
Surya terus membujuk istrinya, agar dia tidak terus memakasa untuk mendonorkan kornea matanya untuk Clery.
Clara terus menangis di pelukan suaminya, matanya terlihat sembab. Sepanjang hari senyuman istrinya hilang, membuat Surya tidak tega melihat istrinya.
"Sayang, kita besok ke rumah mamah shiren, biar kamu tau kenapa kamu bisa di pisahkan dari keluarga mu, aku tidak mau istriku yang cantik ini berkorban terus" ucapan suaminya membuat Clara berhenti menangis.
"Apa yang kamu bicarakan honey, aku berkorban?" tanya Clara memastikan.
Tubuhnya langsung menghadap ke arah wajah suaminya.
"Lebih baik kita besok datangi mamah mu, biar dia jelaskan semuanya padamu, aku tidak mau istriku ini selalu menderita" ujar Surya membuat Clara tambah tidak mengerti atas ucapan suaminya.
Akhirnya Surya bisa membujuk istrinya untuk tidak berlarut dalam kesedihannya. Mereka langsung menaiki anak buah tangga untuk masuk ke dalam kamar.
Mereka akhirnya sudah tiba di kamar yang sangat mereka rindukan, malam tadi mereka tidur di rumah sakit membuat badannya terasa sakit.
"Sekarang istirahatlah, aku ada urusan dulu sebentar, soal pekerjaan buat besok pagi yang harus segera aku urus" ucapan suaminya di angguki Clara. Ia mulai ngantuk efek menangis terus jadi matanya langsung sayu dan terlelap tidur.
Surya mencium kening istrinya dan menyelimutinya dengan sangat lembut.
"Aku berjanji tidak akan ada seorang pun yang akan menyakiti mu lagi, besok waktunya kamu tau yang sebenarnya terjadi di masa lalu" ucap Surya ia turun dari tempat tidur dan keluar kamar.
Kini surya sudah ada di dekat tangga kamarnya, tangannya langsung memijat nomor tlp mamah shiren.
"Sial, kenapa tidak dia angkat, mungkin aku harus mengirimkan sebuah pesan, buat persiapan besok dia mengatakan semuanya pada anaknya" ujar Surya dan langsung mengirimkan sebuah pesan singkat.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit
Mamah shiren terlihat tenang, setelah Clery tidur pulas, dari tadi putrinya menangis terus dan susah makan. Sekarang dia merasa lega karena putrinya sudah tidur pulas.
"Rey, istirahatlah, kamu tidur di sofa, mamah mau pulang dulu, kasian nenek di rumah sendirian" ucap Mamah shiren pada Rey.
"Baiklah mah, hati-hati di jalan" balas Rey.
Mereka langsung pulang, Papah Farrel terlihat khawatir sama kondisi istrinya.
"Apa kamu sakit" tanya Papah Farrel.
"Tidak, aku hanya memikirkan soal pesan yang di kirim Surya padaku" ucap mamah shiren.
"Pesan apa?" tanya Papah farrel penasaran.
__ADS_1
Terlihat mamah shiren mengembuskan nafas berat dan melirik ke arah suaminya.
"Sebaiknya kita berhenti dulu di pinggir, ini tidak baik di bicarakan ketika kamu sedang menyetir" terang mamah shiren.
"Baiklah" Papah Farrel berhenti di pinggir jalan.
Selang beberapa menit, mamah shiren tak kunjung berbicara. Papah Farrel hanya bisa bersabar menunggu istrinya mengeluarkan suara.
Mamah shiren tidak sanggup kalau harus jujur pada Clara, dia di ancam keras oleh Surya. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena memang ini kesalahan patalnya di masa lalu.
"Pah"
"Iya sayang, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Papah Farrel masih bersabar menunggu istrinya mengeluarkan suara.
"Mamah besok harus bicara sama Clara, dan itu membuat mamah takut Clara membenci mamah" air mata pecah di pelupuk mata mamah shiren.
"Kenapa harus takut sayang, kamu bicara sejujurnya saja pada anak kita. Itu resiko kita kesalahan yang telah kita buat" Papah Farrel hanya bisa pasrah.
Dirinya siap untuk di benci anaknya sendiri. Mungkin ini jalan terbaik untuk mereka jujur pada anaknya.
🌾🌾🌾
Pagi hari di rumah Surya
Surya merasa lega, melihat istrinya sudah kembali seperti biasa. Tapi ada hal yang ia pikirkan sekarang, bagaimana jadina nanti istrinya tau kebenaran di masa lalu.
"Honey, ayo kita berangkat ke rumah mamah" ucapan istrinya membuyarkan lamunannya yang kini sedang menatap ke arah istrinya.
"Hmmmm..." ucap Surya tersenyum.
"Ayo kita berangkat" ucapan istrinya membuat ia harus optimis
Bagaimana pun nantinya, ia harus tetap kuat melihat istrinya tersakiti lagi.
Mereka langsung bergegas pergi dan berpamitan kepada ibu Farrah. Dalam hati ibu Farrah ia berdoa semoga menantunya kuat mendengar penjelasan ibu kandungnya.
Langkah kaki Clara terhenti saat mau masuk ke dalam mobil. Hatinya terasa agak sesak, entah pirasat atau apa, Clara tidak mengerti.
Dirinya optimis kebenaran sudah ada di depan mata, dia akan tau masa lalunya. Clara pun masuk ke dalam mobil.
Satu jam kemudian
Mobil Clara terparkir di depan rumah megah milik orang tuanya. Dadanya berdegup kencang, ia merasa ada sesuatu hal akan menimpanya.
__ADS_1
"Honey, maafkan aku, kamu hari ini libur kerja lagi di ganggu aku yang mau datang ke sini" ucapan istrinya membuat hati Surya merasa terharu.
