Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
Penyesalan Dewi Season2


__ADS_3

Dewi mengarahkan pistolnya tepat ke arah kepala Surya. Ia langsung menekannya dan langsung saja peluru itu tepat di belakang kepala David.


Entah dari mana David datang, sebelum Dewi menekan pistol itu, David langsung berlari dan menghalangi badan Surya yang akan terkena tembakan Dewi.


Doorr.... Door.. Tembakan itu tepat mengenai kepala belakang David.


Jelas di mata Surya David tersenyum, lalu lunglai jatuh ke tanah. Dua tembakan mengenai kepala dan punggung David.


Darah mengalir deras, Clara menjerit dan langsung menghampiri David yang tengah sekarat. Dewi masih diam, ia tidak tau siapa yang dia tembak, Dewi terdiam melihat darah yang mengalir deras dari badan David.


Kondisi David sudah memprihatinkan, dirinya tau bahwa Clara sedang di sekap oleh Dewi. Maka dari itu dirinya langsung menyusul walaupun ibu Farrah sudah melarang.


Kepala David yang botak jadi Dewi belum mengetahui siapa yang ia tembak dan menolong Surya.


Andai Dewi tau bahwa itu adalah suaminya pasti dirinya tidak akan menembakkan peluru itu.


Clara menjerit begitu juga Darren langsung menghampirinya. Surya lunglai melihat jasad David yang sudah kaku di hadapannya.


Dirinya meneteskan air matanya, lalu memeluk dan merangkul David.


"Kita janji akan membawamu ke luar negri untuk pengobatan, kenapa kamu melakukan ini dan kapan kamu ke sini. Tolong jangan tinggalkan kita di dunia ini, apa yang harus aku katakan kepada semua orang bahwa kamu sudah meninggal." Lirih Surya merangkul badan David yang penuh darah, Clara menangis di pelukan Kakaknya Darren.


Semua menohok tidak bergeming, Clara bangkit lalu menyoroti Dewi. Dirinya berjalan dan menyered Dewi ke hadapan jasad David.


"Lihatlah, kamu sudah membunuh suamimu sendiri, aku sudah bilang jangan lakukan ini, tapi kamu tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan. Lihatlah tubuh suamimu sudah tidak bernyawa lagi," Teriak Clara pada Dewi.


Saat itu juga mata Dewi menohok kaget tidak bergeming, dirinya melihat wajah pucat David, badan kurus dan kepala botaknya.


Perlahan Dewi menjatuhkan pistolnya, badannya bergetar, dirinya langsung menjerit dan merangkul tubuh suaminya yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri.


"Tidak mungkin, ini bukan David. Lihatlah dia botak, suamiku tidak botak dan juga tidak kurus. Ini pasti bukan kamu sayang, tolong maafkan aku, sayang bangun tolong aaahhhh," Dewi menjerit dirinya tidak sanggup menerima kenyataan.


"Kau tau, dia lagi berjuang untuk melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Lihatlah kamu telah membunuh suamimu sendiri." Teriak Clara menangis.


Dewi histeris, dirinya mencium semua wajah suaminya sambil meminta maaf. Dia meraba kepala David yang berlumuran darah dan juga botak. Tangannya bergetar saat dirinya meraba lembut kepala David.


"Sayang bangun, tolonglah aku mencintaimu. Kenapa kamu melakukan ini, kamu bohong padaku. Kenapa kamu tidak jujur padaku, tidak ini bukan suamiku, dia tidak sakit, dia tidak mati." Teriak Dewi memeluk jasad suaminya.

__ADS_1


"Semua sudah berakhir Dewi, David sudah tiada, dan tidak merasakan sakit lagi yang menggerogoti badannya." Lirih Clara sambil menangis sesegukan.


"Maafkan aku, kamu harus bangun. Tolong kita kerumah sakit bawa dia, aku yakin dia pasti hanya pingsan." Ujar Dewi sambil teriak.


