
Clara dan Surya melangkah menuju mobil yang sedang terparkir di tempat parkiran. Clara merasa gelisah tak menentu, ia langsung membuka pintu lalu melihat ponselnya menyala.
"Ya Allah, 20 panggilan dari mamah, aku lupa membawanya ke taman tadi" ucapnya.
"Coba hubungi balik siapa tau penting" ucap Surya seraya menutup pintu mobilnya.
Perasaan Clara mulai tak enak hati, baru pertama kali mamahnya memanggil sebegitu banyaknya.
"Hallo" ucap Clara.
Terdengar Isak tangis sendu dari dalam tlp, Clara terkejut mendengar ucapan mamahnya bahwa Clery mengalami kecelakaan, dan membutuhkan golongan darah. Setelah itu Clara menangis dan langsung menyuruh suaminya melajukan mobil ke arah rumah sakit.
🌾🌾🌾
Di rumah sakit
Mamah shiren terlihat kacau, ia berjalan gontay menghampiri suami dan menantunya Rey. ia pun duduk di sebelah suaminya, beberapa menit lagi darah buat Clery harus ada, namun belum mereka temukan golongan darah yang sama.
Dokter menghampiri Mamah shiren, ia mulai cemas karena belum ada darah yang cocok buat Clery.
"Bu, apakah sudah ada pendonor buat anak ibu?" pertanyaannya malah membuat mamah shiren menangis lagi.
"Saya belum menemukan orang yang cocok buat menolong anakku dok, apa yang harus saya lakukan" ucapan mamah shiren membuat dokternya sedih.
"Kami juga sudah berusaha mencari golongan darah AB namun tidak ada yang cocok, 40 menit lagi darah itu harus sudah ada" ujar dokter sambil menghembuskan nafasnya berat.
"Tidak, anak saya harus selamat bagaimana pun caranya" seru mamah shiren bangkit dari tempat duduknya.
Ia begitu terpukul mendengar kabar anaknya, harus segera di beri pertolongan. Golongan darah Clery susah sekali, membuat semuanya merasa putus asa.
Tiba-tiba teriakan Clara menggetarkan semuanya yang ada di lorong IGD. Terlihat wajah berantakan Clara yang sudah sembab efek menangis sepanjang jalan.
"AKU YANG AKAN MENDONORKAN DARAH BUAT KAKAKKU" teriak Clara langsung memeluk mamah shiren.
"Sayang"
"Iya mah, Clara golongan darah aku AB persis kak Clery, Clara siap mendonorkan darah sebanyak mungkin biar bisa menyelamatkan kak Clery" seru Clara sambil terisak tangisannya.
Betapa bahagia mamah shiren mendengar ucapan Clara anaknya. Ia langsung memeluknya dengan sangat erat, membuat orang yang melihatnya terharu.
"Baiklah, ayo kita keruangan langsung, memastikan kamu bersih dari penyakit dan juga daya tahan tubuhmu kuat" ujar pak dokter langsung membawa Clara dan di ikuti oleh mamah shiren begitu juga Surya suaminya.
Terlihat marah dari raut wajah nenek Sukma, ia tidak mau darah Clara mengalir ke tubuh clery.
"Aku tidak terima wanita itu mendonorkan darahnya, kalau bukan lagi genting gini mana Sudi aku membiarkan dirinya mendonorkan untuk cucuku" desis nenek Sukma.
Rey merasa lega akhirnya, Clara yang cocok darahnya sama Clery.
Semua pemeriksaan sudah selesai, semua bagus dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Kamu siap" ucap dokter.
"Siap dok"
__ADS_1
Clara langsung berbaring badan, tangannya di pasang selang kecil, untuk menyedot darah ke tabung plastik. Surya dan mamah shiren menatap Clara yang terlihat sangat senang, ia kemudian menyuruh suaminya untuk mendekat.
"Apa kamu sakit? tanya Surya.
"Lumayan agak linu" pelan Clara.
"Maafkan mamah sayang, semoga kamu sehat setelah mendonorkan darah mu" ucap mamah shiren mengelus kepala anaknya.
"Sudah mah jangan menangis lagi, semoga kak Clery di ruang sana baik-baik saja" ucapan Clara terasa hangat di hati mamahnya.
25 menit sudah, darah Clara di bawa ke ruangan IGD untuk di donorkan. Hembusan nafas ringan dari Clara membuat Surya merasa takjub dan kagum.
"Kamu pahlawan, jasa mu sangat berarti buat semua orang di sini" ujar Surya mencium tangan istrinya.
"Aku lemas sekali, kurasa aku butuh makanan dan minuman sangat banyak" ucap Clara memberi kode.
"Ya ampun aku lupa, sebentar aku ke kantin dulu beli makanan buat permaisuriku" seru Surya mencium kening dan langsung keluar ruangan.
"Dasar raja gombal" ucap Clara tertawa sambil melihat suaminya keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian, Rey masuk dan tersenyum ke arah Clara yang kini sedang terbaring memakai infusan di tangannya.
Rey mengambil duduknya di kursi dekat Clara yang sedang berbaring.
"Terima kasih sudah menolong istriku" ucap Rey tersenyum dan melirik infusan di tangan Clara.
