Dendam Salah Alamat

Dendam Salah Alamat
Dewi meninggal!!


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu sejak kepergian David, Dewi sering menunaikan Shalat lima waktu. Mengaji dan melamun di sel tahanan.


Clara sering menjenguk Dewi setiap dua hari sekali. Dan sekarang tepat tujuh harinya kepergian David, begitu juga Surya dan Clara mereka sering berkunjung dan menyekar makam David.


"Tujuh hari telah berlalu, David pergi meninggalkan kita di dunia ini." Ucap Clara menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya.


"Jangan lupa kita doakan mereka orang-orang yang telah meninggal." Sahut Surya mengusap kepala Clara.


Malam ini semua kerabat kumpul di rumah Surya. Mereka mengadakan pengajian tujuh harinya kepergian David, terlihat Mamah Shiren hadir di acara pengajian malam ini.


Ibu Farrah terlihat sedang menggendong Baby Zo yang kini sudah tumbuh sehat dan sangat menggemaskan.


Mamah Shiren hanya tersenyum, lalu ia melangkah menghampiri Ibu Farrah. Semua sudah selesai acara pengajiannya, tinggal kumpul keluarga besar mereka.


Terlihat sekali Ibu Farrah akrab banget sama Clara, Mamah Shiren yang tadinya mau menghampiri mereka, mendadak diam dan mengurungkan niatnya.


Clara tertawa sambil menggendong Baby Zi, sesekali Ibu Farrah terlihat sangat menyayangi Clara menantunya itu.


Ada rasa cemburu di hati Mamah Shiren melihat ke akrab mereka berdua. Sungguh ini membuat Mamah Shiren minder, dirinya ingin sekali memeluk dan mencium anaknya Clara.


Dirinya berpikir, Clery tidak sedekat dengan Mamah Rey, kenapa Clara bisa sebegitu akrbanya dengan mertuanya itu.


Mamah Shiren, Papah Farrel. Mereka pamit untuk pulang karena tidak kuat melihat kedekatan anaknya Clara bersama Ibu Farrah.


"Mamah pamit dulu ya Clara, karena ini sudah malam." Ucap Mamah Shiren sambil bersalam kepada mereka.


"Baiklah Mah, hati-hati di jalannya," sahutnya lalu tersenyum.


Clara ingin sekali di peluk sama Mamah Shiren, namun dirinya enggan. Clara sadar dirinya tidak begitu di sayang oleh Mamah Shiren.


Terlihat Darren juga menghampiri Clara, dia juga pamit pulang. Darren mengecup kening adiknya itu tanda sayang Kakak kepada sang adik.


"Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan," ucap Surya sambil menepuk pundak Adik iparnya itu.


🌾🌾🌾


Setengah jam telah berlalu, Mamah Shiren tidur duluan. Papah Farrel pergi ke ruangan kerja miliknya karena ada pekerjaan yang menanti dirinya, dan besok harus segera selesai.


"Sayang bangun, ini Mamah," ucap Nenek Sukma lembut sambil mengusap wajah Mamah Shiren.

__ADS_1


Siapa sangka, Mamah Shiren kaget bukan main, saat dirinya membuka mata yang di lihat Nenek Sukma yang sudah duduk di sebelahnya.


"Mamah, bukannya Mamah sudah meninggal," tanya Mamah shiren.


"Mamah ke sini hanya meluruskan hatimu saja sayang. Tolong jaga Clara, dia anak baik! jangan kamu sia-siakan anak perempuan kedua mu itu. Mamah sangat sayang pada Clara, jaga dia sayangi dia, seperti kamu menyayangi Clery. Dan itu akan sangat adil kepada anak perempuanmu." Terangnya sambil tersenyum.


"Mah, Ma....mah...," teriak Mamah Shiren yang kini tengah mengigau dan sedang di sadarkan oleh Papah Farrel.


"Kamu kenapa sayang,?" tanya Papah Farrel.


Mamah Shiren terlihat sangat takut dan mengeluarkan keringat dingin.


Tak lama, Papah Farrel langsung memberikan air putih satu gelas buat Mamah Shiren.


"Minumlah dulu, supaya kamu tenang," ucapnya lembut.


Mamah Shiren enggan untuk menceritakan semuanya kepada Papah Farrel, dan pasti ujung-ujung hanyalah perdebatan yang akan mereka terpa.


