
Clery tengah berlari membawa luka hatinya untuk Rey. Ia langsung memberhentikan mobil taksi yang baru saja lewat. Ia bergegas masuk karena Rey mengejarnya.
Di dalam mobil Clery menangis tersedu-sedu. Dirinya lelah atas semua sikap Rey dan tidak lagi memperdulikan dirinya maupun anaknya.
"Jahat sekali Rey, aku kira setelah kita punya anak kau akan berubah dan lebih mencintaiku. Tapi nyatanya semuanya hanya impian semu semata. Rey kenapa kamu jahat padaku. hik... hik... hik..." Clery menangis di dalam mobil.,
Setelah itu, ia memandang ke arah luar jendela mobil sambil melamun.
"Kamu hebat Clara, bisa di cintai oleh dua pria, sedangkan aku sekarang kayak pengemis cinta pada Rey, sungguh menyedihkan." Ucapnya sambil terus menatap ke arah luar jendela mobil.
🌾🌾🌾
Sementara itu, Rey terduduk lesu di atas aspal yang kini hanya melihat Clery masuk ke dalam taksi. Belum sempat ia berbicara namun Clery sudah pergi jauh, ini memang kesalahannya. Karena dia sudah mengacuhkan perasaan Clery dan pura-pura mencintainya.
"Apa, aku pantas mengejarmu. Mungkin saat ini kamu sudah membenciku Clery, apa yang harus aku lakukan." Ucap Rey, masih terduduk di jalanan meratapi kepergian Clery.
"Aku tidak mau melihatmu bersanding dengan yang lain. Melihatmu bersama Kevin saja membuatku sakit, perasaan apa ini." Gerutu Rey yang kini ia mulai beranjak pergi dan kembali ke mobil miliknya.
🌾🌾🌾
Di Rumah Surya.
Kini Clara mengantar David untuk berobat, terlihat Dewi lagi mengawasi mereka berdua yang kini masuk ke dalam mobil.
Senyuman tajam terukir dari sudut bibir Dewi. Mungkin ini kesempatannya untuk menculik Clara. Ia terus membuntuti mobil yang mereka kendarai.
Mobil itu telah tiba di depan rumah sakit, Clara menyuruh bodyguard-nya untuk membantu David masuk ke dalam rumah sakit. Sementara itu Clara kembali ke mobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Aku lupa membawa ponselku yang kini ada di jok mobil. Kalian pergi saja, nanti aku menyusul kalian kok." Ujarnya sambil melangkah pergi ke parkiran.
"Ayo saya antar." Usul bodyguard Izal.
"Tidak, usah, hanya ke parkiran doang mengambil ponsel," balasnya sambil meninggalkan mereka.
Tak berselang lama, Clara sudah berada di parkiran ia langsung di hadang saat mau membuka pintu mobilnya. Ia di bekap dan langsung pingsan, bergegaslah mereka membawa Clara supaya tidak ketahuan satpam di sana. Kebetulan juga parkirannya sangat penuh mobil hingga mereka dengan mudahnya membawa Clara ke sela-sela mobil yang berjejeran.
Badan Clara kini sudah berada di mobil anak buah Dewi. Di sana juga ada Dewi yang senang menunggu kehadiran Clara yang mereka culik.
"Akhirnya, gue sudah menculikmu dengan sangat mudah. Ayo jalan, jangan sampai orang sekitar sini curiga." Ujarnya sambil tersenyum sini melihat Clara yang kini sudah pingsan berada di depan matanya.
Sementara itu, bodyguard-nya, menunggu Clara yang tadi pergi pamit, tapi sampai sekarang tak kunjung mendatangi mereka yang kini tengah menunggu nomor antrian David berobat.
"Gue ngecek nyonya besar dulu ya." Ucap Izal ia langsung beranjak pergi dan menuju ke parkiran rumah sakit.
Ia melihat seksama mobilnya, namun tidak ada tanda-tanda Clara di sana. Hatinya mulai cemas, ia takut terjadi hal buruk kepada bos besarnya itu.
__ADS_1
"Kemana Nyonya besar, di mobil juga tidak ada. Bukankah dia tadi mau mengambil ponselnya yang ketinggalan di dalam mobil." Pekiknya kaget.
Izal langsung menuju mobil, dan melihat ke dalam dengan mengendapkan wajahnya ke dalam kaca mobil. Kemudian dirinya mencoba menghubungi nomor ponsel Clara. Suaranya terdengar dari dalam mobil, Izal langsung membuka pintu mobilnya dan terdapat-lah ponsel milik bos besarnya itu.
Hatinya mulai cemas, Ia tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan pada bosnya itu. Izal berharap Clara pergi ke suatu tempat, seperti halnya pergi ke WC.
🌾🌾🌾
Di mobil Dewi.
Ia bersorak dan langsung menuju ke tempat tujuannya. Ia sangat geram karena Clara sudah menjadi seorang pelakor.
"Hidupmu sudah berada di ujung tanduk Clara. hahahaha." Tawa Dewi terdengar sangat mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya.
🌾🌾🌾
Di sisi lain, Rey kini sedang menuju ke rumah Clery, dirinya ingin meminta maaf atas sikapnya yang bodoh selama ini.
Ia melajukan mobilnya kencang ke arah tujuan yaitu rumah Mamah Shiren.
"Gue harap Clery bisa maafkan gue dan kita rujuk kembali." Ujarnya pede sambil mengusap wajahnya kasar.
