
Tamparan yang sangat keras mendarat di wajah cantik Clara. Pipi nya memerah, bibir nya berdarah kepala yang sakit. lengkap sudah penderitaan Clara saat ini.
Melawan pun tidak ada gunanya hanya ada penderitaan, yang di dapat dan siksaan yang membuat dirinya menderita.
Dewi yang melihat Clara sangat kacau bersorak gembira. menurut nya ini pemandangan yang sangat bagus untuk dirinya.
Pikir Dewi, Rey sudah sangat dalam mencintai dirinya, hingga Clara pun di hempaskan dan di siksa oleh Rey di hadapannya hanya, untuk membela Dewi seorang.
Dewi tertawa, bersorak menyaksikan kesekian kali Clara di siksa oleh Rey.
Clara menangis, merintih, darah keluar tak hanya dari bibir tapi dari hidung juga keluar cukup banyak.
Clara terduduk hatinya hancur, Dirinya telah di jebak, oleh cinta palsu, yang membuat dirinya terlena.
Andai waktu bisa di putar kembali, mungkin Clara akan menolak mentah mentah, rayuan gombalan yang Rey lontarkan dulu.
Rey masih memperhatikan Clara, sambil berdiri tegap, dan juga tangan mengepal. Lagi lagi dirinya menampar istrinya itu. Dan ini yang paling parah, hingga keluar darah dari bibir dan hidung.
Dirinya langsung masuk kamar dan membanting pintu.
Clara mencoba berdiri. Lalu Dewi pun menghampiri dengan sangat santay dan tersenyum miring ..
"Kamu akan segera di hempaskan sama Rey. tunggu tanggal mainnya cewek sialan." Ucap Dewi dan berlalu meninggalkan Clara, dan langsung masuk ke dalam kamar Rey.
Clara mencoba berdiri, kaki-nya bergetar, hidung terus berdarah, bibir kesakitan pipi yang lembab membuat dirinya lemah.
saat itu juga Clara mematikan kompor dan langsung masuk ke dalam kamar.
Rey terduduk di pinggir ranjang milik-nya dan langsung mengacak kepalanya frustasi.
Apakah dirinya sudah terlalu kasar kepada wanita itu. Tapi dirinya tidak bisa menahan emosi setiap Clara melawan.
Rey melihat, Dewi menghampiri dirinya, Rey terdiam dan melirik ke arah Dewi.
"Maafkan Aku sayang, lagi-lagi kamu melihat kejadian yang mengerikan." Ucap Rey sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Tidak Apa-apa sayang, yang kau lakukan itu sudah benar. Dia menuduhku seorang PELAKOR dan juga sudah berani sekali kepada ku." Jawab Dewi sambil pura-pura menangis.
Rey langsung memeluk Dewi, begitu senangnya Dewi mengahancurkan rumah tangga mereka. Bukannya Rey meminta maaf kepada Clara. Malah kepada Dewi dirinya meminta maaf.
Clara menangis di atas ranjang, dirinya tidak menyangka Rey akan melakukan hal yang lebih dari kemaren. Dirinya hanya bisa terisak nangis dan menahan pipi serta bibir yang terluka.
"Sudah cukup Rey, Aku tidak mau begini terus, Aku pengen cerai saja. Tapi aku mencintimu, Kamu sudah menjebak ku kedalam cinta yang membuat ku tersiksa begini."
Ucap Clara sambil memegang erat selimbutnya.
Dewi seperti biasa di antar pulang, Rey begitu nurut kepada Dewi, padahal mereka Baru mengenalnya.
Malam ini Rey agak muram tidak seperti biasanya. Habis mengantar Dewi dirinya ke kamar Clara sambil melihat tisu penuh darah, Berkat ulah-nya Clara jadi menderita.
Tapi Di sisi lain dirinya bersorak hore, dendam-nya sudah tercapai. Tapi mengapa dirinya selalu sakit melihat Clara yang sudah dirinya siksa. Hingga Rey tidak mengerti sama perasaan-nya saat ini.
Rey melangkah pergi menuju kamar-nya.
satu photo Clery Rey ambil. Dirinya sukses sama misi-nya. Tapi melihat Clara yang kesakitan membuat dirinya merasa bersalah, tapi lagi lagi Rey tepis bahwa itu tidak benar.
Pagi mengajarkan kita, bahwa sesuatu di awali rasa syukur, dan embun adalah rasa keikhlasan-nya.