Mamah Shiren menghembuskan nafasnya pelan. Dirinya sadar itu bukanlah mimpi, tapi kenapa suaminya membangunkan dirinya yang sedang tidur, bahkan semuannya sangatlah nyata bagi Mamah Shiren.


Mamah Shiren mencerna ucapan Almarhumah Nenek Sukma.


"Kenapa Mamah bicara seperti itu padaku," ucapnya lirih.


🌾🌾🌾


Pagi hari menyambut indahnya dunia dengan senyuman yang melebar di wajah cantik Clara.


Clara sudah mempersiapkan semua sarapan untuk keluarganya. Ibu Farrah merasa sangat senang mempunyai menantu seperti Clara.


Di meja makan sudah tersedia roti bakar dan juga susu hangat untuk mengenyangkan perut mereka.


Surya tersenyum lalu mengecup kening istrinya.


"Kau sangat cantik sekali, aku mencintaimu," ucap Surya sambil terus memandang ke arah wajah cantik istrinya yang kini sendang menata rapih makanan.


Kebetulan Baby Zo dan Zi sudah mandi dan tertidur lagi, setelah meminum susu dari Dot.


"Apaan sih kamu, gombal terus," sahutnya sambil mencubit hidung suaminya.

__ADS_1


Tak lama, Ibu Farrah menerima telephone rumah.


Orang itu memberitahu kan ke padanya bahwa Dewi meninggal dunia. Langsung saja Clara kaget bukan kepalang setelah mendengar bahwa kabar itu sangat nyesak di Dada Clara.


"Bagaimana mungkin Bu, Dewi di eksekusi matinya kan bulan depan! mustahil dia meninggal. Aku sarapan dulu setelah ini aku akan pergi ke sana," ucap Clara sedih.


Walau bagaimana pun, Clara sangat menyayangi Dewi yang sudah banyak berubah. Banyak yang bicara kepada Clara bahwa jangan memaafkan Dewi.


Namun bagi Clara, memaafkanlah yang bikin hatinya terasa damai. Hatinya menangis mengetahui bahwa Dewi dengan cepat meninggalkan dirinya.


Padahal Clara rencana hari ini akan memasak makanan yang sangat lezat untuk di antarkan kepada Dewi sebagai tanda sayangnya.


Tak terasa pelupuk matanya mengeluarkan air mata yang sangat deras. Clara menangis di tempat makan. Surya sangat sedih melihat Clara terpukul atas kepergian Dewi untuk selamanya.


"Aku merasa bersalah, dulu kita pernah saling melukai aku gunting rambut indahnya itu hik... hik... hik... Clara menangis sambil di peluk oleh Surya.


"Jangan menangis, biarlah dia meninggal dengan tenang kita doakan saja yang baik untuknya. Kita langsung ke tempat polisi,"


Clara langsung mengangguk, dirinya sangat heran kenapa Dewi meninggal begitu cepat kabar ini sangat melukai hati Clara.


Satu jam telah berlalu.


Clara dan Surya menuju ke rumah sakit, hatinya sangat sedih. Clara sangat terpukul, ia mengingat keluarganya membuang Dewi dan tidak mengakuinya lagi.


Hanya Clara lah yang merangkul Dewi selama dirinya masih hidup.


Mereka pun telah tiba di rumah sakit, Clara di beritahu bahwa jenazahnya sudah berada di ruang jenazah.


Ada polisi juga di sana yang sedang mengurus semua surat kematian Dewi.


Clara tersenyum ramah, dirinya langsung menanyakan prihal kematian Dewi.


"Bagaimana ini mungkin Pak, sedangkan ekseskusi mati Dewi masih satu bulan lagi," tanyanya tidak sabaran.


Clara sudah tau, Dewi meninggal sebelumnya namun ia selalu menepis penglihatannya itu. Tapi siapa sangka bahwa itu adalah hal yang benar.


Clara juga sudah tau prihal kematian dewi yang sebenarnya. Namun dirinya hanya ingin mengetahui dari mulut polisi semuanya, dirinya tidak mau ada kebohongan dalam kematian Dewi.


"Saya harap Bapak, andil dalam menangani kasus ini. Saya ke dalam dulu melihat jenazah beliau," tutur Clara membuat Pak polisi itu terdiam.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin dia bisa tau," ucapnya pelan.


Jangan lupa untuk dukungannya, Like, komen, hadiah dan vote.


__ADS_2