
Di rumah Clery terlihat sangat panik, ia membawa Kevin ke rumahnya. Mamahnya menatap bingung, atas apa yang di ucapkan anaknya itu.
"Jadi kalian memang benar pacaran" ucap mamah shiren yang di angguki Clery.
"Ia mah, Clery tidak berani mengatakannya waktu itu" jawab Clery menatap wajah Kevin.
"Duuh, anak mamah ini, pemalu, urusan soal pacar, kenapa gak dari dulu kalian terang-tetangan sama Mamah?" mamah shiren langsung tersenyum bahagia.
"Nanti malam ke sini ya nak Kevin, mau Tante perkenalkan sama Papah Clery" sontak saja ucapan itu membuat dua-duanya terkejut .
"Mah, apa ini gak terlalu cepet gitu?" tanya Clery meyakinkan mamahnya.
Tante shiren malah tertawa mendengar ucapan anaknya itu.
"Anak mamah ini bener-bener ya, kamukan sudah bawa calon mantu, ya otomatis harus kita perkenalkan sama Papah dan kak Darren" terang mamah shiren.
"Aduh mampus gue" ucap Clara dalam hati.
Kevin terlihat panik setelah mendengar ucapan mah Clery. Ia terjebak mau menolak Kevin merasa tidak enak, jalan satu-satunya ia langsung menganggukinya.
"Baiklah nanti saya ke sini malam" ucapan Kevin membuat Clery menohok tidak percaya.
"Ya udah Mamah tinggal dulu ya Clery, oke nak Kevin Tante permisi dulu?" ucap Tante shiren langsung di angguki Kevin.
Tante shiren langsung berlalu pergi menuju kamarnya, ia meninggalkan Clery dan juga Kevin di ruang tamu.
"Duuh, sumpah gue gak bermaksud begini Lo Vin, tolong maafin gue ya?" Clery memohon pada Kevin sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Ia gue gak keberatan kok, gue ke sini juga cuma makan gratis" ucap nya enteng membuat Clery berdecak kesal mendengarnya.
"Ya udah sekali lagi gue minta maaf ya Vin?" ucap Clara.
"Oke, oke gue pergi dulu ya" Kevin beranjak pergi dari rumah Clery.
Clery hanya bisa terdiam melihat Kevin pergi dari rumahnya. Ia benar-benar tidak menyangka, Kevin tidak memarahinya.
"Untung saja si tengil itu tidak marah" ucap Clery langsung melangkah pergi ke kamarnya.
🌸🌸🌸
Clara lagi mundar-mandir di dalam kamarnya, Ia bingung, antara pergi sendiri ke supermarket atau menunggu Rey pulang.
"Duh, kalau nunggu Rey pasti nih bakal malam, ah aku ke supermarket sekarang saja, sekalian nanyain kebutuhan dapur ke bi Sarti.
langkah kaki Clara menuruni anak tangga, ia langsung menuju dapur dan bertanya kepada bi sarti.
__ADS_1
"Bi, Aku mau ke supermarket nih, apa ada yang sudah abis bahan-bahan, atau apalah gitu keperluan dapur dan juga keperluan Bibi yang sudah habis.
"Ah, tidak Non, semua masih lengkap, dan juga keperluan Bibi masih ada, memangnya kenapa Non?" tanya bi Sarti pada Clara
"Hmm...., tidak bi, aku mau pergi ke supermarket soalnya alat mandi dan juga keperluanku pada tinggal dikit jadi sekalian gitu." Ucap Clara sambil tersenyum.
"Memang gak nunggu Tuan muda dulu pulang Non?" tanya bi sarti
"Enggak Bi, takut pulangnya malam, ya sudah aku pergi dulu ya Bi" Clara langsung meninggalkan bi Sarti di dapur.
"Anak itu, memang sangat baik banget, beruntung tuan muda, mendapatkannya." Bi Sarti kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Clara pergi ke supermarket terdekat, ia merasa ada yang aneh, perasaannya was-was, ia pun langsung masuk supermarket. Di dalam Clara memilih keperluannya yang sudah sedikit di rumahnya.
Ia langsung menuju kasir merasa semuanya sudah cukup, dan tidak mau berlama-lama lagi. Matanya celingukan ke sana-ke mari.
Terdapat, Pria misterius itu, di depan parkiran supermarket, Ia lagi menaiki motor orang, Clara merasa curiga dari tadi ia di ikuti terus sama pria itu.
Akhirnya Clara langsung berani mengahampirinya ia pun bertanya.
"Hei mas, kamu tukang ojeg sinikan? hmm.., semoga kamu mendapatkan penumpang yaa mas" ucap Clara sambil menepuk pundak pria itu.
Pria itu langsung menohok kesal pada Clara.
pria itu berdecik kesal, karna sudah di sebut tukang ojeg sama Clara.
tiba-tiba pria itu mengikut Clara lagi, ia pun bergegas dan langsung membuntuti Clara. Tapi Clara tidak bodoh ia langsung berhenti sejenak.
