
bab 157
.
.
Namira mengerjapkan mata beberapa kali saat kesadarannya kembali. netranya berkeliling dari langit-langit ruangan dimana ia terbaring, lalu matanya berhenti saat menangkap wajah pria yang amat ia cintai duduk disisi pembaringannya.
" kau sudah sadar sayang ??" tanya Attalah.
"aku dimana mas ??" tanya Namira seraya membenahi tidurnya untuk bersandar. Attalah buru-buru membantu Namira dan duduk disisi Namira merengkuh tubuh yang amat ia sayangi.
" kau tadi kesakitan. aku kawatir makanya aku bawa kerumah sakit saja." ujar Attalah.
Namira meraba perutnya, ia langsung terperajak saat ingat rasa sakit yang luar biasa yang ia rasakan.
" lalu dia baik-baik saja kan ?? tidak apa-apakan ??" Namira nampak begitu kawatir dari raut wajahnya. menengadah kearah Attalah.
Attalah mengusap pipi Namira dengan lembut. "tenanglah, kau ibu yang kuat. dia baik-baik saja." ujar Attalah dengan senyum terkembang dari bibirnya.
Namira bisa melihat keceriaan diwajah suaminya. ia cukup merasa heran, Attalah kini sudah tak sekusut tadi. Namira terus memandang wajah Suaminya.
" kau baik-baik saja ??" tanya Namira keheranan.
cup..
Attalah tak menjawab malah mengecup pipi Namira dengan cepat. tak lupa senyum terus terbit diwajahnya.
" Mas.. aku bertanya !!!?" protes Namira.
__ADS_1
Attalah terkekeh dengan respon Namira. ia kembali memeluk tubuh Namira dengan erat.
" aku selalu baik kalau kau ada disisiku sayang.."
Namira sedikit mendorong tubuh Attalah yang mendekap tubuhnya.
" kau mau menghiburku ya ?? sampai tidak memikirkan dirimu sendiri ??" terka Namira.
Attalah membenahi duduknya hingga berhadapan dengan Namira.
" dengarkan aku. tidak ada yang lebih penting didunia ini selain kau, Erlita dan dia." ujar Attalah sembari mengusap perut rata Namira.
" lalu bagaimana dengan -"
" shutt !!." Attalah menyela balasan Namira.
Dengan menggenggam jemari Namira Attalah menatap netra yang baginya amat indah dan begitu merindukan jika sedetik saja tidak memandang netra itu.
" apa kau yakin ?? kau sudah bisa menerimanya ??" Namira memastikan kembali.
" yakin tidaknya aku sendiri tidak tau. tapi jika memang kebenarannya seperti itu aku bisa apa, sekarang yang paling penting adalah kau, Erlita dan Dia." terang Attalah.
Namira menerbitkan senyum, entah ia harus bersyukur atau tidak, karna insiden perutnya yang tiba-tiba kram dan sakit, Kini Attalah mulai bisa membuka hati yang gelap sejak kemarin. Tak menunggu apapun, Namira berhambur kepelukan Attalah.
" kau pria hebat suamiku.. kau sangat bijak."gumam Namira.
" apa kau tidak mau memberiku hadiah ?? selamat atau apa begitu !?" Goda Attalah.
Namira yang keheranan mengangkat wajahnya menatap Attalah yang menyeringai misterius.
__ADS_1
"memangnya kau naik jabatan ?? kenapa harus memberi ucapan !!"
" ayolah sayang, susah loh menerima kenyataan jika aku ini anak berandalan.." balas Attalah sekenanya.
" sembarangan kau mengatai ayahmu sendiri seperti itu !!" sanggah Namira.
" itu kenyataannya sayangku.." Attalah yang begitu gemas dengan Namira memegang kedua pipi Namira dengan gemasnya.
Namira akhirnya terkekeh dengan godaan suaminya.
" Mendekatlah aku akan memberimu satu ciuman." ucap Namira dengan sumringah.
" baiklah." Attalah memanyunkan bibirnya dan mendekat pada Namira.
Namira menutupi mulutnya karna merasa geli dengan tingkah suaminya.
" pejamkan matamu !!" protes Namira.
" memang harus ??" Attalah membalas.
" tentu saja..!!"
" sepertinya aku tidak sabar." Attalah menarik tengkuk Namira dengan cepat hingga membuat Namira terkejut. Tanpa aba-aba, Attalah menyambar bibir Namira dan menyesapnya dengan dalam.
meski awalnya Terkejut, Namun saat merasakan kehangatan dari Attalah, Namira dengan sendirinya mengalungkan kedua tangannya dileher Attalah. saling memejamkan mata, meresapi setiap kehangatan dalam pertukaran slavina mereka berdua.
.
.
__ADS_1
.
.