"Kok kamu bicara seperti itu sih, aku sudah beresin semua laporan di kantor dan sekarang di urus sama kepercayaanku." Ujar Surya sambil menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah.
Sudah ada mamah shiren seorang diri yang kini menunggu kedatangan anak dan menantunya.
Ia begitu cemas juga gemetar, namun hal itu ia sembunyikan, langsung saja ia menyambut kedatangan anaknya dan memeluknya penuh kasih sayang.
"Kalian duduk, nanti si mbok datang membawakan minuman dan cemilan" ucapnya sambil tersenyum namun siapa sangka di hatinya merasa cemas dan gugup.
lima menit kemudian
"Ibu tolong jelaskan pada Clara, apa yang terjadi saat Clara masih kecil? tanya Clara membuat mamah shiren merasa gugup di buatnya.
"Sebenarnya, orang tua angkat mu yang berada di kampung itu adalah yang bekerja di rumah ini. Pada saat umur 2 tahunlah kamu di bawa mereka ke kampung, ia adalah mantan pembantu mamah di sini. Suaminya bekerja sebagai supir pribadi, sebelum kejadian hal yang mengerikan dalam hidup mamah. Hubungan kamu dan nenek Sukma baik-baik saja" air mata mengalir di pelupuk mata mamah shiren. "
"Setelah itu, kakek lagi menggendong Clery. Waktu itu, kamu duduk diam melihat kakek dan juga Clery yang sedang bermain bersama di rumah. Tak di sengaja, Clery mengambil pisau di meja, entah mengapa di meja itu ada pisau dan dia malah mengambilnya tanpa sepengetahuan kakek mu. Hal yang mengerikan terjadi. Clery malah menusukan pisau itu ke dada sang kakek." Tangisan mamah shiren pecah, ia tidak bisa meneruskan hal yang membuat ia tidak mau mengingatnya.
"Apa" kaget Clara sambil melotot ke arah mamah shiren.
"Ya Clery tidak sengaja menusukan pisaunya ke dada kakekmu, pada saat mereka main kejar-kejaran di rumah ini. saat itu Clery menjerit ketakutan, ia melihat kakeknya tergelatak, kamu hanya diam saja melihat kakek lmu terkujur kaku menahan sakit. Namun dia tidak tertolong. Clery lari dan kamu hanya diam saja di sana sendiri, seolah-olah yang telah membunuh kakek adalah kamu. Dan kamu tau, namanya anak kecil tidak tau apa-apa, kamu pegang pisau itu di dada kakekmu, seolah-olah kamulah yang telah menusuk kakek. Beberapa menit kemudian nenek Sukma datang dan langsung menuduhmu yang melakukan penusukan itu. Sudah mamah jelaskan bahwa bukan kamu yang membuat kakek meninggal, tapi dia tidak percaya. Nenek mulai stres setelah kepergian suaminya.
Mamah tidak ada pilihan lain, menjelaskan pada nenek saja tidak di gubris dan ia sangat marah padamu. Nenek sukma sering membuatmu terluka dan akan balas dendam membunuhmu, seperti yang di pikirannya, kamu telah membunuh suaminya. Saat itu tidak ada pilihan lain, mamah menyuruh bibi yang bekerja di sini dan suaminya membawamu pergi dari sini. Mereka ibu angkat kamu yang sekarang ada di kampung, mereka yang menyelamatkan mu pergi dari sini. Tapi setelah kamu di bawa pergi ke kampung halamannya malah mamah kehilangan kontak selama beberapa tahun terakhir." Terang Mamah shiren, Clara menangis, ia masih tidak menyangka.
"Jadi ini salah paham, kenapa nenek tidak percaya padaku mah?" tanya Clara menangis sambil memeluk tubuh suaminya.
"Maafkan mamah sayang, mamah dulu sudah jelaskan semua itu salah paham, namun nenek mu tidak percaya. Mamah sadar semua ini atas kesalahan Clery, mamah minta maaf, tolong jangan benci mamah?" Mamah shiren menangis.
"Ini tidak benar, kak Clery bukan pembunuhan mah, biar aku yang akan menjelaskan semuanya pada nenek!" tegas Clara.
"Tidak, nenek mu tidak akan percaya sayang, dia sudah gangguan jiwa, mamah sudah berusaha yang terbaik buat kesembuhan nenek kamu" ucap mamah shiren.
"APA, JADI YANG MEMBUNUH SUAMIKU ADALAH CLERY?" suara menggelegar terdengar cukup keras dari atas tangga, terlihat nenek Sukma yang sedari tadi mendengarkan cerita mamah shiren.
Sebelumnya nenek Sukma sudah mengetahui malam tadi, namun ia pendam dulu, ia ingin tau mamah shiren bagaimana reaksinya ketika ia berbohong pada dirinya dan juga semua orang.
Nenek Sukma merasa bersalah, pada Clara selama puluhan tahun. Dan pikiran nenek Sukma di pengaruhi oleh obat yang salah, oleh mamah shiren. Ia memberikan resep obat salah biar nenek Sukma terlihat gila, dan ia memanipulasi semuanya.
"Tidak, mah mamah bohong pada Clara, bicara sejujurnya mah, biar anak mamah tidak tersakiti terus olehmu" ucap Surya marah karena mamah shiren tidak sepenuhnya jujur pada Clara.
Nenek Sukma datang menghampiri mereka.
"Nenek tidak gila, maafkan aku Clara, memang nenek stres selama ini, selama berpuluh-puluh tahun lamanya, karena kehilangan orang yang nenek cintai. Sekarang mamah sudah tau siapa yang jahat di sini" desis nenek sukma, ia membawa obat dan melemparkannya ke depan mamah shiren.
__ADS_1