggu." Ucap Clara lesu, dirinya tidak bisa membayangkan, semuanya akan serumit ini.
"Aku harap Dewi masih menggunakan mobil yang ia kenakan sekarang, supaya kita masih bisa mengikutinya." Ujar Surya sambil fokus mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Aku harap juga begitu honey, kita tidak boleh telat, aku tidak mau terjadi apa-apa, pada Kevin. Dan semoga juga Dewi tidak menukar mobilnya itu." Balas Clara cemas.
🌾🌾🌾
Di rumah kosong.
Dewi sudah bersiap untuk pergi membawa Kevin ke dalam mobilnya. Namun ia berpikir untuk mengganti mobil yang ia gunakan tadi.
"Apa ada mobil yang lain, aku mau menggantinya sekarang juga." Usul Dewi tenang sambil duduk manis.
"Kurasa ada, tapi kita harus menunggunya untuk beberapa menit untuk sampai ke lokasi ini." Balas Bos preman.
"Baiklah, aku mau kita mengganti mobil ini dan menukarnya dengan yang lain. Aku tidak mau rencana kita gagal, untuk membawa Kevin ke luar kota. Aku mau membunuh dia di tepi jurang yang tidak akan pernah ada orang yang mengetahuinya." Desis Dewi dingin sambil menghisap rokoknya.
"Baik Bos, kita usahakan mobil itu segera cepat datang ke sini. Terus mobil ini mau kita kemanakan Bos,?" tanya penjahat itu.
"Simpan saja di sini, setelah kita sudah beres menghilangkan Kevin. Kita langsung ke sini lagi membawa mobil itu kembali, kau mengerti,?" tanya Dewi sambil melirik ke arah penjahat itu.
"Aku mengerti Bos, mobil itu sebentar lagi akan segera tiba. Sebaiknya kita langsung bersiap-siap bos untuk menutup mata Kevin." Usul penjahat itu pada Dewi.
Setelah Dewi menyutujui semuanya, kini mereka sudah bersiap menunggu kedatangan mobil yang mereka pesan.
Dewi tertawa senang saat Kevin sedang di tutup matanya.
"Kau puasin saja menghirup udara di Dunia ini,karena sebentar lagi kau tidak bisa menghirup bebas udara ini hahahah." Ujar Dewi membuat Kevin merasa kesal.
Namun anak buahnya, berteriak.
"Bos, Kevin hilang, dia gak ada di kamar sekap." Teriak preman.
"Bagaimana mungkin dia bisa hilang." Ucap Dewi sambil menuju kamar sekap. Dan benar saja Kevin sudah tidak ada dan juga jendela masih tertutup.
"Bos, anak buah kita lihat. Mereka pingsan semua," teriak Bos preman dari luar.
__ADS_1
Dewi bergegas keluar untuk memastikan, dan benar saja. Anak buahnya sudah terikat dan juga pingsan, membuat Dewi terheran-heran melihat kejadian aneh ini.