
Kini semuanya sedang di perjalanan untuk menjemput Clara dari kampung halamannya.
Mungkin untuk Rey ini bisa perkataan maaf untuk kesekian kalinya. Ia berharap Clara tidak berlarut membenci dirinya.
Tiba-tiba mobil yang mereka yang di kendarai langsung berhenti. Kevin Darren dan Rey langsung turun membuka pintu mobil untuk mengecek mobil mereka. sementara Clery duduk di dalam sambil nyemil makanan ringan.
"Aahh sial, kenapa harus sekarang sih ini mobil mogoknya!" desah Rey sambil memukul mobil.
"Sabar dulu Rey, lagian Clara juga pasti ada di rumah tidak kemana-mana" seru Kevin sambil mengeluarkan peralatan buat mengganti ban yang bocor.
Setelah bergelut membetulkan ban yang bocor, akhirnya mereka selesai dan langsung melanjutkan perjalanan mereka.
Masih dua jam lagi mereka bisa mencapai rumah Clara. Sementara Clery merengek minta makan.
"Aduh, gue laper banget! bisa gak sih kita mampir ke rumah makan dulu?" ucap Clara sambil memegang perut.
"Ya sudah deh kita mampir dulu, kebetulan gue juga laper banget" jawab Kevin, mereka langsung mencari tempat makan yang menurut mereka nyaman.
Sementara di rumah Clara sudah ada pria misterius itu, ia datang dengan alasan membutuhkan asisten pribadi. Kebetulan Clara dengan polosnya langsung mau saja di ajak pria itu, ia tidak curiga kepada pria itu. Dan mungkin juga Clara menerima tawaran ini bisa untuk menjauhi Rey dari hidupnya.
"Kamu kok, tau aku sedang mencari pekerjaan dan kenapa kamu tau aku ada di sini?" tanya Clara sambil menyuguhkan secangkir teh hangat karena memang cuaca di kampung sangat dingin.
"Mungkin kebetulan saja, aku lagi mencari orang di kampung sini untuk aku jadikan asisten pribadiku! kebetulan saja ada orang yang menunjukan aku ke ke rumah ini." Dengan enteng pria itu mengatakan hal yang membuat bibi Clara heran dan penuh curiga.
"Ah kebetulan sekali aku lagi mencari pekerjaan, yang penting aku di gajih sesuai sama pekerjaanku nantinya!" seru Clara merasa senang.
Bibinya cuma duduk diam ia tidak bisa membantah keinginan keponakannya itu. Tak berselang lama menunggu, Clara pamit untuk pergi merantau lagi. Bagi bibinya Clara terlalu percaya, bibinya enggan melarangnya, karena mungkin saja bisa membuat hati Clara sedih lagi.
"Mohon jaga Clara di sana?" ucap bibi Clara pada pria misterius itu.
"Baiklah, tidak usah khawatir aku orang baik tidak akan memperkerjakan orang semena-mena. Baiklah kami pergi dulu, Karena memang saya sangat buru-buru.
Akhirnya Clara ikut bersama pria itu, dengan alasan untuk menjadi asisten dengan gajih yang cukup tinggi. Semua ini membuat bibinya tidak enak hati, menurut bibinya Clara salah, dia belum menyelesaikan permasalahannya. Tapi kenapa dia mau di ajak bekerja secara mendadak sama orang yang tidak di kenal ia malah langsung mau.
"Mudah-mudahan kamu di lindungi dari orang yang berniat jahat Clara! ini sungguh aneh dan tidak masuk akal. Kenapa kamu mau di ajak sama orang itu, perasaan bibi jadi tidak enak hati." Ucap bibi sambil melihat mobil yang kini kian menghilang dari pandangannya.
🌸🌸🌸
Di perjalanan Clara merasa senang karena untuk menghindari Rey telah berhasil dan juga ia bisa membantu perekonomian bibinya di kampung. Membuat Clara lupa akan segala permasalahan yang ia hadapi.
"Apa kamu lapar? ucap pria itu.
__ADS_1
"Kurasa aku belum lapar pak? eh aku harus panggil apa?" seru Clara di dalam mobil.
"Kamu panggil aku Surya, jangan panggil aku Pak karena umurku masih agak muda" ucapan Surya membuat Clara tertawa.
"Kenapa kamu menertawakan saya? apa ada yang lucu?" seru Surya membuat Clara berhenti dari tawanya.
"Akhem, oke aku akan panggil kamu Surya, tapi mohon maaf kelihatannya kamu sudah agak tua sedikit!" ucap Clara sambil tersenyum ke arah Surya.
"Ah sial, wanita ini membuatku tidak karuan, ada apa ini, aku harus fokus sama tujuan utamaku, kenapa debaran jantungku tidak terkontrol melihat wajah wanita sialan ini." Ucap Surya dalam hati. Ia langsung memalingkan wajahnya kedepan sambil terus menyetir mobil.
"Heemm, aku sangat lapar Surya? kita mampir ke tempat makan dulu ya? oh ia aku tidak punya uang. Bisakah kamu bayarin makanan aku dulu? maksud aku, aku kasbon sama kamu?" hee..hee.. seru Clara sambil melirik ke arah Surya.
