Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
Clara marah Season2


__ADS_3

Flashback


Clara hanya menguping dari Kamar sekap, suara Dewi sedang memarahi seorang wanita dan lain bukanlah adiknya sendiri.


Adik dewi yang bernama Yolan mengetahui semua yang pernah Dewi lakukan terhadap Rey, Clery, Kevin dan juga Surya waktu itu.


Anak buahnya langsung menangkap dan menyerahkan-nya ke hadapan sang Bos yaitu Dewi tak lain Kakak Yolan.


Adu mulut di mulai hingga Clara menguping di balik pintu dengan seksama. Begitu juga Izal dan Robby mereka menguping karena memang adu mulut itu sangat sengit.


Tak lama suara tembakan itu terdengar sangat keras dua kali tembakan mengenai Yolan. Dewi tak segan-segan menghabisi nyawa adiknya sendiri karena telah mengetahui semua rahasia busuknya.


Hingga Yolan pun Dewi singkirkan agar aksinya itu tidak di ketahui oleh siapapun. Dewi tak segan membunuh darah dagingnya sendiri yaitu adik bungsunya.


Entah bagaimana kalau misal keluarganya tau, bisa-bisa Dewi langsung di hukum mati.


Tembakan itu mengenai jantung dan mata adiknya, Clara hanya memejamkan matanya dan menangis di balik pintu.


Ingin dirinya menolong kejahatan itu namun, Clara sialnya tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan dan kaki di ikat oleh Dewi.


Kini Clara hanya bisa ngesot ke balik pintu hanya untuk menguping pembicaraan mereka.


"Dewi sangat sadis, entah bagaimana nantinya. Nyawa adik sendiri saja ia lenyapkan. Dewi kamu sudah psykopat yang sangat lihay." Ucap Clara menghembuskan nafasnya berat.


Izal dan Robby, menyangka bahwa yang di lenyapkan Dewi adalah Clara.


Flashback Off


Surya dan Darren terus membuntuti mobil yang kini akan membawa jasad itu ke tepi jurang.


Setelah sampai dengan cekatan mobil yang mereka tumpangi di parkiran yang menurut mereka tidak akan di ketahui oleh para penjaga itu.


Bukit dekat gunung itu tidak seperti hutan ada jalan untuk mobil entah Surya dan Darren juga tidak mengerti dengan lokasi yang mereka tempuh.


Mobil penjahat itu berhenti dan keluar membawa jasad seorang wanita. Surya mengamati rambut baju dan foster tubuh jasad itu yang kini tengah di gendong oleh para penjahat.


Surya mendesah lega, dan tak lupa mereka mem-vidio untuk bukti kuat kebusukan Dewi.


"Itu bukan Clara sebaiknya kita kembali lagi. Siapa wanita itu, Dewi juga bukan." Ujar Darren sambil terus mengamati mereka dari semak-semak.


Mereka pun pergi memasuki mobil dan tancap gas, hati mereka lega dan sangat senang yang mereka pikir Clara ternyata bukan.

__ADS_1


"Siapa dia, kenapa Dewi melenyapkan orang selain Clara? dia benar-benar wanita jahat." Ucap Surya.


"Syukurlah bukan Clara yang di bunuh Dewi, tapi kita harus hati-hati sama Dewi takut dia melenyapkan Clara." Balas Darren.


Mereka pun tiba di tempat sekap lagi dan terus mengamati gerak-gerik penjagaan yang sangat ketat.


Surya sudah gatal ingin menerobos mereka namun takut Dewi nekad membunuh Clara. Jadi mereka harus benar-benar mendapatkan cara untuk nanti mereka membawa Clara dan kedua anak buahnya dari sana.


Setelah itu, anak buah mereka curiga pada mobil yang terparkir di dekat lokasi mereka. Anak buah itu terus mengamatinya.


Hingga mereka berlima langsung menghampiri mobil Surya. Hati Surya dan Darren sangat was-was mereka takut mengetahui semuanya.


Setelah itu, mereka mengendap-ngendap ke balik kaca dan di dalamnya tidak ada seorang pun. Setelah mengelilingi mobil Surya, anak buahnya langsung saja pergi.


"Ini mobil seperti di buang oleh pemiliknya, gue kira ada yang memata-matai." Ujarnya sambil membawa senjata api, mereka langsung pergi lagi dari hadapan mobil Surya.


Untung saja Darren dan Surya cekatan, mereka keluar dan langsung bersembunyi di semak-semak.


"Kita harus lebih hati-hati kepada mereka.


Kalau misal kita ketahuan bisa berabe nih, nyawa Clara pasti terancam." Ucap Darren sambil terus mengamati para penjahat itu.


Di dalam rumah sekapan.


Setelah itu, Clara mencoba melepaskan ikatan di tangannya. Dirinya berhasil melepaskannya lagi. Karena anak buahnya mengikat pakai tali dan bukan pakai borgol lagi.


Clara melepaskan yang melilit di kakinya. Dirinya mendesah lega, karena untuk membuka tali membutuhkan tenaga exstra. Setelah itu Dewi datang dengan membawa pistol di tangannya lagi.


Dirinya berpikir biarkan Clara melepaskan pengikat tangan, lalu dia pergi lagi keluar.


Clara yang melihat merasa aneh, dirinya geram karena Yolan adalah teman semasa kuliah dulu bersama Clara, namun beda jurusan.


