Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
Tamparan


__ADS_3

Siang ini, Aku sudah, selesai membereskan semua ruangan keluarga dan ruang tv. Sangat melelehkan, badan yang seharusnya beristirahat dengan damai, bergelut dengan selimbut di ranjang yang empuk.


Tapi ini malah sebalik-nya. Aku tidak mengerti letak kesalahan terbesar Ku pada Mereka Apa.


Semua yang terjadi adalah nasib,mungkin hari ini, esok atau nanti Aku tidak tau. Haruskah Aku bahagia atas pernikahan yang membuat ku menderita begini. Entahlah semoga hari esok menyenangkan.


"Clara, kamu sekarang boleh pulang, sepertinya Anak Saya, akan pulang." Ucapnya pada Clara sambil berlalu pergi.


Dirinya hanya bisa terdiam, jam menunjukan, pukul lima sore. "


"Ah ini sangat melelahkan harus kesana kemari. Mana aku tak tau jalan yang harus aku tuju ke Apartemen." gumam Clara.


"Non, punya uang buat ongkos gak,? nanti Bibi kasih ya buat pulang naik taksi." ucap Bi Sarti sambil menggandeng Clara ke arah kamar-nya.


"Terima Kasih Bi. Nanti kalau Clara sudah pegang uang, Clara ganti." Terang Clara sambil tersenyum bahagia. Karna Bi Sarti ngasih tau alamat Apartemen dirinya.


Rey tiba di Apartemen milik-nya. Dirinyaa sudah tidak sabar ingin mencaci maki istrinya.


Saat pulang, Di apartemen tidak menemukan Clara. Pikir Rey, Clara berjalan-jalan. Tanpa memberitahu kepada-nya.


"Sayang sabar, nanti perempuan itu juga datang dan kamu bebas memaki dirinya." terang Dewi sambil terus memeluk tubuh kekar Rey.


Pintu terbuka, alangkah terkejutnya. Clara melihat Dewi dan Rey lagi bermesraan. Dirinya hanya menundukkan kepala dan memberi salam.


Bukan sambutan baik atau hangat malah caci maki yang di dapat-nya.


"Bagus ya, sekarang kamu bisa bermain sepuas-nya kemana kamu pergi,? tanpa memberitahu ku terlebih dahulu." Ucap Rey penuh amarah dan langsung menyeret Clara supaya cepat membuat makanan untuk mereka.


"Rey, Kamu salah paham sama Aku, dan Kamu tidak bisa seenak-nya kepadaku. Aku bukan wanita yang kau benci Rey. Dan ingat satu lagi Rey, aku habis kerumah Mamah kamu, dan itu Mamah yang menyuruh ku kerja di rumah-nya." Ucap Clara tegas, memberanikan diri untuk membela.


Tapi, lagi-lagi Rey tidak percaya ucapan-nya, dan menampar pipi Clara sangat keras. Dewi yang melihat itu, bersorak girang dan senang.


"Kamu sudah berani melawanku dan berbohong kepadaku Clara. Saat aku mecarimu tadi. Aku tlp Mamah ku, bahwa kamu tidak ada disana." terangnya sambil menunjuk dan memperlihatkan delikan mata yang tajam.


Clara terjatuh, tidak menyangka Mamah mertuanya akan melakukan begini kejamnya.


Clara terduduk dan menangis, menahan sakit hati dan juga sakit tamparan di pipi-nya.


Clara sangat rapuh, dirinya hanya bisa menangis dan menangis.


Membela dirinya hanya menambah kebencian Rey kepada dirinya saja.

__ADS_1


"Rey kamu tega, memperlakukan Aku dengan kayak begini. Aku tidak tau letak salah ku kepada mu di mana Rey." Ucap Clara sambil terisak tangis.


Tubuhnya yang lemah sedikit demi sedikit bangkit lalu pergi kedapur dan segera membasuh wajah-nya ke wastafel, yang mungkin sedikit memar dan merah.


Dirinya hanya bisa pasrah. Dan langsung menyedikan makanan untuk Suami dan pacar suaminya itu.


Di saat Clara sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam. Tiba tiba Clara di datangi Dewi dan berkata.


"Wanita murahan seperti mu, pantas menerima semua ini" Ucapnya sambil melangkah pergi lagi dari dapur.


Dadanya terasa sakit dan juga sesak mendengar ucapan orang yang tidak Clara kenal.


"Ya, Allah semoga saja Aku bisa melewati cobaan yang engkau berikan." Ucap Clara sambil berlalu pergi ke kamar-nya.


Tubuh Clara terhempas ke ranjang milik-nya. Badan yang begitu remuk,cape dan juga sangat lemas.


Kurasa dirinya harus segera mandi untuk melaksanakan shalat magrib.