"Hemmm, nanti kita ke restoran di depan sepertinya ada restoran. Kalau kamu lapar boleh makan banyak jangan mikirin kasbon dulu, kerja saja belum." Ucap Surya ketus
Clara cuma bisa mengangguk, sepertinya Clara melihat Surya tipe orang yang baik, tapi dia sangat dingin.
"Kita sudah sampai lho kok malah tidur si wanita ini? Surya memperhatikan wajah Clara saat tertidur pulas. Ia mengurungkan niatnya untuk menyakiti Clara, tapi ia mengingat Rey. Ah sial kenapa gua jadi bimbang kayak begini sih? Clara sangat cantik beruntung sekali Rey mendapatkan Clara." ucap Surya sambil memperhatikan wajah Clara.
Seketika Clara bangun, ia terkejut melihat wajah Surya ada di hadapannya.
"Ih Surya kamu, ngapain dekat-dekat?" seru Clara sambil mendorong tubuh Surya.
"Ih, parah sekali kau, katanya tadi jangan memikirkan soal gajih, tapi nyatanya gajih aku mau dia potong." Clara berdecak kesal sambil membuka pintu mobil.
Ia melangkahkan kakinya ke restoran, matanya menohok kaget, Clara di bawa ke restoran mahal. Clara menelan salivanya dengan susah payah, ia pikir gajihnya bakal di potong gede sama bosnya ini.
Surya terus melangkah sambil memilih tempat duduk yang menurutnya nyaman. Clara berada di posisi belakang, tiba-tiba Surya berhenti badan Clara langsung menubruk tubuh tegap Surya.
"Aduh, kamu ini kenapa sih, berhenti mendadak, jadikan kayak gini kepalaku sakit" seru Clara sambil mengelus kepalanya.
"Siapa suruh ngikutin dari belakang, harusnya kamu ada di pinggir aku?" ucap Surya sambil terus memperhatikan Clara yang kini sedang mengelus kepalanya, karena kena benturan badannya.
"Ah sudah ayo kita duduk di sana?" ucap Surya sambil menarik tangan Clara.
Clara berdecak kesal, karena perlakuan majikanya yang menurut Clara menyebalkan.
"Oh ia, aku tidak pas deh panggil kamu? hemm, aku panggil bos saja ya?" ucap Clara memohon.
"Terserah apa mau saja, yang penting kamu bekerja dengan baik dan giat?" Seru Surya sambil memijit keningnya. Ia heran kenapa bisa ia membawa wanita yang membuat Surya agak stres di buatnya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Sedangkan Rey, Kevin, Darren juga Clery mereka baru sampai di rumah Clara yang saat ini terlihat sederhana dan kecil. Mereka langsung turun, Rey langsung mengetuk pintu rumah, hatinya sungguh sudah tidak sabar.
"Semoga saja yang membukan pintu Clara" gumam Rey, sambil di tepuk bahunya oleh Kevin sambil tersenyum.
Pintu terbuka, alangkah terkejutnya bibi Clara melihat kedatangan Rey bersama orang banyak.
"Clara kamu kok balik lagi?" ucap bibi langsung memeluk Clery. Mereka saling menatap heran.
"Bi, ini Clery bukan Clara!" sontak saja ucapan Rey membuat bibinya langsung melepaskan pelukannya.
"Bukannya Clara ada di sini bi??" tanya Rey heran sambil menatap penuh harap ke arah Bibinya.
"Mari kalian masuk dulu, bibi sangat kaget atas kedatangan kalian ke sini! ternyata benar apa kata Clara, dia punya kembaran!" terang bibi sambil terus menatap wajah Clery.
Clery berpikir Clara sudah menceritakan semuanya kepada Bibinya ini. Membuat hati Clery bahagia, ia melihat kesekeliling terdapat Poto Clara bersama kedua orang tua angkatnya.
"Bi, Clara mana?" ucapan Rey sontak membuat bibinya bingung harus mengatakan apa pada mereka.
"Clara pergi, dia di ajak bekerja sama seorang pria!" jawab bibi sambil melihat wajah Rey dengan raut wajah kecewa.
"Siapa orang itu bi?" seru Rey panik
"Bibi juga tidak tau nak Rey!" ucapan bibinya membuat Rey melemas seluruh badannya.
Rey langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya, Ia memperlihatkan Poto pria misterius itu kepada Bibinya.
"Apa orang ini yang mengajak Clara?" tanya Rey penasaran sama jawaban bibinya.
"Iya betul, dia orangnya!" jawaban bibinya membuat semua orang terkejut begitu juga Darren.
"Coba sini Rey gue liat?" ucap Clery sambil mengambil ponsel Rey.
Mata Clery melebar bulat, ia terkejut melihat wajah Surya. Ia baru sadar ternyata pria misterius itu adalah Surya yang ia kenal.
"Kamu kenapa Rey tidak memberitahuku soal pria ini?" tanya Clery sontak saja membuat yang ada di ruang tamu melihat ke arah Clery barengan.
"Apa lo mengenalnya?" tanya Kevin sambil meraih ponsel Rey dari tangannya.
"Iya gue kenal dia? jawab Clery sambil mendengus kasar.
"Gue lupa cerita sama lo Ry, kalau seandainya gue cerita sama lo mungkin gue gak bingung sama ni orang." Seru Rey, baginya ini sangat mengejutkan bahwa Clery mengenal pria misterius itu.
__ADS_1