Clara meneteskan air mata, dirinya tidak bisa di bayangkan bahwa Yolan akan di bunuh secara brutal oleh Kakak kandungnya sendiri.


Clara menteskan air matanya, ia akan membalas semua kepedihan orang-orang yang Dewi siksa.


Di luar, Dewi lagi berunding untuk membunuh Clara di sebuah bukit tempat di mana mayat Yolan di buang.


"Sebaiknya kita lancarkan saja aksi kita sekarang, takut menunggu lama dan orang-orang tau. Contohnya Yolan sendiri dia malah mau menjebloskan gue ke penjara, sekarang lho siap-siap ke bukit itu, semua lho persiapkan untuk ekseskusi mati Clara di sana, lho mengerti." Ucap Dewi kepada Bos Preman.


"Mengerti Bos, gue ke sana sekarang untuk menata semuanya." Sahutnya dan langsung di ikuti oleh semua anak buahnya.

__ADS_1


Dan sekarang tinggal Dewi dan kedua Preman yang akan membawa Clara ke bukit nanti.


Tangan Dewi mencengkram kertas yang sudah ia tulis untuk misinya membunuh Clara.


"Hari ini lho akan mati Clara, bersiaplah," ucap Dewi penuh keyakinan.


Dia melangkah ke kamar di mana Clara berada, Dewi membawa sebuah pistol. Dirinya tersenyum kecut karena sudah tidak sabar ingin segera melihat Clara nanti sudah tidak bernyawa.


Dirinya membuka knop pintu, namun siapa sangka bogemanlah yang di dapatkan dari tangan Clara.


Hidung Dewi sampai berdarah, anak buah Dewi mau membantunya namun di cegah Dewi. Dirinya akan membiarkan Clara berbuat semaunya sendiri karena beberapa jam lagi Clara akan dia bunuh.


Dewi tertawa sambil mengelap darah yang ada di hidungnya. Dirinya bangkit lalu mendodongkan sebuah pistol.


Clara berdecik kesal, siapa sangka Clara langsung saja menangkis pistol itu dan lagi-lagi pistolnya itu terlempar ke pojokan.


Dewi membulat melihat Clara penuh amarah.


"Kamu Gila Dewi, kenapa adik kandungmu sendiri kamu bunuh. Dia sudah benar akan membeberkan semua tentang kamu yang telah merencanakan pembunuhan. Asal kamu tau, Yolan itu temanku semasa kuliah. Aku baru tau dia adalah adikmu." Geram Clara.


"Stop, dia bukanlah adikku, aku tidak menganggap dia sebagai adik. Dia tega sekali mau menjebloskan aku ke penjara, dan kamu ingat aku tidak segan-segan membunuh orang yang menghalangi jalanku, termasuk adik kandungku sendiri." Teriaknya sambil menunjuk ke arah Clara.


Dalam berbicara Dewi memang senada, kalau misal kepada Clara dia bicaranya aku kamu. Tapi kepada orang yang berbeda lho, gue dan itulah Dewi. Namun sayang sipatnya tidak seperti itu.


"Hentikan kegilaan ini Dewi, kamu gak sadar, suatu hari nanti kamu pasti bakalan gila dan menyesali semua perbuatanmu yang telah kamu ciptakan sendiri. Kedua orangtuamu telah mempercayaimu sebagai Kakak dari Yolan, tapi kenapa kamu malah membunuhnya dengan sangat sadis. Tolong bertaubatlah sebelum kamu menyesali semuanya." Ucap keras Clara.


"Tidak, aku akan tetap seperti ini. Termasuk akan membunuhmu sekarang juga, kamu harus tau Clara nyawamu tinggal menunggu beberapa jam lagi." Ujarnya pede.


Tak di sangka Clara geram dan menendang perut Dewi, hingga Dewi merasakan sakit yang amat di bagian perutnya.


"Ini kan yang kamu mau dariku Dewi, sudah cukup bertaubatlah kamu akan menyesal atas semua yang kamu lakukan." Ujarnya lagi.


"Cih..., siapa kamu? berani sekali kamu mengatur semua hidupku. Kamu ternyata bukan menjadi pelakor saja ternyata, kamu juga seorang wanita gila. Jadi jangan kamu berani menasehatiku." Sahutnya sambil meraba perutnya yang sakit akibat tendangan dari kaki Clara.


Tak lama, Clara geram, dirinya mencengkram kedua pipi Dewi dengan sangat kasar.


"Aku bisa lebih gila Dewi menyiksamu. Bertaubatlah sekarang juga." Bisik Clara ketelinga Dewi sambil mencengkram kuat pipinya.


Kemudian menghempaskan kembali, Dewi melotot dirinya aneh kenapa Clara bisa berutal begini.


"Tidak, aku tidak akan bertaubat hahahha." Dewi malah tertawa, Clara kesal lagi lalu dirinya menjambak rambut Dewi sekencang mungkin.

__ADS_1


"Kamu bakalan mati Clara, jadi sia-sia saja kamu menyiskaku dan pada akhirnya kamulah yang akan mati hahaha." Ucap Dewi, Clara menghempaskan Dewi ke lantai dengan sangat kasar.


Jangan lupa like, komen, hadiah dan vote. Untuk memberi dukungannya.


__ADS_2