
bab 161
.
.
.
" terserah kau mau menerima saya atau tidak. setidaknya saya sudah menceritakan semuanya. saya memang hanya seorang brandalan. semua bisa kita rahasiakan dan kau tetap memakai nama Wirnawan, saya hanya ingin menghilangkan rasa gundah yang terus terasa dihati saya." ujar Adam kepada Attalah. dimana mereka berdua tengah berbincang hanya berdua. entah mengapa Attalah sendiri yang meminta untuk Adam lah yang menjelaskan semuanya.
" kalian menghianati papa Wirnawan ??" Attalah memicingkan matanya.
" iya. aku dan mamamu memang berselingkuh, hingga memiliki kau dan Alm. Mika. tapi mamamu memang sudah menjalin hubungan denganku jauh sebelum ia mengenal wirnawan papamu, bahkan saat mereka menikah, mamamu memang sudah mengandung kau."terang Adam tanpa takut dan dengan tenang.
Attalah memejamkan matanya. sesak masih terasa jika mengingat semuanya.
" aku belum bisa memanggilmu dengan sebutan orangtua. tapi aku akan memaafkanmu dengan semua yang terjadi." ucap Attalah lirih.
Adam mengangguk. " itu tidaklah masalah, setidaknya hatiku lega jika kau sudah tau semuanya." Adam lalu bangkit dari duduknya.
" terima kasih atas maaf yang kau berikan. saya permisi." Adam.melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan kerja Attalah.
ingin rasanya Attalah mencegah, namun lidahnya seolah sudah kelu dan tidak bisa berucap apapun.
Adam keluar dengan wajah nampak bahagia, meski ia tidak bisa memeluk Attalah, setidaknya kata maaf sudah ia berikan dan sudah diterima oleh putranya.
__ADS_1
" kakek !!!" panggilan yang mendenyutkan hati Adam terdengar seiring dengan suara kaki berlari kearahnya. Adam seketika menoleh dan melihat sosok gadis mungil yang berlari kearahnya.
Erlita menengadah menatap Adam. " kakek mau kemana ??" tanya Erlita dengan polosnya.
Adam lalu berjongkok dengan senyum yang langsung ia terbitkan. " kakek harus pulang nak. kau..memanggilku kakek ??"
" iya..bunda bilang kakek ini kakeknya Er.." ujar Erlita.
Adam membuka tangannya. " boleh kakek memelukmu ??"
Erlita segera mengangguk dan langsung memeluk Adam. Adam begitu meresapi pelukan Erlita. terasa damai dan tenang.
Dari kejauhan, Mama tyas terus menitikkan air mata saat melihat Adam dan Erlita yang saling berpelukan dengan Namira yang berada disisi mama tyas.
Adam menerbitkan senyum seraya mengusap surai rambut Erlita yang mulai panjang.
" nanti kalau sudah saatnya Kakek akan tinggal disini. apa Er mau bersabar ??"
" kapan kek ??" tanya Erlita.
" secepatnya sayang. Er jangan kawatir, kakek pasti akan sering kemari mengunjungi Er.." jawab Adam dengan semangat.
" janji ya kek.. Er mau nomer telfonnya kakek, nanti kalau kakek lupa kan Er bisa telfon." ucap Erlita. sontak Adam terkekeh dengan ucapan lugu cucu pertamanya itu.
" baiklah." jawab Adam dengan masih terlihat sisa tawanya.
__ADS_1
" bunda.!! er pinjam ponselnya.." panggil Erlita.
Namira mendekat dan menyerahkan ponselnya pada Erlita.
" Kakek tulis ya ??" Erlita lalu menyerahkan ponsel yang ia minta dari Namira kepada Adam.
Adam menerimanya dan langsung mengetik dan menyimpan nomernya. setelahnya, Adam menyerahkan kembali pada Erlita.
" Ayah yakin akan pergi ??" tanya Namira dengan sebutan Ayah barusan Adam tersenyum kearahnya.
" iya. besok aku akan datang lagi." jawab adam dengan jelas.
" nanti aku akan coba bicara dengan Atta. ayah sabar ya ??" ucap Namira.
" jangan menantuku, biarkan saja. hati orang jangan pernah dipaksa. ayah akan menerima kapanpun itu."balas Adam.
Namira mengangguk pelan mengiyakan.
" tyas. berkumpullah dengan anak menantu dan cucumu, aku pergi dulu." pamit Adam.
meski merasa berat, mama tyas hanya bisa pasrah. ia dan adam tidak mungkin tinggal bersama.
.
.
__ADS_1