
Surya mendapat tlp dari anak buahnya yang di Jakarta, ia di beritahukan bahwa Mamah Shiren sudah mendonorkan matanya untuk Clery.
Perasaan Surya tidak bisa di artikan, ia melihat ke arah Clara yang kini sedang mengemas bajunya untuk pulang ke jakarta.
Surya langsung menghampirinya lalu memeluk tubuh istrinya dari arah belakang. Clara tersenyum dan langsung membalikan tubuhnya, hingga sekarang mereka berhadapan.
"Hmmm, pasti ada maunya? ucap Clara sambil memencet hidung mancung suaminya.
Surya berpikir, apakah istrinya akan menerima Mamah Shiren yang sudah buta sekarang, ia tau betul istrinya. Walaupun belum memaafkannya sampai sekarang, tapi kalau dia sudah tau kondisi Mamah shiren, ia bakal memaafkan langsung. Maka dari itu sehabis pulang dari Bali Clara di ajak untuk makan malam di sebuah restoran untuk mempertemukan istrinya dengan Mamah shiren.
"Apa kamu tidak kangen sama Mamah kamu?" tanya Surya.
"Hmm, aku sudah memaafkan dia honey, walaupun kesalahannya sangat besar, tapi dialah Mamahku yang sudah melahirkanku sampai aku sekarang berada di dunia ini, semua tu adalah berkat dia" terlihat wajah sedih dari istrinya.
"Apa kamu kangen sama dia?" tanya Surya lagi.
"Aku kangen sama dia, oh ia, aku dengar Clery sudah bisa melihat lagi, waah ini berita menggembirakan. Nanti kita kerumah Mamah sekalian aku mau menengok Kak Clery" seru Clara sambil memeluk tubuh kekar suaminya itu.
Di sisi lain, Surya tidak tega untuk menceritakan semuanya pada istrinya, biarlah dia yang tau setelah dia bertemu dengan Mamah Shiren nanti malam.
Mereka pun bergegas meninggalkan Apartemennya. Tadinya Surya mau mengambil liburan 3 Minggu. Namun setelah tau berita Mamah shiren yang sekarang sudah tidak bisa melihat, ia langsung memutuskan untuk pulang dan hanya liburan seminggu lebih saja.
Ia tidak mau Istrinya terlalu lama mengetahui bahwa Mamahnya sudah tidak bisa melihat lagi. Dan Mamah Shiren meminta ingin sekali bertemu sama Clara walaupun sudah tidak bisa melihat wajah cantik anaknya itu, seenggaknya rasa kangen dan ucapan maaf pada Clara sudah ia salurkan.
Surya merasa sangat sedih mengetahui hal ini, padahal sebelumnya ia kesal sama sipat Mamah Shiren terhadap Clara. Tapi ia berpikir lagi tidak baik menanam kebencian terhadap orang tua.
__ADS_1
Mereka langsung menuju AirPort untuk menunggu pesawat yang akan segera berangkat ke Jakarta.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit.
Clery belum bisa di bolehkan pulang, ia masih harus di rawat untuk kesembuhan kepalanya yang masih terdengar agak sakit, maka dari itu dokter menyarankan untuk tidak pulang dulu.
"Sayang, apa Mamah tidak kangen sama aku?" tanya Clery pada Rey.
Rey terdiam sejenak, ia tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Mungkin dia masih sibuk, mungkin nanti kalau sudah tidak sibuk dan urusannya telah usai, ia pasti datang ke sini" balas Rey sambil menyuapi istrinya.
Terlihat wajah kusut Papah Farrel di luar ruangan, untuk sementara waktu Papah Farrel tidak berani masuk ke dalam. Ia akan menunggu Mamah Shiren datang ke rumah sakit untuk kontrol.
Baginya ia belum siap, hingga Clery merasa aneh atas sikap Papahnya.
Namun Rey bisa menenangkan Istrinya untuk tidak terlalu memikirkan Papah Farrel.
Hembusan nafas berat dari mulut Papah Farrel yang kini sedang duduk di kursi, ia menerima tlp dari Dokter bahwa Mamah Shiren sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Hatinya langsung merasa senang dan campur aduk, Nenek Sukma sangat perihatin melihat kondisi anaknya sekarang.
"Mah, Shiren mau ke sini" seru Papah farrel memegang tangan Orangtuanya dengan wajah sedikit berbinar, ia meneteskan air matanya lagi.
__ADS_1
"Sudah sayang, kamu temui dia dan ajak dia pulang, kamu jelaskan sama dia bahwa kamu sudah memaafkan dirinya dan mencabut gugatan cerai itu. Mamah tau Shiren juga masih mencintaimu" ujar Nenek Sukma sambil mengelus punggung anaknya.
Papah Farrel bangkit ia mengusap air matanya lagi. Dan ia langsung menuju ruangan Sang Dokter untuk mengunjungi istrinya.
Nenek Sukma berharap semua permasalahan dan juga kerapuhan anaknya cepat terselesaikan.
Setengah jam kemudian.
Papah Farrel melihat istrinya keluar dari ruangan Dokter, ia tidak kuasa menahan rasa sakit di dadanya dan sesak. Ia melihat istrinya menggunakan tongkat sambil berjalan dengan mata menatap kosong ke depan.
Terlihat Winda sedang menuntunnya membantu Sang Kaka berjalan.
Winda berhenti melangkah saat ia melihat di depannya sudah ada Papah Farrel dengan tampang kusut mata sembab dan kelihatan Rapuh.
"Winda, kamu kok berhenti sih, apa kamu masih di sini?" tanya Mamah shiren.
Winda hanya bisa membekap mulutnya menahan tangis ketika ia melihat Papah Farrel menghampirinya sambil mengucurkan air mata yang sangat deras.
"Winda, apa kamu masih di sini, jangan tinggalin aku" ucap lagi Mamah shiren membuat Papah farrel tak kuasa menahan tangisannya.
Bersambung
Pengumuman pemenang memberikan hadiah terbanyak nanti akan saya umumkan di bab berikutnya.
Tetap pantengin terus jangan lupa komen, like Hadiah dan vote.
__ADS_1
Terima kasih eheheheh