
Suara klakson, terus-menerus terdengar sangat berisik di telinga Rey. Jakarta sangat macet sekali setiap hari, ini tidak memungkinkan cepat sampai rumah.
Tlp terus berdering di saku celana-nya. Rey sangat frustasi, Ia langsung mematikan tlp yang terus-menerus menyala. Ia tau itu panggilan dari Dewi.
"Tidak, bisakah perempuan itu untuk bersabar sedikit, jalanan sungguh macet hari ini sial banget, niat mau nenangin diri. Tapi kenyataan-nya malah sebalik-nya." ucap Rey sambil menjalankan mobilnya cepat.
Akhirnya Rey sampai juga di depan rumah miliknya. Ia langsung keluar dari mobil sambil terburu-buru. Sakit di tangannya tidak ia rasakan lagi, yang ada di pikirannya sekarang Dewi jangan sampai masuk kerumah-nya.
Langkah yang tergesa-gesa, nafas yang ngos-ngosan ternyata ia terlambat Dewi sudah masuk ke dalam rumah-nya.
Melihat kelakuan perempuan itu Rey berdecak sebal dan juga sangat marah. Tapi ia tahan Rey melihat Dewi bersama kedua orang tuanya.
"Apa-apaan perempuan ini, seenaknya membawa orang tua-nya kesini" ucap Rey sambil melangkah maju menghampiri mereka.
Mamah Rey tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, Ia hanya bisa terdiam dan sangat malu. Atas perbuatan anaknya itu.
"Rey sini nak duduk" ucap Mamah Rey dingin, tidak ada kata-kata manis yang terlontar dari mulutnya.
"Sial, Perempuan itu sudah mencuci otak Mamah gue" gumam Rey dalam hati. Tangan mengepal menahan seluruh emosi yang ada di benak-nya.
"kamu harus bertanggung jawab Rey?" ucap orang tua Dewi sambil menatap tajam ke arah Rey.
"Tanggung jawab apa ya Om?" ucapan Rey enteng sambil duduk di sebelah Mamah-nya.
"Kamu, laki-laki tidak bertanggung jawab! anak saya sedang hamil dan itu atas perbuatan mu!" ucap tegas Om Santoso Ayah Dewi.
"maaf, Om itu bukan anak saya" ucapnya enteng dan langsung bangkit dari duduk-nya.
Kedua orang tua Dewi emosi, melihat kelakuan Rey yang tidak sopan kepada mereka.
"Maafkan anak saya, Pak Santoso nanti saya berbicara lagi kepadanya." terang Mamah Rey, sambil menanggung malu.
"Pokok-nya nanti saya bakal kesini lagi dan akan meminta pertanggung jawaban dari anak Tante" ucap Dewi sambil pura pura menangis dan lugu di hadapan mamah Rey.
Mereka pun bergegas pulang membawa amarah yang besar terhadap keluarga Rey.
__ADS_1
****
"Clara, apa kamu baik-baik saja di dalam?" ucap Darren sambil terus mengetuk pintu kamar Clara.
Sedari tadi Clara tidak keluar dari kamar-nya, Membuat Darren khawatir. Ia terus mengetuk pintu kamar, di temani Bi Santi pembantu rumah Darren. Sambil membawa nampan berisi makan siang untuk Clara.
"Mungkin Non Clara lagi tidur Den" ucap Bi Santi menenangkan Darren. Padahal dirinya juga sangat khawatir pada Clara.
"Darren mencoba mendobrak pintu kamar Clara, saat sedang menghentakkan badannya ke pintu kamar, Tiba-tiba pintu terbuka lebar.
Buuugghhh....
Badan Darren terjatuh kelantai, Clara kaget melihat Darren tersungkur. Clara hanya bisa tertawa melihat Darren tersungkur kesakitan di lantai.
"Kakak ngapain nyium lantai" ucap Clara tanpa dosa, sambil terus tertawa.
"Duuhhh..... Sakit banget ni wajah ganteng gini malah nyium lantai" sambil mengelus ngelus wajahnya.
"Haahaa.... lagian kakak tidak sabaran, dari tadi ketok-ketok pintu, berisik tau" ucapnya sambil membungkam mulutnya.
Bi Santi hanya terkekeh melihat kelakuan mereka berdua.
