Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
Suara itu ?? Season2


__ADS_3

Di dalam mobil Surya dan Darren masih mengamati dan merancang misinya untuk nanti membawa kabur Clara.


"Apa lho beneran tidak punya pacar,?" tanya Surya pada Darren.


Terlihat wajah Darren yang terkekeh geli mendengar ucapan Kakak iparnya.


"Gue belum memikirkan hal itu, dan tentunya sangat sulit jatuh cinta kepada seorang wanita. Kau tau aku hanya fokus kerja saja." Balasnya enteng.


"Jangan terlalu serius, siapa tau nanti lho jatuh cinta kepada seorang wanita." Ucapan Surya membuat Darren terkekeh lagi.


"Aku hanya ingin punya pendamping hidup yang tidak memandang dari harta saja. Ketulusan, kejujuran dan kesetiaan yang gue cari. Siapa tau sosok pendamping gue nantinya sama dengan kelakuan adik gue Clara." Ujarnya melirik ke arah Surya.


"Hahaha, jangan-jangan lho suka sama istri gue lagi," desak Surya.


"Tidak, gue hanya ingin mencari sosok wanita seperti adik gue. Lho juga taukan Clara banyak di kagumi sama sipat dan prilakunya yang sangat baik. Hhmm entahlah aku belum memikirkan hal itu, bagiku kerja saja dulu, di jaman sekarang banyak wanita yang matre aku gak suka." Ucap Darren sambil merebahkan badannya pada jok mobil.


"Semoga saja lho cepat dapat perempuan yang baik, ingat jangan terlalu fokus sama kerjaan. Gue contohnya menikah di usia 30 tahun tapi gak terlalu kolot juga, bukti nya gue mendapatkan Clara yang jauh lebih muda. Tapi kita serasikan hehehe." Ucap Surya sambil terkekeh.


"Hmmm, serasi," jutek Darren.


Surya hanya bisa terkekeh geli mendengar balasan dari mulut Darren.


Tak lama, Darren mendapat telephone dari Papah Farrel.


"Hallo, Pah." ~ Darren.


"Darren, malam ini Papah menginap di rumahmu saja, apa kamu sudah pulang,?" ~ Papah Farrel.


"Belum Pah, Darren masih di luar kota." ~ Darren.


"Baiklah, Papah ke rumah mu sekarang," ~ Papah farrel.


Setelah itu, percakapan mereka terputus. Darren menghembuskan napasnya kasar, dan mengusap wajahnya.


Darren mengerti ucapan Papahnya menginap di rumah miliknya, itu tandanya hubungan dengan Mamah Shiren lagi tidak stabil.


"Ada apa,?" tanya Surya.


"Hanya hal kecil," balasnya sambil memejamkan matanya.


Darren berharap sikap Mamahnya bisa berubah.


🌾🌾🌾

__ADS_1


Di tempat sekap Clara.


Dewi datang lagi, membawakan makanan untuk Clara dan kedua bodyguardnya. Dewi berharap dirinya harus pura-pura baik sementara waktu, sebelum dirinya membunuh Clara.


"Tinggal menghitung hari Clara bisa hidup, malam ini aku bawakan makanan buatmu, sebentar lagi kamu tidak bisa memakan makanan yang ada di dunia ini hahahah." Dewi tertawa keras. "Tidak masalah Clara kamu telah merusak rambutku. Karena suatu saat nanti kamu bakalan mati," ucapnya lagi sambil berjalan ke arah kamar sekapan Clara.


Dewi membuka pintu secara kasar, Clara yang sedang tidur kaget melihat Dewi membawakan hidangan makanan.


Clara memutar bola matanya malas, dia sudah tau apa yang membuat Dewi terlihat agak baik di depannya.


Dirinya bangun dari tidurnya, kemudian Clara mengehembuskan nafasnya pelan.


"Lepaskan borgol ini, aku tidak bisa makan kalau tanganku di ikat begini." Ucap Clara sambil menyenderkan badannya ke dinding tembok.


"Baiklah Clara sayang, silahkan kamu makan sepuasnya. Aku tau kamu pasti sangat laparkan," ucapnya so manis sambil membuka borgol di tangan Clara.


"Kedua Bodyguardku sudah kalian kasih makan belum,?" tanya Clara memastikan.


"Kamu jangan risau mereka sudah aku kasih juga kok. Sekarang kamu makan, oh iya aku pergi dulu hahahha." Ucap Dewi sambil tertawa.