"Waahh gawat ni, tu orang malah ngikutin aku, terus bagaimana ini?" Clara langsung berlari tapi ia berhasi di berhentikan sama pria misterius itu.
"Hallo Nona muda, apa kamu mau ikut denganku?" ucap pria itu sambil menodongkan satu buah pisau.
Clara terkejut ternyata pria itu bukan sembarang pria, ia mundur dan langsung berdiam.
Satu pukulan kaki mengenai pemilik pria itu, Ia terlihat kesakitan dan langsung mengejar Clara. Untung saja Clara sangat cerdas jadi ia bisa kabur dari pria misterius itu.
"Awww...., sialan banget tuh cewek, berani-beraninya dia merusak kehormatan gue, Aduhhh ini sakit banget" pria itu langsung mundur dan masuk ke dalam mobilnya.
Clara sampai depan rumahnya dan langsung masuk, perasaan cemas was-was takut menajdi satu. Ia langsung pergi ke kamarnya.
"Siapa sih pria itu, apa dia yang kemaren malem mengawasi jendela? Ini sungguh tidak bisa di percaya, pria itu membawa pisau! untung saja aku bisa meninju kepemilikannya." Ucap Clara di dalam kamar, ia merasa panik, dan akan memberitahu Rey saat sudah pulang nanti.
Malam tiba, Clara langsung menyambut Rey dari kantornya.
Tiba-tiba saja Dewi muncul, dan langsung meraih tas yang Rey bawa, Clara berdecik kesal melihat tingkah laku Dewi.
__ADS_1
Ia terus berdiam, memperhatikan Dewi yang bergelayut manja di tangan Rey. Ia mundur dan langsung masuk ke kamar, membawa sesal di hatinya.
Kini Rey, langsung marahi Dewi, ia sangat kesal yang di temui bukannya Clara Malah perempuan ular ini.
"Clara mana?" tanya Rey sama Dewi.
"Kamu, kok malah nanyain wanita sialan itu sih sayang" ucap Dewi membuat Rey merasa malas di dekatnya.
Tiba-tiba Clara muncul, ia mencoba biasa saja di hadapan Rey, padahal dalam hatinya api membara.
"Kamu sudah pulang sayang" ucap Clara, Dewi pun langsung mengeratkan tangannya ke tangan Rey.
"Duh, calon istri muda sangat lebay, kayak anak kecil saja, bergelayut manja di tangan Papahnya." Ucapan Clara sontak membuat Rey kaget. Ia langsung melepaskan tangan Dewi dari tangannya.
Kemudian Clara langsung meninggalkan mereka, ia menuju dapur dan membuat teh manis buat suaminya.
"kesal banget kamu Rey bikin aku naik darah saja, awas ya kamu nanti!" Clara mengomel di dapur sembari bikin teh buat suaminya itu.
Rey marah pada Dewi, tapi Dewi tidak menghiraukan kemarahannya, ia terus terusan membuntuti Rey.
"Kamu bisa diam gak, gue cape mau istirahat, dan ingat kita belum menikah okey" ucap Rey langsung pergi ka kamarnya, Dewi berdecik kesal melihat Rey meninggalkannya.
"Awas kamu Rey, sebentar lagi kamu bakal menjadi suamiku, dan gue akan melempar Clara jauh-jauh dari kehidupan kita" ucap dewi sambil berlalu pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar, Rey duduk dan langsung melepaskan sepatu kaos kaki, dan juga dasi yang menempel di lehernya.
Clara membuka pintu dan langsung memberikan teh manis buatannya itu.
"Sini aku bantu lepasin dasinya" ucap Clara sambil meraih leher Rey.
Rey kira Clara bakal marah, setelah kejadian tadi di bawah.
"Kamu tidak marah sama aku?" tanya Rey
"Apaan sih, marah sih enggak, cuma kesal saja" Clara langsung meletakan dasinya di meja dan langsung membereskan sepatu Rey.
"Eh kamu tau gak, aku tadi ke supermarket, tapi aku di buntuti sama pria misterius dan ia tadi mengejar aku, sampai-sampai dia menodongkan pisaunya ke arahku!" ucapan Clara sontak mengagetkan Rey.
"Apa kamu terluka sayang" tanya Rey khawatir.
"Tidak sayang, aku berhasil kabur, dan ia langsung saja pergi memakai mobil. Aku gak tau jelas sih dia pergi ke arah mana dan pake mobil apa, saat itu aku panik dan langsung kerumah." Terang Clara membuat Rey merasa lega mendengarnya.
"Jangan-jangan dia orang yang sama, yang menusukku? mulai sekarang kamu gak boleh pergi sendirian Oke? aku takut kamu kenapa-napa?" ucap Rey sambil mencium kening Clara.
Clara tersenyum, mendengar nasehat suaminya, tapi tetap saja hatinya sangat kesal. Clara merasa cemburu, tapi ia sembunyikan kecemburuannya itu pada Rey.
__ADS_1