"Maaf kak, Clara tadi ke tiduran, eh malah ngantuk makanya Clara tidur dari tadi hee..." jawab Clara sambil mengahampiri Darren di sofa.
Bi Santi masuk dan langsung menaruh nampan makanan buat Clara.
"Eh Bi, lain kali jangan bawa makanan kesini ya, biar Clara saja yang turun kebawah ngambil makanan. Kasian bibi di repotin terus sama Clara" ucap Clara sambil tersenyum ke arah Bi Santi.
"Jangan gitu Non, Bibi disini kan kerja buat Non, dan juga den Darren. Jadi jangan sungkan untuk hal apapun jika non Clara membutuhkan sesuatu" ucap Bi Santi, dirinya terharu atas ucapan Clara tadi.
"Tidak apa-apa bi, nanti Clara bantuin Bibi di dapur yah? ucapan Clara membuat hati Darren merasa takjub atas prilakunya.
Bi Santi terharu dan langsung permisi kepada Darren dan juga Clara.
Darren menatap Clara dalam, ia sangat beruntung bertemu Clara yang sangat baik dan juga sopan ke semua orang.
__ADS_1
Bahkan Clara mau di belikan baju yang mahal saja dari Darren selalu di tolak, dan lebih memilih baju yang harga nya biasa.
jarang sekali Darren bertemu sama perempuan seperti Clara.
"Eeehhhh.... kok, Kakak malah melamun sih, Ayo makan kak, Clara sangat lapar banget" ucap Clara sambil memasukan nasi ke mulut-nya.
"Aku sudah makan, Kamu makan yang banyak setelah itu, langsung minum obat, nanti kita jalan-jalan ke taman dekat sini, kamu mau? ucapan Darren membuat hati Clara berbunga. Ia sangat suka taman. Entah mengapa Clara juga tidak tau.
*****
tok...tok...tok...
"Rey, boleh mamah masuk?" ucap mamah Rey sambil membuka pintu, terlihat Rey sedang berdiri tegap di jendela kamar, sambil menatap ke arah luar
"Kenapa, Mamah percaya sama omongan perempuan itu sih mah, Rey sungguh tidak melakukan hal yang sangat hina itu" terang Rey tajam, ia sangat marah, Mamahnya begitu sangat percaya kepada Dewi.
"Tapi Rey, dia sedang mengandung anak kamu" ucap mamah Rey hati-hati.
"itu bukan anak Rey mah, Mamah tega banget sama Rey, lebih percaya perempuan gila itu di banding anak mamah sendiri" jawab Rey. emosi. membuat mamahnya menghembuskan nafasnya pelan.
Ia juga merasa anaknya tidak sekeji itu, berbuat kepada perempuan, walau bagaimana pun Rey adalah suami Clara. Masa tega dia jajan di luar. Mana mungkin anaknya berbuat yang tidak terpuji.
"Mamah keluar dulu ya, jaga kesehatan mu dan jangan terlalu di pikirkan, nanti kita sama-sama mencari jalan keluarnya." Ucapan mamah Rey langsung meluluhkan hati Rey yang sedang bergejolak.
Rey terus terdiam, hatinya sangat kesal mengingat kedatangan Dewi kerumah-nya.
Ia lalu, membaringkan tubuhnya, bagi-nya semuanya sangat lelah.
Rey teringat paket yang di bawanya pulang dari cafe, ia bergegas bangun dan langsung menuruni tangga, untuk membawa paket itu dari dalam mobil miliknya.
Sampai di kamar Rey langsung mengambil gunting, ia penasaran paket apa? dan dari siapa paket ini berasal. Tidak berpikir lama Rey langsung menggunting bungkus-nya.
Ia langsung terkejut melihat isi paket itu. Matanya membulat tidak percaya paket yang di terima-nya sangat aneh.
Seseorang pertepuk tangan di dalam mobil, tidak lupa juga masker dan juga topi yang selalu ia gunakan untuk membuntuti Rey.
__ADS_1
pria misterius itu bersorak gembira dua paket telah mendarat di tepat sasaran. Ia tertawa penuh kemenangan.
"gue, membayangkan betapa kagetnya mereka saat membuka isi paket dari gue" ucap pria itu dan langsung melajukan mobilnya.