
Clara tampaknya menjadi benar-benar bodoh sama pernikahan ini, ia dengan bodohnya menerima lamaran Rey. Mungkin ini nasib dirinya harus menerima semua kenyataan yang ada.
Angin di kampung Clara membuat kulit putihnya merasa kedinginan, ia langsung mengenakan jaket tebal, karena memang kondisi saat ini sedang hujan.
"Clara, sini? kenapa kamu melamun sayang? tanya bibi Clara menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Ia sudah menyediakan teh hangat dan juga singkong rebus.
"Waah, Clara sangat suka singkong rebus ini bi?" seru Clara, mata melebar melihat singkong rebus dan juga teh hangat yang ada di meja.
"Kamu, kenapa melamun sayang?" tanya bibi Clara sambil mengambil teh hangat.
"Hmm, tidak bi, Clara cuma merasa di kampung sangat sepi saja?" ucapan Clara merasa tidak masuk akal di telinga bibinya.
Bibinya menyipitkan matanya dan mencondongkan badannya ke arah Clara yang sedang duduk sambil menikmati singkong rebus.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu sama bibi selama ini? jawab jujur Ra, bibi sangat tahu sipat sama kelakuan mu?" tanya bibi sambil merangkul badan Clara.
Terlihat tetesan air mata Clara mulai tumpah, ia mulai berani membuka suara untuk masalah yang sedang menimpanya.
"Maafkan aku bi, Clara bingung harus mulai cerita ini dari mana" ucap Clara langsung menangis sejadi-jadinya.
Tubuh Clara bergetar, terisak tangis, membuat bibi Clara enggan untuk mengucapkan sepatah kata. Ia cuma bisa memeluk sambil mengelus kepalanya.
"Menangislah Clara, biar kesedihan mu mulai memudar, habis ini kamu ceritakan sama bibi! apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta? Selama lima bulan kamu tidak ada kabar atau pun memberi kabar kepada bibi di sini. Sedangkan kamu pulang membawa tangisan pilu yang membuat bibi tidak mengerti." ucap bibi panjang lebar.
"Maafkan Clara bi, Clara mohon jangan membenci Clara? Semua itu ada alsannya bi kenapa Clara tidak mengabari bibi selama ini?" seru Clara sambil terisak tangis di pelukan Bibinya.
"Coba sini lihat wajah kamu sayang, sekarang kamu terlihat jelek bila sedang menangis Clara? bibi tau kedatangan mu ke sini membawa luka, dan seperti bibi lihat kamu terus murung tidak ada kesenangan di matamu?" ucap bibi panjang lebar.
"Clara di jebak sama Rey, cinta Rey palsu pada Clara. Pada saat Clara di bawa ke Jakarta waktu dulu sehabis akad, Clara menerima perlakuan yang jahat dari Rey. Clara juga tidak tau kenapa Rey sangat membenci Clara saat itu! setelah kejadian yang membuat Clara muak pada Rey, Clara mencoba pergi dari kehidupan Rey. Saat itu Clara sedang berjalan menelusuri jalan raya, Clara tertabrak hingga Clara lupa ingatan!" seru Clara bacanya bergetar sambil menceritakan masalahnya.
__ADS_1
Bibinya langsung memeluk tubuh mungil itu dan mengusap air mata yang terus berderai. Kini bibinya mengerti kenapa Clara tidak bisa di hubungi, bibinya pikir Clara sudah melupakan dirinya.
"Maafkan bibi sayang, kamu hilang ingatan, ya Allah Clara, beban mu sangat berat. Sabar sayang semoga kamu bisa melewati masa sulit ini.
Setelah menjelaskan lebih detail kepada Bibinya, Clara merasa hatinya sudah plong tidak terasa berat lagi untuk permasalahan yang ia hadapi sekarang.
Bibinya sangat menyayangi keponakannya, hingga ia terus memeluk Clara dan ikut menangis.
"Clara rasa, bibi harus jawab jujur pada Clara? ucap Clara sambil menyusut air matanya dan menyipitkan matanya ke arah bibi.
"Jujur tentang apa sayang?" jawab bibi terlihat kebingungan.