Clara membuka matanya, tidak terasa sudah pagi saja. Dirinya langsung membuka jendela, tidak lupa sama pipi yang cenat cenut dan bibir yang sangat sakit. pipi yang memar, mata yang sembab.
Untung dirinya lagi ada halangan hingga bangun telat pun baginya tidak masalah.
Hari ini, Clara tidak mau melihat Rey yang menurutnya sangat menyeramkan melebihi harimau yang gadas.
"Sekarang Aku tidak mau keluar kamar, bodo amat dia mau marah atau apalah itu. Dari pada Aku harus melihat muka yang menyebalkan. Marah-marah tidak jelas, Aku keluar nanti kalau dia sudah pergi kekantor." Ucap Clara sambil terus menggulung dirinya di kasur.
Rey keluar kamar, tapi tidak melihat Clara di dapur, biasanya dia melihat Clara sedang asik bikin sarapan pagi. Walaupun dirinya tidak pernah sarapan pagi bersamanya.
Rey menatap pintu kamar Clara, tapi tidak ada tanda-tanda Clara membuka pintu. Entah mengapa dirinya sekarang merasa khawatir semenjak kejadian semalam.
Dirinya mondar mandir di depan pintu Clara. Mau buka tapi enggan dirinya sangat malu, Rey pun langsung masuk kamar dan langsung membawa tas kerjanya.
__ADS_1
Dirinya pergi, waktu menunjukan pukul sembilan, ini sudah telat untuk masuk kantor, dirinya langsung tancap gas.
Clara merasa lapar, dirinya langsung membuka pintu. Benar saja Rey sudah brangkat, Tanpa peduli sedikitpun kepada dirinya. Clara menghembuskan nafas pelan dan beranjak kedapur mencari sesuatu untuk di makan.
Roti bakar dan juga teh manis sudah jadi, sekarang dirinya sarapan sendiri lagi. Tapi bibir-nya merasa masih sakit, hingga dirinya meneteskan air mata, mau minum atau mengunyah saja perlu kesabaran exstra.
"Aku tidak mengerti, Rey begitu sangat membenciku. Harusnya kan aku yang membenci dia , Karna dia sudah membawa wanita lain dan bermesraan di depan Aku. Dasar laki-laki brengsek Aku membencinya, tapi kenapa selalu tidak bisa." Ucap Clara sambil meneteskan air mata, merasa perih dan juga susah mengunyah makanan.
\*\*\*\*
Di pikirannya sekarang hanya ada Clara, Clara, dan Clara. Dirinya membanting map ke meja dengan sangat kasar. Rambut di acak-acak. Dewi yang menelphone pun Rey abaikan.
Dirinya merasa cemas, selepas pagi tidak melihat Clara, di sekitarnya. Membuat dirinya merasa aneh. Perasaan-nya membuat kacau sama misi yang di jalani-nya.
"Ini tidak benar Rey, Kamu musuh-nya, Kamu tidak boleh memikirkan wanita itu." Ucap Rey sambil memegang pensil dan menatap tajam ke depan.
"Haduh, ini sangat membosankan bagiku. tidur makan, tidur makan. Membuat kepalaku merasa pusing. Apa, Aku harus kerumah Mamah mertua ya, untuk kerja lagi disana." Ucap Clara sambil mondar mandir di depan jendela kamarnya.
tlp berdering, Clara langsung mengangkat, tertera Nama Bibi-nya di layar ponsel, Clara langsung, mengangkat merasa gembira.
"Hallo, Assalamualaikum" ucap Bibi di sebrang tlp.
Clara duduk, dan langsung menghembuskan nafasnya pelan.
"Waalaikumsalam Bi," jawab Clara.
"Kamu, Baik sayang disana? Bibi sangat cemas memikirkan kamu.?" Ucap Bibi.
"Alhmdulillah Bi, Clara sangat baik kok." Jawab Clara sambil memegang Pipi nya yang bengkak.
"Alhamdulillah syukur kalau begitu, Nak Rey gimana Dia sehatkan?" tanya Bibi, Clara sedikit terdiam.
"Alhamdulillah Bi, Rey sangat baik, dan menjaga Clara sangat baik." Jawab Clara.
Seseorang sedang mendengarkan Clara di balik pintu, kebetulan pintunya agak kebuka sedikit. Mendengar itu dirinya merasa bersalah. Bahkan dia tidak menjelekan dirinya, dan tidak menceritakan semua yang terjadi.
__ADS_1