Dirinya sangat menyesal, andai Dewi mendengarkan semua yang Clara katakan, pasti hal yang mengerikan ini tidak akan terjadi.


Dewi sudah membunuh dua orang sekaligus, David dan Yolan. Sungguh hal ini membuat Dewi menyesal, emosi dan amarahlah yang telah menguasai jiwanya. Hingga dirinya lupa sang pencipta, jiwanya terguncang saat tau yang ia bunuh suaminya.


Dewi baru mengetahui David sedang berjuang hidup, namun dirinya lah yang telah mengirim suaminya ke tempat peristirahatan trakhir.


Dewi membawa jasad suaminya ke rumah sakit untuk memastikan David masih hidup atau sudah meninggal.


Dewi tidak terima bahwa dirinya lah yang sudah membunuh suaminya itu. Dewi menangis tiada henti, Dokter juga mengatakan bahwa David sudah meninggal dunia.


Setelah itu, dokter yang menangani David memberikan secarik kertas kepada Dewi yang ia dapatkan dari saku celana jasad suaminya itu. dan Dewi pun langsung membaca surat tersebut.


"Assalamualaikum, apa kabarmu? semoga baik-baik saja. Mungkin ini Surat ketigaku untukmu, apa kamu masih ingat, Surat pertamaku sewaktu kita masih duduk di bangku SMA. Aku mengirimmu surat cinta untukmu, kau membalasnya, dan yang ke dua aku mengirim lagi surat tapi kamu tidak membalasnya. Hehehe, dan ini juga Surat ketigaku dan kau pasti tidak akan membalasnya lagi. Maafkan aku karena aku tidak memberitahumu soal penyakitku ini, aku tidak mau menyusahkan mu, satu hal sayang! dekataknlah dirimu kepada Sanga maha pencipta. Kau wanita yang sangat aku cintai, walaupun kamu telah mengkhianatiku, tapi cintaku untukmu begitu besar. Mungkin kamu sekarang membaca Surat ini sedang menangis, cup cup cup jangan menangis. Aku akan selalu ada di hatimu dan semua ini bukanlah salahmu sayang, karena ini sudah takdirku, bertaubatlah sayang, dan doakan aku supaya aku bisa tenang di alam sana, I LOVE YOU 😘😘😘, aku pasti merindukanmu, sekali lagi jangan menangis."


Dariku David.


"Maafkan aku, tolong jangan pergi. Aku mencintaimu," ucap Dewi sambil menangis tersendu-sendu sambil memeluk surat dari David.


Air matanya tidak berhenti mengalir dari pelupuk matanya.


Clara datang menghampirinya kemudian memeluknya dengan lembut. Dewi langsung mengangkat kepalanya, lalu menangis dan merangkul tubuh Clara.


"Maafkan aku, sungguh aku menyesal. David pergi meninggalkan diriku, aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Clara ini tidak benar! David pasti masih hidup, tolong katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya, sudah beberapa kali aku menyakiti hatinya, namun dirinya selalu memaafkan aku." Lirih Dewi di dalam dekapan Clara.


Dewi sadar, selama ini dirinya hanya menyakiti suaminya. dan ia telah menyesal atas semua yang telah ia perbuat, Dewi langsung melihat jenazah David yang kini sudah rapih di balut kain kafan putih.


Setelah semuanya selesai mengurus jenazah David dan jenazahnya langsung di kebumikan.


Dewi mengecup batu nisan yang bertulisan David. Keluarganya menangis meraung setelah Surya menjelaskan semuanya kepada mereka.


Namun siapa sangka, Dewi bersujud di kaki mertuanya itu, dirinya meminta maaf sebesar-besarnya dengan perbuatan yang telah dirinya perbuat. Tapi ucapan keluarga David sungguh tidak disangka bahwa keluarganya telah memaafkan perbuatan Dewi, dan semuanya mengikhlaskan kepergian David, biarlah hukum alam yang Dewi terima.


