Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
Nenek sihir datang mengacau season2


__ADS_3

Malam ini sesi pernikahan Clara dan Surya sudah selesai, semua keluarga besar lagi berkumpul.


Semua orang merasa bahagia atas pernikahan mereka berdua, tak di sangka suara menggelegar terdengar sangat menyeramkan.


Wanita paruh baya dengan tajamnya melihat ke arah Clara, ia menunjuk mata memerah dan juga ucapan sumpah serapah yang di lontarkan dari mulutnya.


Clara, Surya pun kaget ia tidak tau wanita paruh baya itu siapa dan kenapa sangat marah ketika melihat wajah Clara.


Ia berjalan ke arah Clara, terlihat Papah,mamah, Clery dan juga Darren sangat cemas. Mereka terdiam tidak bisa berucap apa-apa.


"Anak sialan, pembawa sial, harusnya kamu mati sejak lahir. Dan kenapa juga shiren kamu membohongi mamah soal anak pembawa sial ini? kalian semua sudah berkhianat, menyembunyikan identitas anak pembawa sial ini." Ucapan itu membuat sakit di relung hati Clara termasuk mamahnya.


Tubuh Clara bergetar hebat, bibirnya berkatup, matanya berkaca-kaca, ia langsung menumpahkan air mata yang sangat deras.


Bibi Clara langsung merangkulnya termasuk suaminya Surya. Mereka bertanya-tanya ada apa dan kenapa.


Ibu Surya hanya bisa bengong melihat kejadian perkara ini, ia langsung berjalan menuju menantunya.


Mamah shiren langsung meminta maaf pada Clara, namun Clara terus menangis dan juga tidak bisa berucap sepatah katapun, ia hanya bisa mengepalkan tangannya sangat erat pada gaun yang ia kenakan.


"Mah cukup, Clara bukan anak pembawa sial, dan stop membenci adiknya Clery." Ucap farrel ayah Clara.


"Tidak, dia bukan adik kembar Clery, dia anak pembawa sial dan bencana di rumah ini. Sekarang kamu pergi, jangan pernah kamu datang ke sini lagi." Ucap nenek Clery melotot tajam sambil menunjuk ke arah Clara yang kini sedang menangis.


"Tolong bawalah Clara dulu Surya, bawa dia ke rumah mu, nanti semuanya akan mamah jelaskan" Ucap mamah shiren menangis.


Clara bangkit, hatinya tidak boleh lemah, ia tidak mau lagi di injak sama siapapun termasuk neneknya sendiri.


"Cukup, semua sudah jelas, kenapa aku di buang dan di rawat sama orang lain yang bukan darah dagingku sendiri. Sekarang aku mengerti, ternyata aku bukan anak yang di harapkan di dunia ini, jika nenek tidak menganggapku sebagai cucu mu, oke tidak masalah, tapi jangan pernah menghinaku sebagai anak pembawa sial camkan itu." Ujar Clara air mata terus berderai, ia keluar rumah menggandeng bibi dan juga Surya.


"Satu lagi, aku tidak butuh liontin ini, sudah cukup hinaanku ini, aku memang bukan anak kalian. Orang tuaku sudah meninggal, dan sekarang aku hanya punya bibi satu-satunya, terima kasih sudah baik kepadaku." Seru Clara sambil melepaskan liontin pemberian ayahnya.


Ia langsung keluar membawa luka hati yang mungkin lebih parah dari sebelumnya. Bagi Clara ia hanya anak yang tidak di harapkan dari keluarga mamah shiren, sungguh malang nasib bagi dirinya.


"Clara" ucap bibi


Clara masih menangis, Terlihat wajahnya sangat kacau membawa luka untuk kesekian kalinya.


"Sayang, coba sini lihat, kamu masih punya aku suamimu, Ibu mu, dan juga bibi." Ujar surya Sambil memeluk Clara.

__ADS_1


Terlihat Ibu Surya tersenyum dan langsung merangkul Clara.


"Sayang, sudah jangan menangis, kita lupakan masalah yang tadi, anggap saja tidak pernah ada, ayo kita pulang." Ujar ibu Surya langsung mengusap air mata Clara.


"Kalian sangat baik, bisa menyayangi Clara dengan sangat lembut, saya titip Clara, hanya kalian yang bisa menjaga keponkanku." Ucap bibi Clara menangis.


"Saya ibu bagi Clara dan Surya adalah suaminya, sudah sepantasnya kita menyayangi-nya sepenuh hati." Jawab ibu Surya bijak.


"Ayo kita pulang, jangan terlalu di pikirkan, pokoknya kamu jangan menangis lagi sayang, aku tidak mau kamu menangis begini." Ujar Surya menggendong Clara ke dalam mobil.


"Surya ibu sama bibi pakai mobil itu saja, kalian pergi berdua saja oke." Ucap ibu Surya di iringi dengan kedipan mata.


"Baiklah Bu" ucap Surya langsung masuk ke dalam mobil.


