Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 109 Bukan mantan tapi ttm


__ADS_3

Ketika Allah telah menentukan pilihan buat kita, pasti itu adalah yang terbaik untuk kita, tapi jika terjadi dengan hubungan kalian maka jangan salahkan Allah, tapi introspeksi lah pada diri sendiri.


*


*


*


"Mas, minggu depan Key dapat undangan pernikahan Mas ikut datang ya?" ucap Keyla.


"Insya'Allah, siapa yang nikah?" tanya Pras.


"Firdaus," jawab Keyla.


"Mantan," celetuk Pras.


"Ih ... bukan, Key nggak pernah pacaran sama dia," balas Keyla dengan nada tegas.


"Yakin, aku pernah lihat kamu berduaan sama dia," ucap Pras dengan tersenyum kecil.


"Kita cuma teman tidak lebih. Dia memang mencintai Key, tapi aku nggak mau," jelas Keyla.

__ADS_1


"Teman apa teman?" goda Pras.


"Teman, Mas." Keyla meyakinkan Pras.


"Teman tapi mesra, iya kan." Pras mencubit hidung Keyla dengan gemas.


"Ah ... Mas," keluh Keyla.


"Yang suka sama kamu tuh banyak, kenapa kamu pilih Mas?" Pras menatap kearah Keyla.


"He'em ... kenapa ya, jangan tanya itu deh." Keyla menolak menjawab pertanyaan Pras. Dia malu dan takut salah menjawab, bisa mengakibatkan perang dunia tiga.


"Kenapa? jangan-jangan kamu terima aku bukan karena cinta?" Pras menebak-nebak.


"Apa kamu yakin jika aku bisa seperti apa yang kamu harapkan?" tanya Pras.


"Mas aku memilih kamu bukan asal memilih, tapi aku bertanya terlebih dahulu pada Allah, Aku berdoa dan memohon pada-Nya agar di tunjukkan mana yang pantas buat Key dan pilihannya adalah kamu maka kamulah laki-laki yang terbaik yang Allah kirim buat Key," balas Keyla.


Pras memeluk Keyla. "Terima kasih, Mas akan berusaha menjadi suami yang terbaik," ucap Pras. Dia merasa bahagia sekali karena menjadi laki-laki satu-satunya pilihan Keyla.


*

__ADS_1


*


*


Di tempat lain.


"Kenapa sih lu, mau jadi pengantin muka kusut begitu?" tanya Ferry karena melihat wajah Firdaus yang di tekuk. Biasanya orang nikah itu wajahnya semringah, cerah, bahagia, lha ini sebaliknya.


"Gue pusing, ragu antara maju atau mundur," balas Firdaus.


"Heh ... Bambang tinggal seminggu lagi lu mau mundur, lu mau cari mati," omel Ferry. Acara pernikahan tinggal satu minggu lagi mau di batalin.


"Gue nggak cinta sama dia, Fer. Gue takut nyakitin dia, kecewain dia," jelas Firdaus.


"Kalau lu nggak cinta kenapa lu mau tunangan sama dia?" tanya Ferry dengan serius.


"Gue terpaksa, semua itu nyokap gue yang ngatur, bonyok gue yang mau bukan diri gue, mereka nggak mau denger pendapat gue, gue udah kayak boneka mereka," jawab Firdaus. Kecewa dengan orang tuanya karena mereka tidak memberikan kebebasan pada anaknya.


"Fir, cinta itu bisa hadir dengan seiring berjalannya waktu." Ferry mencoba menasehati Firdaus. Cinta memang tidak bisa di paksa, tapi jika kita sering bersama suatu hari nanti pasti cinta itu akan datang tanpa kita sadari.


"Semoga, tapi saat ini gua masih belum ada rasa sedikit pun untuknya, yang gue rasa hanya kasian karena dia mau di jodohkan sama gua," balas Firdaus.

__ADS_1


"Gue yakin lu pasti bisa, Keyla sudah bahagia dengan pilihannya. Kini giliran lu buktikan kalau lu juga bisa bahagia bersama yang lain," ucap Ferry sambil memegang bahu Firdaus. Ferry tahu di hati Firdaus masih ada Keyla, tapi kita juga tidak bisa berlarut-larut mencintai seseorang yang sudah milik orang lain. Dia berhak bagia dengan pilihannya, kita juga harus bahagia dengan pilihan kita.


Firdaus hanya diam tak menjawab. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Menolak tidak mungkin karena dia takut melukai perasaan orang tuanya, tapi kini dia tersiksa dengan keadaan yang mengharuskan dia menerima kenyataan yang tak sesuai dengan keinginannya. Firdaus rela mengorbankan perasaannya dari pada harus menyakiti hati kedua orang tuanya.


__ADS_2