
Papah Farrel menghampiri Istrinya yang kini sedang memakai tongkat. Winda berhenti sambil membekap mulutnya menangis, ia tidak kuasa menahan sakit di dadanya.
Winda bisa merasakan apa yang di rasakan Papah farrel sekarang ini.
"Winda, kamu jangan tinggalin aku di sini, sudah tau Adikmu ini tidak bisa melihat" ucap Mamah Shiren, sambil mematung dan mengarahkan tingkatkan ke depan.
Ucapan Mamah Shiren membuat hancur hati Papah Farrel saat mendengar Mamah Shiren bicara seperti itu.
Papah Farrel menghampiri istrinya air mata terus mengalir dari pelupuk matanya. Papah Farrel mengisyaratkan pada Winda untuk tidak menyebut Namanya.
Sekarang Papah Farrel memegang tangan istrinya lalu ia menuntunnya untuk berjalan.
"Kau ini, jangan tinggalin aku sendiri Win, aku takut, kamu tau itu. Sekarang kita pulang aku sangat lelah pengen istirahat di rumah" ucap Mamah Shiren sambil di tuntun berjalan sama Papah Farrel.
Winda hanya bisa mengikuti mereka dari belakang, sementara itu, Papah farrel mengajak Istrinya ke taman rumah sakit.
"Win, kok sepi, ini di mana win?" tanya Mamah shiren.
Tersadar Mamah Shiren berhenti melangkah, tangannya yang di pegang bukanlah tangan adiknya. Ia langsung meraba-raba ke area wajah suaminya. Terdapat tetesan air mata dari pipi Sang Suami, Ia baru sadar bahwa yang bersama dengannya bukanlah Sang Adik.
Ia mencium aroma minyak wangi suaminya, lalu Mamah Shiren terperejat kaget, ia baru sadar Papah Farrel-lah yang membawanya.
"Pah" ucapnya lirih.
Papah Farrel tak kuasa menahan rindu dan sesak di dadanya, ia langsung memeluk tubuh sang istri begitu erat, air mata dari keduanya pecah, Winda hanya bisa melihat mereka sambil menangis.
__ADS_1
"Pah, kenapa kamu tau aku ada di sini"? tanya Mamah Shiren, sebisa mungkin ia harus terlihat kuat dan tegar di hadapan suaminya.
Papah Farrel mengusap air mata yang jatuh dari kedua mata istrinya.
"Mata yang sangat indah, kamu tau, aku selalu bilang bahwa aku suka matamu itu" ucap Papah Farrel.
"Hmm, aku tau Pah, mataku cuma aku titipkan pada anak kita, bila nanti kamu kangen sama aku, boleh kamu mengamati mata anak kita" balas Mamah shiren.
"Kau tau, saat Clery membuka mata, akulah yang ada di depan dia, hatiku hancur begitu melihat bola mata yang aku sukai sudah berpindah walaupun aku tau dia anak kita" ucapan Papah Farrel membuat Mamah Shiren terdiam.
Terdengar hembusan nafas berat dan bergetar dari suara Suaminya membuat Mamah Shiren khawatir.
"Untuk apa aku bahagia! sedangkan anak kita patut lebih bahagia dari kita. Kamu bilang bahwa setelah Clery bisa melihat lagi, kamu mau menceraikan aku, maka dari itu, aku cuma bisa menitipkan bola mataku buat anakku, biar mataku selalu melihatmu setiap hari, walaupun sudah beda pemiliknya" balas Mamah Shiren.
"Tidak, aku tidak akan menceraikanmu mengerti!.aku ingin selalu bersamamu" seru Papah Farrel memegang lembut wajah istrinya.
"Aku mencintaimu tanpa syarat, tolong jangan bilang begitu, aku sakit mendengar hal itu" balas Papah Farrel.
"Pah, kebahagiaan anak-anak kita yang utama, kamu harus mengerti akan hal itu, walaupun aku tidak bisa melihat lagi mereka, tapi seenggaknya mereka masih bisa melihatku." Ucapan Mamah Shiren membuat Papah Farrel merasa sedih dan sesak.
Setelah mereka berbincang cukup lama, hal tak terduga datang, Clery mendengar mereka dan menjerit sambil meraba matanya.
Rey mengajak Clery ke taman, dia tidak tau di sana ada Mereka.
Clery hanya bisa terdiam mendengarkan mereka di kursi roda. Tante Winda syok karena tidak tau di belakangnya sudah ada Clery.
__ADS_1
Air mata mengalir deras di pelupuk Mata Clery, ia langsung meminta keruangan lagi pada Rey.
Papah Farrel yang melihat Clery menangis kaget dan tidak tau harus bilang apa nanti kepada anaknya.
Mamah shiren terdiam, ia menatap kosong kedepan.
"Pah, tolong jelasin pada Clery, Mamah nanti menyusul sama Winda" ucapan istrinya di setujui oleh Papah Farrel, ia mengejar Clery yang tengah menangis.
"Tidak mungkin, ini salah pahamkan Rey, mata ini, aku tidak mau, lebih baik aku buta, bola mata ini bukan milikku Rey. Aku telah merenggut kebahagiaan kedua Orangtuaku, tolong Rey operasi lagi ini bukan mataku" Clery histeris di dalam kamar.
Rey hanya bisa memeluknya dengan sangat erat begitu Clery mengetahui semuanya.
Papah Farrel datang, ia langsung berdiri di ambang pintu, ia menangis melihat putrinya mengamuk setelah tau mata itu adalah milik Mamahnya.
"Sekarang aku tau Pah, Papah tidak mau menemui Clery karena melihat bola mata Mamahkan?" Jerit Clery.
"Aku tidak mau melihat dengan cara begini, Mamah kenapa begitu tega sama Clery, Pah! Clery anak jahat, Clery anak jahat" tangisan mereka pecah, Papah Farrel belum bisa menjelaskan semuanya kepada Clery saat ini.
Di Taman.
"Anak itu, dia pasti marah, tapi biarkan saja dia, ayo kita ke sana, ini tidak benar, Clery tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri" ucap Mama Shiren sambil di gandeng Winda.
"Pengorbanan mu begitu besar untuk menembus kesalahanmu Shiren" ucap Winda.
"Tidak perlu cemas, aku bahagia kok agar aku tidak terus-terusan di hantui rasa bersalah pada mereka" ucapan Mamah Shiren enteng.
__ADS_1
Mamah Shiren selalu bersikap tenang walaupun hatinya sangat rapuh, tapi kebahagiaan anaknya nomor satu. Dan dia harus bersikap tenang menghadapi Clara dan Clery nantinya.