Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 102 Ngumpul bareng


__ADS_3

"Pak Dewa," panggil Vita.


"Apa, Vit?" tanya Dewa.


"Pak, hari ini ijin pulang lebih awal ya," ucap Vita.


"Kenapa? suami kamu sakit?" tanya Dewa lagi.


"Tidak, bukan itu," balas Vita.


"Lantas?"


"Keyla mengajak kita untuk kumpul bareng acara pembukaan restoran barunya, Pak," jawab Vita jujur supaya di beri izin.


"Kapan?"


"Nanti jam tujuh, kalau nunggu sampai tutup takut kemalaman nanti chefnya keburu pulang," jelas Vita. Tutup toko jam sembilan belum perjalanan ke restoran Kylas hampir satu jam sedangkan restoran Keyla tutup jam sembilan.


"Ya sudah pergilah." Dewa memberi izin Vita pergi.


"Makasih, Pak Dewa," balas Vita. Dewa membalasnya dengan anggukan.


"Pak Dewa mau nitip salam nggak?" tanya Vita dengan nada menggoda.


"Vita, potong gaji nih," balas Dewa.


"Bercanda, Pak hehehe." Vita cengengesan sambil mengangguk tangannya membentuk v sebagai tanda jika ia hanya bercanda.


"Sekarang dia pasti jauh lebih baik ya, Vit?" tanya Pras.


"Bukan main, Pak. Keyla sekarang berubah drastis. Setelah menjadi bos restoran dia sangat menjaga penampilannya, sekarang juga bukan naik motor lagi. Keyla kalau kerja menggunakan mobil, Pak. Beruntung sekali dia mendapatkan suami seperti, Pras," ucap Vita tanpa sadar sesaat kemudian dia baru menyadari jika omongannya menyinggung Dewa, Vita langsung menutup mulutnya sambil beristighfar.


"Pak, maaf Vita nggak bermaksud," ucapnya.


"Tidak apa, Vit. Saya seneng kok bisa lihat dia bahagia. Cinta itu kan tidak bisa di paksakan," balas Dewa dengan tersenyum meskipun masih ada kecewa dalam hatinya.


"Pak Dewa juga baik, memang belum jodoh mudah-mudahan Pak Dewa bisa dapat pendamping yang lebih baik lagi," ucap Vita.


"Amin." Dewa mengaminkan doa Vita.


"Eh, tapi kan udah ada, Pak di depan mata tinggal di ajak nikah aja dengan senang hati dia langsung mau," ujar Vita.


"Sembarangan kalau ngomong, saya yang nggak mau." Dewa sudah tau arah bicara Vita ke siapa.

__ADS_1


"Jangan gitu, Pak. Awas nanti jodoh beneran hahaha." Vita tertawa terbahak-bahak ngebayangin jika Dewa bersama Mila. Memang dasar karyawan nggak ada akhlak. Ngomong sama bos udah kayak bercanda sama temennya sendiri. Itulah keakraban Dewa dan para karyawannya.


"Kamu ya doain saya jelek sekali," kesal Dewa. Bukan Dewa menolak, tapi jika masih ada yang lain dan bisa memilih dia menginginkan yang lain bukan Mila.


"Lha saya doain bagus, Pak. Gimana sih, Pak Dewa." Vita berkata seperti orang bener padahal di dalam hatinya pengen ketawa ngakak.


"Ya masa kamu doain saya sama Mila, memangnya tidak ada yang lain," jelas Dewa.


"Ya kan yang lagi bucin sama Pak Dewa, si Mila," balas Vita. Sebenarnya Vita sudah tahu jika Dewa tidak suka sama Mila, tapi dia penasaran karena kan bisa jadi setelah di tinggal Keyla, Dewa bisa membuka hatinya untuk Mila, tapi ternyata tetap saja tidak ada sedikitpun cinta Dewa untuk Mila.


"Bukankah kata orang lebih baik di cintai dari pada mencintai," sambung Vita.


"Kamu udah kayak orang bener saja, Vit," celetuk Dewa.


"Saya kan memang bener, Pak. Kalau nggak bener nggak mungkin kerja." Vita terus saja menjawab ucapan Dewa.


"Terserah kamu sajalah pusing saya." Dewa menyerah pusing dia berdebat dengan Vita yang kehabisan kata-kata membalas semua ucapannya.


Vita membalasnya dengan cekikikan.


Bos dan anak buah seakan tidak ada jarak begitulah yang membuat mereka bertahan kerja. Terkadang bos itu bagaikan teman bagi mereka karena bosnya bisa di ajak bercanda kalau ngobrol juga nyambung. Apalagi saat awal bulan pasti Dewa membawa mereka makan bersama sambil ngobrol santai membahas perkembangan toko, mereka seakan teman. Orang yang melihat juga pasti akan berpikir jika mereka teman bukan bos dan karyawan.


*


*


*


"Mas Robi, nanti siapkan menu agak banyak ya pilihannya karena teman-teman saya akan kesini," ucap Keyla.


"Baik, Bu," balas Chef Robi.


"Jangan panggil saya, Bu. Saya masih muda," jelas Keyla tertawa kecil.


"Kan memang sudah sewajarnya Bu, karena kan Bu Keyla bos saya," balas Robi.


"Tidak apa, panggil saja saya Mba sepertinya itu jauh lebih baik," ucap Keyla.


"Takut tidak sopan, Bu." Robi menolak dengan sebutan nama yang di suruh Keyla.


"Tidak apa, malu saya jika di panggil Bu." Keyla bersikukuh menolak di panggil Bu. Dia merasa tua banget jika di panggil Bu. Keyla merasa lebih nyaman kalau di panggil Mba, sopan dan santai.


"Baiklah, Bu. Eh ... Mba," ucap Robi dari pada berdebat sama bosnya.

__ADS_1


*


*


*


Vita, Airin, dan Anita kini sudah di perjalanan menuju lokasi. Tepat satu setengah jam mereka sampai di restoran Kylas mereka memarkirkan kendaraannya setelah itu bergegas masuk ke dalam.


"Selamat datang, Kak," sapa karyawan yang berada di kasir.


"Mba, mau tanya Keyla ada nggak?" tanya Vita.


"Keyla pemilik restoran?" Si Mba balik bertanya.


"Iya," jawab Vita.


"Ada, Kak. Apa Kakak sudah buat janji dengan beliau?" tanya Mba kasir.


"Sudah," balas Vita.


"Baiklah, tunggu sebentar." Karyawan tersebut memanggil Keyla melalui sambungan telepon.


"Kak, silakan duduk, sebentar lagi Mba Keyla datang," ucap Mba Kaair.


"Terima kasih, Mba." Vita, Anita, dan Anita berjalan memilih meja yang nyaman untuk mereka ngobrol.


Tak lama Keyla datang menghampiri mereka. "Hai ... gaes," sapa Keyla kemudian duduk bergabung para sahabatnya.


"Wow ... Bu bos." Vita memutar tubuh Keyla.


"Lu apaan sih, Vit lebay banget," omel Keyla.


"Key, hari ini lu beda banget lho," jelas Vita.


"Iya, Key," sambung Airin dan Anita.


"Ah ... sudahlah kalian jangan lebay gitu," balas Keyla.


"Mau makan di sini apa di dalam?" tanya Keyla memberikan penawaran pada sahabatnya.


"Terserah lu aja, Key," jawab Vita.


"Di dalam saja yuk! sepertinya lebih nyaman," ucap Keyla mengajak para sahabatnya makan di dalam ruangannya saja biar lebih bebas.

__ADS_1


__ADS_2