"Tidak perlu berterima kasih, aku sudah sewajarnya menolong kakakku sendiri, kamu yang sabar yah, kak Clery pasti cepat pulih" balas Clara.
"Apa kamu bahagia menikah sama Surya?" ucapan Rey membuat Clara menohok.
"Ya ampun Rey, jelas sekali aku sangat bahagia di banding sama kamu dulu"desis dalam hati Clara.
"Aku sangat bahagia sama Surya, semoga kamu juga bahagia Rey, aku selalu mendoakan kalian" ucap Clara.
"Akhem...." dehem Surya membuka pintu ruangan.
"Clery sudah pulih dari masa kritisnya, aku tadi ke sana sebentar dan mendapatkan info ini dari mamah shiren, ia akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap" ujar Surya kode mengusir Rey.
"Aku ke sana, kamu cepat sehat Clara" seru Rey langsung meninggalkan mereka.
"Serius banget ngobrol sama mantan suami" desis Surya.
"Kamu cemburu sama Rey? ya ampun, ada-ada saja kamu ini honey" seru Clara tertawa.
"Siapa yang cemburu aku cuma melihat kalian saja, itu juga tadi tidak sengaja" Surya cemburu, dadanya berasa panas melihat Rey penuh perhatian sama istrinya.
"Rey cuma berterima kasih padaku karena sudah mendonorkan darah pada istrinya honey" seru Clara menggoda suaminya yang ada di sebelahnya.
"Sudah ah, aku tidak mau membahasnya, cepat makan semoga cepat pulih. Aku sangat khawatir melihatmu begini, infusan di tangan mulusmu membuatku ngeri saja melihatnya" ujar Surya sambil terus menatap ke arah infusan di tangan istrinya.
🌾🌾🌾
Satu jam telah berlalu
__ADS_1
Clery sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, ia di infus selang yang berwarna merah akibat donor darah yang mengalir ke tangannya.
Mamah shiren, nenek Sukma, Rey dan juga Papah Farrel merasa sangat lega. Melihat Clery sudah berada di rawat inap, gulungan perban di kepala Clery membuat nenek Sukma merasa bersalah pada cucunya itu.
"Coba saja tadi mamah tidak menyebrang sembarangan, mungkin sekarang kita berada di rumah sedang tertawa bareng" ucap nenek Sukma sambil mengusap pipi cantik Clery yang sedang berbaring tidak sadarkan diri.
"Sudah mah, semua ini hanya kecelakaan dan juga takdir sang kuasa" ujar Papah Farrel.
Rey menghampiri Clery mengambil duduknya di sebelah istrinya, nenek Sukma sudah beranjak pergi meninggalkan duduknya.
Rey menatap dalam wajah Clery yang kini masih tidak sadarkan diri.
"Semoga besok kamu sudah sadar lagi sayang" ucap Rey mengusap tangan istrinya lalu mengangkatnya secara perlahan dan menciumnya.
Mamah shiren tersenyum melihat menantunya begitu menyayangi anaknya.
"Mamah ke ruangan Clara dulu, kasian dia hanya berdua sama Surya" ucapan mamah shiren di angguki sama Papah farrel.
"Kalian jangan lupa istirahat, ini sudah malam, mamah (nenek sukma ) pulang saja sama Papah yah, nanti mamah menyusul, semoga besok Clery cepat sadar" ujar mamah shiren berlalu pergi.
Papah Farrel langsung mengajak nenek Sukma pulang, karena memang menjaga pasien di haruskan satu orang saja.
🌾🌾🌾
Pagi ini.
Rey masih menatap wajah istrinya,luka di wajah mulusnya terlihat sangat jelas, mamah Rey datang dan langsung memeluk erat anaknya.
"Kamu harus kuat sayang, Clery pasti sembuh" ucap mamah Rey.
Beberapa menit kemudian, Clery menggerakkan jarinya pelan, sontak saja Rey yang melihat langsung berbunga dan menekan tombol pemanggil dokter.
Ia langsung memegang tangan istrinya, beberapa saat setelah itu, dokter datang untuk memeriksa Clery.
"Bagaimana sekarang dokter, apa dia baik-baikk saja?" tanya Rey penasaran.
"Pasien baik, semoga saja dia langsung membuka matanya, saya permisi, dia sudah bangun langsung kabarin lagi" dokter langsung berlalu pergi.
Setelah dokter pergi, Clara datang dan juga Surya untuk melihat Clery
Clara tersayat melihat kakaknya berbaring lemah di atas ranjang setelah beberapa menit Clery bangun, ia membuka matanya pelan, membuat semua orang yang ada di ruangan langsung menghampirinya.
Terlihat Clery memegang kepalnya pelan.
" Kamu sudah sadar sayang" tanya Rey.
"Kenapa semuanya gelap, tolong nyalain lampunya, aku tidak bisa melihat? ucap Clery gemetar sambil meraba-raba ke sekitarnya.
"Tidak ini sudah agak siang dan tidak gelap" Clara langsung menghampirinya kaget"
"TIDAK... TIDAK.... TIDAK.. AKU TIDAK BISA MELIHAT SEMUA GELAP" jerit Clery sambil menangis.
Semua orang yang ada di ruangan kaget dan panik Clery menangis histeris karena terus berucap gelap dan gelap.
__ADS_1