"Apa, aku bukan anak ayah dan ibu?" tanya Clara melepaskan pelukan Bibinya.
"Apa yang kamu katakan? ini tidak masuk akal?" ucap bibinya gugup ia terlihat berkeringat dan juga matanya tidak berani menatap Clara yang ada di depannya dan ia memalingkan wajah.
Kepalanya menunduk ia tidak berani menatap Clara yang kini sedang melihat ke arah wajahnya.
"Dari mana kamu tau Ra" tanya bibi lagi-lagi memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Clara tau dari mamah dan papah Clara yang asli" ucapan Clara membuat mata bibi melebar ia menohok tidak percaya.
Yang ia takutkan kini sudah terbongkar dengan sendirinya.
"Maafkan bibi sayang, bibi tidak bermaksud untuk menutupi semua ini?" ucapan bibinya membuat Clara enggan untuk marah, mungkin bagi Clara bibi tidak sepenuhnya berbohong kepada dirinya.
"Kita bahas nanti saja Bi, Clara tidak mau membahas semuanya permasalahan ini lagi. Bagi Clara ibu dan ayah adalah orang tua Clara yang sudah merawat dan membesarkan Clara sampai saat ini. Dan bibi tau? Clara punya kembaran yaitu Clery?" ucapan Clara membuat Bibinya langsung melihat ke arah wajah Clara, seprtinya bibi tidak tau tentang masalah ini.
"Apa kamu becanda? bibi tidak tau kamu mempunyai kembaran sayang?" Bibinya langsung memeluk Clara.
__ADS_1
"Clara menunggu penjelasan dari kedua orang tua Clara nanti, biar semua jelas! kenapa Clara bisa di pisahkan dari kembaran Clara" ucap Clara sambil menangis.
"Sudah sayang, mata kamu sudah bengkak, lebih baik kamu shalat dan langsung ngaji, biar hati dan pikiran kamu terasa tenang. Semua masalah yang kamu hadapi pasrahkan kepada Allah?" ucapan bibinya membuat Clara kembali bersemangat.
Kini Clara melangkah ke kamarnya ia langsung menunaikan shalat isya dan terus mengaji. Menurut Clara nasehat Bibinya sama persis dengan alm.ibunya yang kini sudah meninggal.
🌸🌸🌸
Pria misterius itu lebih unggul dari Rey, anak buahnya sangat banyak dan ia bisa menggali keberadaan Clara saat ini. Pria itu tersenyum dan langsung menyuruh anak buahnya menjemput Clara dari kampung, sebelum Rey menemukan Clara.
"Akhirnya gue bisa menemukan mu Clara, ini senjata bagi gue?" ucap pria itu ia langsung berjalan melajukan mobilnya menuju kampung Clara.
Semua lagi berkumpul di kediaman rumah Clery, mereka semua kebingungan di mana Clara sekarang. Rey meminta maaf kepada orang tua Clara. Ia merasa bersalah namun kedua orang tuanya memaafkan Rey, sebagai mana Rey juga dulu memaafkan Clery.
"Apa Clara pergi ke kampung halamannya, ia pasti pulang kampung?" ucap Rey mengejutkan semua orang yang ada di ruang tamu.
Kevin bangkit dari tempat duduk, ia langsung angkat bicara mengenai ucapan Rey.
"Kenapa kita tidak kepikiran kesana? kamu tau kan Rey di mana alamatnya? ayo kita segera ke sana" ucapan Kevin di setujui semua orang yang berada di sana, termasuk Darren.
"Baiklah aku juga ikut ke sana" ucap Clery bersiap untuk ikut ke kampung halaman Clara.
"Kakak juga ikut sekalianz kakak pengen tau kampung Clara dan orang yang telah merawat adik kakak" ucapan Darren membuat orang tuanya bangga.
Akhirnya mereka langsung berangkat menyusul Clara ke kampung halamannya. Semua merasa tenang karena pasti Clara ada di rumahnya.
Rey merasa tidak sabar untuk meminta maaf kepada istrinya.
"Gue harap Clara bisa memaafkan kesalahannya, dan mau kembali ke Jakarta lagi" seru Rey sambil terus menyetir mobilnya.
__ADS_1