
Surya menjalankan mobilnya, membawa sulut emosi. Ia tau siapa yang telah membantai sodaranya itu, tatapan tajam lurus kedepan Surya emosi. Rahangnya yang panjang mengeras sulut emosi sudah ada di benak dirinya.
Selang beberapa jam, Surya sudah berada di depan rumah milik Dewi dan David. Ia langsung langkah seribu, hatinya memburu. Dirinya masih tidak percaya atas perlakuan Dewi yang sadis membantai 4 nyawa sekaligus yang sekarang mengalami kritis.
Gedoran Pintu memburuh, membuat David dan Dewi yang sedang duduk santai di ruang tv merasa kaget. Dewi menyuruh david untuk segera membukakan pintunya.
"Sialan ke mana mereka," desis Surya sambil terus menggedor-gedor pintu sodaranya itu.
Selang beberapa menit, pintu terbuka dan terdapat wajah David.
Buuugghhh.....
Pukulan melayang ke arah wajah David. Dewi menjerit dan langsung lari ke arah mereka.
"SURYA," teriak Dewi.
Surya tidak menghiraukan teriakan Dewi, ia terus meninju wajah mulus David.
"Stop Surya," lho apa-apaan!" teriak David.
"Jangan pura-pura tidak tau, kamu sama Dewi berencana membantai Clery dan Rey. Lho tau Bayi mereka menjadi korban, yang seharusnya bulan depan mereka lahir. Tapi terpaksa mereka di angkat dari rahim Orangtunya hingga mereka kritis di ruangan Bayi dan membutuhkan perawatan khusus. Termasuk Rey dan Clery mereka lagi koma akibat pembantaian yang kalian lakukan," ujar Surya keras.
"Gue tidak sejahat itu, dan gue sudah. bertaubat setelah kejadian beberapa taun silam." Terang David.
Dewi menohok tidak percaya, Surya langsung mengetahui semua aksinya malam tadi. Ia sedikit khawatir dan takut ketauan, tapi ia agak tenang karena pisau dan baju semua mobil yang dirinya pake malam tadi. Sudah di amankan dan tidak akan ada yang tau di mana semua bukti itu.
Tapi ia khawatir karena suaminya menjadi sasaran Surya.
"Surya stop, kita sudah tidak ada lagi masalah terutama sama mereka. Kamu jangan seenaknya menuduh kita yang jelas tidak kita lakukan." Teriak Dewi pura-pura tidak tau.
"Diam kamu, sebaiknya kamu mempersiapkan diri untuk segera di hukum mati," ucap Surya.
"Itu tidak akan terjadi karena bukan kita pelakunya. Lagian kita sudah lama tidak bertemu Rey lagi," ucap Dewi santai.
"Surya kau harus tau itu, kita juga sudah lama tidak bertemu mereka dan tidak tau kabarnya juga." Balas David bangkit dari lantai setelah tadi kena tinjuan Surya yang amat keras. Hingga hidungnya keluar darah.
Namun hal itu tidak membuat Surya merasa kasian atau percaya atas ucapan mereka. Surya bersikeras untuk mengungkap semua kejahatan mereka.
Asal kalian tau, gue akan segera mengungkap semua kasus kalian ini biar gue tenang kalian sudah mendekap di penjara CAMKAN ITU!!" keras Surya berteriak.
__ADS_1
Lalu ia pergi meninggalkan rumah mereka.
David lagi-lagi menjadi sasaran Surya untuk kedua kalinya.
"Kau yang merencanakan semua ini." Tanya David tajam kepada Dewi.
"Kok kamu malah nuduh aku sih," sewot Dewi.
"Bukan aku yang menuduh tapi aku cuma nanya sama kamu, kalau misal ini semua ulahmu. Tak segan-segan aku akan membunuhmu." Ancam David tajam dan langsung meninggalkan Dewi yang mematung.
"Bagimana mungkin dia membela mereka, sialan gue harus hati-hati nih sama mereka," ucap Dewi kesal.
Tak berselang lama, ponsel Dewi bergeming. tertulis nama anak buahnya menghubungi dirinya.
Setelah itu, Dewi mengangkatnya dan langsung memutar bola matanya malas.
"Pokoknya jaga dia, jangan sampai dia kabur." Ucap Dewi, ia pun langsung menutup ponselnya kembali.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit.