Clara masih melamun, tatapannya kosong, air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.


"Surya, terima kasih sudah bisa menenangkan-ku, termasuk ibu, aku sangat beruntung punya suami seperti mu. Namun aku tidak mengerti kenapa nenek sangat membenciku, apakah aku anak yang tidak di harapkan di dunia ini.?" Tanya Clara sambil menangis.


Surya langsung berhenti di pinggir jalan, ia langsung membalikan badannya ke arah Clara. Ia mengusap air matanya dan langsung memeluknya.


"Kamu jangan pernah bicara seperti itu, nanti kita cari tau, kenapa nenek sangat membencimu. Jangan terlalu di pikirkan, sekarang kamu sudah punya aku, coba sini lihat wajah cantik mu jelek bila menangis. Aku mencintaimu Clara." Ucap Surya ia langsung ******* bibir mungil Clara.


🌸🌸🌸


Di rumah Clery menangis, ia di peluk Rey, pertengkaran hebat di rumah ini membuat Clery syok dan tidak menyangka.


"Pokoknya kamu dan Rey tidak boleh bertemu sama anak sialan itu, bisa-bisanya kalian menyembunyikan Clara saat pernikahan Clery." Ujar nenek Clery sambil duduk manis di sofa.


"Mah, Clara anak kita, dia bukan anak pembawa sial, setelah sekian lama kita mencarinya dan sekarang kita sudah kumpul bersama lagi, kenapa mamah memisahkan kita lagi! apakah itu tidak cukup menyiksa istriku shiren." Ujar Papah Farrel marah besar.


"Tidak pokoknya mamah tidak suka anak itu, dia pembawa sial dan bencana di keluarga kita." Seru nenek Clery mengamuk dan meninggalkan rumah Clery.


"Clara pasti membenciku, dia sangat terluka atas ucapan mamah tadi bahkan dia mengembalikan lagi liontin ini." Seru mamah shiren sambil terus memegang liontin punya Clara.


Clery menangis melihat mamahnya terus menangis, Papahnya hanya bisa menenangkan shiren. Tapi hatinya terluka parah, ia cemas akan di benci anaknya sendiri.


"Sebenarnya ini kenapa mah, kenapa nenek sangat membenci Clara? pah tolong jelaskan sama Clery?" tanya Clery menangis, Rey langsung memeluk Clery sambil mengusap punggungnya sangat lembut.


Mamah shiren langsung mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk sambil menangis.

__ADS_1


"Maafkan mamah sayang" mamah shiren menangis lagi.


Clery langsung beranjak pergi ke kamarnya bersama suaminya Rey. Di kamar Rey mencoba menenangkan Clery.


"Aku tau Clery, kamu pasti terluka, aku ada untukmu." Clery menangis lagi ia langsung memeluk Rey


"Kenapa nenek begitu membenci kembaranku, aku sungguh sakit melihat adikku Rey, dia pasti terluka sangat parah. Sudah puluhan tahun kita terpisah, dan saat ini kita sudah bersama lagi, tapi apa, dia di hina sama neneknya sendiri." Ujar Clery menangis di pelukan Rey.


"Besok kita kerumah mereka, mudah-mudahan Clara tidak marah." Ujar Rey menenangkan istrinya, Clery mengangguk tanda setuju.


🌸🌸🌸


Di mobil Surya sudah berhenti melepaskan cium*n pertamanya untuk istrinya. Ia begitu sangat senang, karena Clara juga menyukainya.


"Mulut laknat mu membuat lipstik-ku berhamburan ke sana ke mari Surya." Seru Clara sambil mengelap bibir seksinya.


"Ha...haa, Tapi kamu juga menyukainya kan?" tanya Surya menggoda sambil mencolek dagu Clara.


"Ih apaan sih genit banget jadi pria" ucap Clara


"Aku suamimu, aku genit juga sama istri sendiri ini kok." Ujar Surya sambil terus menatap Clara.


"Ayo kita pulang, aku sangat lelah sekali" ujar Clara.


"Ya sudah kita pulang, aku juga sudah tidak sabar" seru Surya menggoda Clara


"Tidak sabar untuk apa? cepat jalankan mobilnya, badanku sangat cape dan pengen mandi air hangat." Ujar Clara sambil memanyunkan Bibirnya ke arah Surya.


"Tidak sabar untuk tidur sama kamu, aku juga pengen mandi, kita mandi bareng." Seru Surya sambil menatap lembut ke arah Clara.


Sontak saja ucapan Surya membuat Clara begiding ngeri.


"Ih kamu mesum banget sih Surya" Seru Clara sambil mencubit pipi suaminya.


"Haa..haa, kamu sangat menggemaskan sayang, ayo kita pulang." Ujar Surya sambil mencium bibir Clara sekilas.


"Surya kamu sangat menyebalkan sekali" teriak Clara.


Surya sangat senang, akhirnya Clara tidak berlarut dalam kesedihannya.

__ADS_1


__ADS_2