🌾🌾🌾
Saat ini Surya di hubungi sama Izal bodyguard Clara. Ia melihat ponselnya menyala dan berdering, terlihat nama Izal di layar ponselnya. Ia langsung mengambilnya dan menerima tlp itu.
"Bagaimana mungkin dia bisa hilang, kalian tidak becus mengawasinya. Nanti gue ke sana dan jaga juga David." Gerutu Surya di dalam ponsel.
Izal mendesis lega, karena ia tidak di omelin habis-habisan oleh Surya. Namun ia bingung kemana Clara saat ini, karena ponselnya pun masih ada di dalam mobil.
🌾🌾🌾
Di kantor Surya panik, ia langsung menghubungi pihak rumah sakit dan mengecek siapa yang telah membawa istrinya pergi.
Setelah itu, Surya melajukan mobilnya sekencang mungkin agar cepat sampe rumah sakit. Hatinya memburu, ia tidak di sangka istrinya yang sangat Surya sayangi pergi meninggalkannya.
Surya akan terus menguber dalang penculikan ini, bagaimana pun caranya.
30 menit Surya telah sampai, karena memang juga terkendala macet.
Ia bergegas turun dan langsung ke tempat tujuan, di mana ia bisa melihat cctv, sejam yang lalu.
Satpam sudah menunggu Surya, karena memang tadi sudah ia perintahkan untuk mengecek cctv-nya.
"Cepat lihat, siapa yang telah menculik istriku.." Ucap Surya panik dan cemas.
__ADS_1
Dirinya tidak mau istrinya terluka, dan tidak mau terjadi hal yang tidak ia inginkan. Setelah cctv di cek, terlihat 2 orang pria berbaju serba hitam, membekam Clara yang hendak membukakan pintu mobil.
Setelah itu terdapat mobil hitam pekat dan Surya pun mengerti siapa yang telah menculik istrinya.
Ia langsung meninggalkan ruang cctv, dan menuju ke ruangan di mana David berada.
"Harus secara perlahan bicara sama David, bahwa istrinya telah menculik Clara. Dan aku tau dia pasti melihat David dengan Clara, hingga ia salah paham, aku yakin itu." Gerutu Surya sambil melangkah cepat ke ruangan David.
Setelah sampai melewati berbagi lorong yang berliku. Ia akhirnya menemukan David dan juga anak buahnya. Terlihat wajah bersalah bodyguardnya, mereka langsung menundukan wajah dari Surya.
Tapi siapa sangka, Surya tidak memarahinya. Surya memang banyak berubah, setelah ia menikah dengan Clara.
Maka dari itu, ia tidak sering memarahi bodyguardnya saat mereka tidak bersalah. Dan ini juga bukan salah mereka, cuma kecolongan saja, dan sudah jelas Clara melarang untuk di temani sesaat mau mengambil ponsel ke parkiran mobil.
"Bos, maafin kami." Ujarnya sambil menundukan kepala ke bawah. Hal itu membuat David mengerutkan dahinya dan tidak mengerti atas ucapan bodyguard Surya.
"Sudah, ini bukanlah kesalahan kalian, kalian cuma kecolongan." Ucap Surya sambil menepuk pundak bodyguardnya.
"Ada apa ini? Clara mana dia, tadi dia pamit untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil." Tanya David heran.
"Kita, bicarakan ini nanti setelah kamu sudah berobat. Aku pergi dulu, jaga David baik-baik! setelah kalian selesai tolong hubungi saya." Ujarnya sambil pamit pergi.
Surya mengepalkan tangannya lalu ia meninju tembok. Ia tau Dewi-lah yang sudah menculik Clara, Surya takut hal yang tidak ia inginkan terjadi kepada istrinya itu.
"Dewi, kamu sudah membuat masalah besar lagi, gue akan kerahkan semua ajudan yang tidak pernah kamu tau." Gerutu Surya sambil melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
🌾🌾🌾
Di tempat Clery.
Ia menangis sehabis pulang jalan bersama Kevin. Terdapat Mamah Shiren yang menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Mah, jangan biarkan Rey masuk ke rumah. Walaupun alasannya dia ingin bertemu Twins Girls doang. Aku sudah muak sama dia." Ujarnya sambil kembali menangis lagi.
Mamah Shiren hanya menghembuskan nafasnya berat.
Kini Rey sedang mengejar Clery, yang tengah pergi meninggalkan dirinya. Ia merasa bersalah, hati yang terketuk untuk mengejar Clery.
Setelah sampai di depan rumah Clery, ia menghembuskan nafasnya berat dan melirik ke rumah yang besar bercat putih.
Ia membuka pintu mobilnya dan bergegas turun. Namun sesaat ia mau masuk ke dalam rumah itu, satpam memberhentikan dirinya agar tidak masuk.
"Stop, jangan masuk Tuan, ini perintah Non Clery." Ucapnya sambil menghadang Rey masuk.
"Tapi, aku suaminya awas minggir. Aku mau menemuinya sekarang juga." Ucap Rey percaya diri.
__ADS_1
"Tidak jangan masuk." Setelah beradu mulut Rey mundur sambil menatap lesu ke arah rumah Clery.
Hatinya sakit saat ia tidak bisa menemui Clery dan juga anaknya. dirinya di usir dan tidak bisa bertemu mereka lagi. Hatinya hancur ia memukul mobilnya dan langsung masuk ke dalam. lalu, melajukan mobilnya, Rey mencoba menghubungi nomor ponsel Clery namun tidak di angkat oleh Clery.