Dirinya berpikir, akhir-akhir ini. Dirinya selalu melihat sesuatu yang akan terjadi.
Clara langsung terbangun dan tersenyum ke arah Ibu Farrah.
"Bu, aku kok sering melihat sekelibat bayangan. Seperti tadi malam, Clery sebelum koma, aku melihat dia lagi dalam bahaya. Dan sekarang Aku melihat sekelibat lagi, bayangan pria yang sedang dalam kesusahan mencari bantuan.
"Mungkin itu, efek kamu kecapean atau kelelehan. Sebaiknya kamu tidur sekarang." Usul ibu Farrah.
Clara terdiam, dan ia pun langsung tidur kembali untuk istirahat.
"Iya Bu, mungkin saja benar." Ucap Clara.
🌾🌾🌾
Di tempat lain. Tepatnya di gedung, seorang pria berusaha untuk melarikan diri. Namun ia lagi-lagi gagal, setelah berbagai acara yang ia lakukan. Akhirnya ia bisa melepaskan ikatan pada tangannya.
"Piiuhhh, untung bisa lepas kalau enggak. Bagaimana nasibku kedepannya, Siapa orang yang telah melakukan penculikan ini,?" ucap Kevin masih bertanya-tanya.
__ADS_1
"Bagaimana mereka kabarnya, aku ingin kumpul lagi bersama mereka. Setelah beberapa tahun lalu gue bertemu sama mereka di acara pernikahan Rey." Ucap Kevin, namun hal tak di sangka ia malah kehilangan kontak mereka, terutama Clara.
Tak berselang lama, Dewi menghubungi anak buahnya. Ia memerintahkan untuk lebih ketat menjaga Kevin dan jangan sampai dia lolos.
Kevin lagi mundar-mandir. Dirinya berpikir bagaimana caranya untuk bisa lepas dari genggaman penculik ini. Tak berselang lama, semua anak buahnya datang dan langsung memborgol kembali Kevin. Mereka mengetahui Kevin sudah lepas dari tali yang melingkar di tangannya.
"Lepasin gue, pokoknya kalian harus memberitahu. Siapa yang telah menculikku selama 2 minggu ini? kalian tidak kasian sama Orangtukau pasti mereka sedih." Ucap Kevin menangis.
"Diam kamu, kami di perintahkan untuk menculikmu. Jadi ikuti saja aturannya." Jawab preman.
"Ahhhh terserah kalian. Kalau begitu, kalian harus mau mengantarkan ku ke dalam WC. ayo cepat aku pengen buang air besar." Ucap Kevin mengerjai mereka.
"Bagaimana ini bos, pasti bau kalau kita ikut ke dalam Wc." Ucap salam satu anak buah mereka.
"Lho cuma anterin doa ke depan WC saja. Ngapain kamu ikut ke WC-nya juga." Balas bos preman.
"Baik, bos. Ayo kamu ikut saya ke WC, dan jangan macem-macem sama saya." Ketus anak buah preman.
Setelah tiba, di WC. Kevin menyuruh, anak buah preman itu untuk mencebukin dirinya. Melorotin celananya dan semuanya preman itu yang lakuin. Membuat anak buah preman ngambek dan dan gak mau lagi menculik orang seperti Kevin.
Setelah mereka sudah beres, Kevin di kurung lagi di kamar. Tangan masih di borgol oleh mereka.
"Bos, gue kapok. Gak mau culik itu orang, masa gue nyebokin dia, melorotin celananya dia jijik banget." Ucap anak buah preman.
Bos preman itu, terlihat berpikir dan ia langsung menghubungi Dewi si bos besarnya.
"Hallo, Bos. Bagaimana ini, orang yang kita culik menyusahkan saja di sini." Ucap sang penculik protes pada Dewi.
Preman.
"Lho, jagaian dia doang masa gak becus. Kalau lho gak mau, biar gue cari preman yang lebih handal. Mau lho gue ganti dan kembalikan uang yang telah gue kasih sama kalian." Ancam Dewi pada preman itu.
Dewi.
Sambungan telephone-nya mati, dan semua preman di sana mendengus kesal.
"Bisa-bisanya gue menculik orang yang menyusahkan kita di sini." Omel penculik itu sambil mengacak rambutnya.
"Pokoknya, bos. Harga diri seorang preman jadi turun akibat ulah si cowok itu." Celetuk anak buah Preman.
__ADS_1
"DIAM," teriak Bos preman.