Saat ini polisi menghampirinya dan membawa Dewi untuk ditahan, karena sebelumnya Dewi-lah yang telah menghubungi polisi, dia menyerahkan diri. Dewi berjanji akan bertaubat dan apapun hukumannya dia akan terima meskipun itu hukuman mati.

__ADS_1


Clara sangat sedih Dewi kini mendekam di penjara, walaupun telah di sakiti Dewi. Tapi Clara menangis melihat Dewi hancur yang di bawa oleh polisi.


🌾🌾🌾


Satu hari telah berlalu, Dewi kini ada di penjara dan terlihat sangat kusut. Wajahnya sebab, dirinya sekarang menghabiskan waktunya mengaji di dalam sel.


Sesekali dirinya meraung menangis mengingat kejadian yang telah ia lakukan.


Dewi tersiksa sama bayangan yang terus mengahampirinya. Yolan dan David yang Telah ia bunuh secara tragis.


Keluarga Dewi sama sekali tidak mau mengjenguknya setelah mengetahui bahwa Dewi yang telah menyebabkan Yolan meninggal dengan cara sadis.


Sekarang Dewi hanya sebatang kara di sel tahanan. Clara datang untuk menjenguk Dewi di tahanan, semua orang telah membuang Dewi namun tidak untuk Clara. Dia masih menganggap Dewi sebagai kerabatnnya.


Dirinya datang bersama Surya, sambil membawakan makanan untuknya.


Dewi keluar membawa wajah yang sangat kusut dan kurus kering.


"Duduklah Dewi, aku membawamu makanan, semoga kamu suka." Ucap Clara sambil menyodorkan makanan itu di atas meja.


"Kenapa kamu ke sini, aku sudah banyak di benci semua orang begitupun sama keluargaku sendiri. Tetapi sebaliknya kamu masih mau mengjengukku Clara? aku tidak pantas di jenguk olehmu." Ucap Dewi menunduk sambil meneteskan air mata.


"Tidak, kamu masih kerabatku, kau tidak sendirian, aku ada di sini selalu bersamamu. Semua orang pasti telah melakukan kesalahan, begitu juga denganku sendiri. Allah Maha pemaaf, mengapa tidak denganku, bisa-bisa aku di golongkan dengan orang yang sombong. Aku memaafkan mu. Jangan putus yang sudah-sudah biarlah berlalu, sekarang tinggal perbaiki diri saja, aku ada di sini untuk mendukungmu." Seru Clara sambil memegang tangan Dewi yang kini ada di atas meja.


"Aku orang jahat Clara, tidak sepantasnya kamu memaafkanku. Aku penuh dosa padamu Clara." Lirih Dewi meneteskan air matanya lagi.


Clara bangkit dari kursinya, kemudian dirinya memeluk hangat badan Dewi yang sedang menangis.


"Aku memaafkan dirimu sudah jangan menangis." Ujar Clara mengusap punggung Dewi.


"Eksekusi mati ku bulan depan, tolong maafkan aku sekali lagi. Kenapa kamu tidak menyiksaku saja Clara seperti aku telah menyiksamu." Sendu Dewi.


"Allah sangat membenci orang-orang yang balas dendam. Aku tidak berhak melakukan semua itu, jangan terlalu di pikirkan, perbaiki hatimu, Shalat lah, dan mengaji semua itu bisa membuatmu tenang. Aku selalu mendoakanmu yang terbaik, aku saudaramu kau harus tau itu." Ucap lembut Clara.


Dewi yang mendengar itu langsung menangis lagi, mengingat dirinya yang selalu jahat kepada Clara. Tapi balasannya Clara sangat baik tidak membalas semua perbuatan yang telah di lakukan Dewi.


Jangan lupa dukungannya dengan like, hadiah, komen, vote, dan bintang 5 nya ya 🀭🀭

__ADS_1


__ADS_2