"Sayang, kita makan yu, aku sudah sangat lapar." ucap Dewi sambil memeluk badan Rey.


Rey hanya tersenyum melihat tingkah lucu Dewi. Mereka akhirnya makan Makanan yang telah di hidangkan Clara tadi.


"Clara merasa sangat lapar hingga dirinya beranjak keluar kamar.


Dada-nya, kembali sesak, dari tadi bergulat di dapur hanya untuk menghidangkan makanan untuk orang lain. Bahkan dirinya hanya di sisakan genangan air Sop yang ada di mangkuk kecil.


"Ya Allah apa yang harus aku makan malam ini. Aku sangat lapar, Clara duduk dan terpaksa makan air Sop dan nasi saja.


Apartemen, terlihat sepi, mungkin Rey mengantarkan Dewi pergi pulang, pikir dirinya.


Tak terasa Tetesan air mata yang sedang makan membasihi Pipi, tak lupa memar yang merah masih menempel di Pipi Clara.


"Pengen istirahat dengan tenang, tapi ada saja kerjaan yang harus di kerjakan lagi." Ucap Clara bangkit dan membawa beberapa piring yang kotor.


******


Hembusan angin malam membuat tubuh Clara merasa kedinginan. Clara lalu, menutup jendela yang terbuka dan membaringkan badan yang sangat cape. Terlelap tidur, tubuh yang sangat lelah dan beban yang sangat berat di pikul-nya.


****


"Sayang, kamu yakin, gak mau nginep di rumah aku.?" Ucap Dewi memohon.

__ADS_1


"Lain kali saja sayang, nanti aku nginep di rumah kamu." Jawab Rey sambil mengecup tangan Dewi.


Hati Dewi bersorak girang, karna separuh hati Rey sudah di rebutnya.


"Hati-hati sayang di jalan-nya" terang Dewi sambil melambaikan tangan ke arah mobil Rey.


Malam yang dingin Rey membuka pintu, sunyi sepi seperti tidak ada kehidupan di Apartemen-nya itu.


Langkah kaki mengarah keruang kamar Clara. Dirinya berdiri di samping ranjang, sambil memperhatikan wajah Clara.


Memar merah meliputi pipi kanan Clara. Lalu, dirinya, melihat tangan yang tadi di hempaskam menampar istrinya itu.


Lalu, Rey melangkah keluar kamar dan langsung ke kamarnya.


"Aku sangat membenci perempuan laknat itu." ucap Rey sambil membuka pintu kamar-nya.


Jam menunjukan pukul sebelas. Clara terbangun terasa tenggorokan-nya sangat haus. Langkah gontay menuju dapur yang remang remang itu. Dirinya membuka kulkas, lalu, menegug Air dingin yang segar itu.


Clara lupa dirinya belum shalat isya, sambil memegang Pipi yang memar itu, Clara merasakan pedih yang sangat amat pedih.


Air mata menetes. Entah obat apa yang bisa menyembuhkan luka di pipi-nya itu.


Terdengar suara pintu Rey di buka, jantung berdegup kencang dirinya hanya bisa mematung, yang di rasakan dirinya sekarang takut Rey akan memarahi dirinya lagi.


Terlihat badan tegap tinggi melangkah menghampiri dirinya.


"Ambilkan aku minum." Ucap Rey sambil duduk di depan meja makan.


Clara langsung mengambil air dalam lemari es, getaran tangan saat menyimpan minuman di depan Rey. Tatapan Rey sangat tajam dan dingin, hingga Clara tidak berani melihat ke arahnya.


"Wanita bodoh, aku hanya ingin minum air biasa bukan air dingin seperti ini." Terang Rey sambil melemparkan gelas yang di sediakan Clara saat itu.


Praaakkk.....


Jantung Clara berdegup sangat cepat, badan bergetar melihat gelas di lempar ke hadapannya.


"Kamu, tidak ngomong mau minum air biasa, jadi aku ambilkan air dingin." Jawab Clara sambil mengambil air biasa dan menaruhnya di depan Rey.


"Jangan berani melawanku wanita sialan." Ucap Rey kasar dan langsung melangkah pergi ke kamar-nya.


Clara hanya bisa menangis, dirinya langsung membereskan hamparan pecahan gelas yang berserakan.

__ADS_1


"Hati ini terlalu rapuh, aku takut Bi, Apa Bibi mendengar ucapan ku saat ini, Clara kangen sama Bibi" ucap Clara sembari mengumpulkan hamparan pecahan gelas.


Air mata yang terus mengalir, hatinya tidak sanggup lagi seatap sama suami yang tidak pernah mencintai dan tidak menganggap dirinya sebagai istrinya.


__ADS_2