"Dia sudah gila sama halusinasinya sendiri," ucap Clara sambil mengambil botol air mineral.


Tenggorokannya sangat kering efek kehausan, tangan bekas sayatan Dewi masih terasa nyeri. Namun Clara tahan, dirinya hanya memikirkan bagaimana bisa menyadarkan Dewi saat ini.


🌾🌾🌾


Clery sudah bersiap untuk pulang ke rumah suaminya yaitu Rey. Wajahnya berbinar karena dirinya merasa sudah menjadi milik Rey seutuhnya.


Andai Clery tau, bahwa cinta Rey padanya hanya seujung kuku. Dan lebih besar cintanya kepada Clara, yang kini sudah menjadi milik Surya seutuhnya.


Rey sangat terpukul dan menyesal karena sudah menyia-nyiakan cinta Clara dulu. Dirinya menganggap bodoh, dan sekarang Rey benar-benar tersiksa sama perasaannya yang kini hanya di pendam dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Pandangan Rey kosong, dirinya membayangkan bahwa Clery itu adalah Clara yang dulu pernah bersamanya.


Senyum wajah berbinar dari wajah Rey membuat Clery jadi salah tingkah di buatnya.


Wajah cantik Clery merona di buatnya.


Andai Clery tau bahwa cinta Rey hanya untuk Clara dan yang dia lihat adalah Clara dan bukanlah Clery. Mungkin Clery sudah membuang Rey saat ini juga.


"Apa kamu sudah siap sayang," ucap Rey lembut penuh kasih sayang.


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat." sahutnya sambil tersenyum merona di pipi.

__ADS_1


Baby sisternya juga sudah siap membawa kedua bayi Clara menuju mobil.


Terlihat raut wajah Mamah Shiren berbinar karena melihat Clery tengah berbaikan sama suaminya.


"Hati-hati sayang di jalannya," ucap lembut Mamah Shiren sambil mengecup kening Clery.


Clery dan Rey langsung masuk ke dalam mobil. Rey menyalakan mesin mobilnya dan tersenyum ke arah istrinya.


"Aku akan memperbaiki semuanya," ucap Rey sambil mengemudikan mobilnya.


"Iya, sayang. Kita mulai dari nol." Balas Clery senang.


Padahal hanya gombalan Rey saja, biar clery mempercayai akan cintanya itu.


🌾🌾🌾


Di tempat sekap.


Terdengar suara tembakan dari lokasi Clara di sekap. Darren dan Surya terhentak kaget karena dirinya tengah tertidur.


Doorr..... Doorr...


Suara itu sangat keras karena memang mereka tidak jauh dari lokasi. Surya menghembuskan nafasnya kasar pikirannya ke mana-mana.


Darren saling tatap sama Surya, mereka bergegas untuk menuju ke lokasi. Namun hal itu tidak terjadi, terlihat anak buah Dewi membawa perempuan keluar dari lokasi sekapan.


Hati Surya tidak karuan dirinya benar-benar cemas.


"Suara pistol dan terlihat anak buahnya menggendong seorang wanita ke dalam mobil," ucap Darren sambil mengamati kejadian itu.


"Tidak mungkin Clara di bunuh Dewi," lirih Surya.


Mereka terus mengamati mobil yang akan segera melaju membawa tubuh seorang wanita yang sudah tidak sadarkan diri.


"Lho lihat, banyak darah dari tangan anak buah Dewi. Kita ikuti mereka, tapi Izal, Robby ke mana mereka. Itu tidak mungkin Clara," ucap Darren menyalakan mobilnya dan bergantian menyetir mobil dengan Surya.


Hati keduanya cemas sangat cemas, karena yang mereka tau bahwa di lokasi rumah itu hanya ada Clara dan Dewi.


Lalu, siapa wanita yang bercucuran darah yang di bawa ke dalam mobil. Suara tembakan itu sudah pasti ada yang tertembak salah satunya.


Surya menggelengkan kepalanya, ia menepis bahwa itu bukanlah Clara.


"Kita cari tahu, mereka seperti akan membuang mayat itu. Dan sudah pasti yang mereka bawa itu jasad dan mereka sudah membunuhnya." Ucap Darren membawa hati tidak enak dan merasa cemas.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya like, komen, Hadiah dan vote.


__ADS_2