
Tanpa sengaja Dewa mendengar obrolan Keyla dan kawan-kawan saat mereka kumpul sebelum Keyla pulang.
Vita yang memiliki dengan jiwa kepo akut terus saja menggoda Keyla saat dia melihat cincin putih melingkar di jari manis Keyla.
"Key, itu cincin baru?" tanya Vita.
"Jangan bilang Lu sudah tunangan sama Pras tanpa ngundang kita?" tanya Anita.
"Wah, parah lu Key, tega banget sama kita," sambung Airin.
"Hus-hust." Keyla menutup mulut dengan jari telunjuknya.
"Gini ya sahabat gua tercinta bukan gua nggak mau bilang sama kalian tapi, kemarin itu mendadak karena Pras mumpung ada di rumah," jelas Keyla.
"Awalnya kan kita rencanakan akhir bulan, ternyata Ayah nggak bisa karena harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan dan Pras sibuk ngurus usaha barunya jadi terpaksa acara di majukan," ujar Keyla.
"Oh, begono. Pantas saja kemarin dia bawa makanan banyak jadi habis lamaran toh." Vita mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Ah, selamat ya, gua senang banget dengernya mudah-mudahan langgeng sampai pernikahan." Airin memeluk Keyla di ikuti Anita dan Vita jadilah mereka seperti teletubbies saling berpelukan.
"Terus acara kapan di gelar Key?" tanya Airin.
"Insya'Allah bulan depan tapi, tetap kita nunggu keputusan dari pihak Pras dulu," jawab Keyla.
"Gue, kapan dong?" teriak Airin.
"Berisik," omel Vita.
__ADS_1
"Kalian pada ngapain, ghibah?" tebak Heru.
"Hist, Mas Heru, kita ini bukannya ghibah tapi, sedang ngomongin orang," balas Vita.
"Sama-sama saja dodol," ujar Heru.
"Beda Mas, ghibah sama ngomongin orang." Vita tak mau kalah.
"Beda dari dari mananya?" tanya Heru.
"Dari tulisan saja beda di baca pun beda gimana sih Mas gitu saja nggak ngerti," omel Vita.
"Astaghfirullah, gua yang waras ngalah." Heru berjalan meninggalkan para emak-emak pusing kalau ngobrol sama mereka suka bikin darting.
"Eh, Bos lu kemana?" tanya Heru.
"Iya, bos lu pak Dewa," ucap Heru.
"Mas Heru, nih aneh deh kan Mas Heru yang sama pak Dewa masa nanya kita," jelas Vita.
"Eh, Suminah kalau gua bareng dia gua nggak bakal nanya sama kalian." Heru yang kesal.
"Lha terus?" mereka saling menatap.
"Tadi dia bilang ke toko duluan gua lagi beli bakso di depan situ," jelas Heru.
"Tapi dari tadi kita nggak liat pak Dewa masuk." Mereka berempat meyakinkan Heru, mereka juga bingung perasaan dari tadi nggak ada orang masuk.
__ADS_1
"Kemana tuh orang ya?" Heru berlalu pergi ke luar toko sambil berusaha menelpon Dewa.
"Lu, dimana sih, gue cariin di toko nggak ada?" tanya Heru pada Dewa setelah sambungan telponnya tersambung.
"Gua ada di mobil," jawab Dewa.
"Astaghfirullah." Heru mengelus dada kesel dengan Dewa dia udah bingung nyariin ternyata enak-enak di dalam mobil. Heru segera menyusul Dewa ke parkiran.
"Buka pintunya!" Heru mengetuk kaca mobil.
"Lu, ngapain kesini?" tanya Dewa.
"Harusnya gua yang nanya lu ngapain disini? tadi lu bilang ke toko ngapain di parkiran?" bukan menjawab Heru malah balik bertanya.
"Lu, gue tanya bukannya jawab malah nanya bererot," omel Dewa.
"Sudah jawab aja pertanyaan gue." Heru tersenyum memperlihatkan gigi pepsodent.
"Gua, lagi pengen sendiri aja," ucap Dewa.
"Nggak mungkin pasti tadi terjadi sesuatu. Dewa-dewa gua itu kenal lu bukan sebulan dua bulan tapi, sudah bertahun-tahun jadi lu gak bisa bohongin gua," balas Heru.
Heru membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam duduk di kursi depan menatap kearah Dewa. Heru tau Dewa pasti sangat sedih dan terluka karena waktu itu. Dewa benar-benar belum bisa move on dari Keyla.
Heru bingung harus apa, dia nggak bisa memaksa perasaan orang lain karena cinta tak bisa di paksa.
****
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya kakak.