Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Wanita beruntung


__ADS_3

bab 114


.


.


.


Sedangkan Dirumah widia, saat makan malam sudah selesai, Ayah wira membuka suara kembali.


" mohon maaf sebelumnya papa dan mamanya Widia. bukan maksud kami ingin memburu-buru hubungan anak-anak kita. tapi apa tidak sebaiknya waktu pernikahan kita tentukan sekarang saja ?? usia mereka sepertinya sudah terlalu matang untuk pernikahan." terang ayah wira.


Widia menatap Bima seolah menanyakan sesuatu, dan Bima hanya menjawab dengan mengangguk dengan senyum manisnya.


" itu ide bagus pak Wira, saya sebenarnya juga mengharapkan itu."balas Mama arum.


" syukurlah jika ibu Arum setuju. kita percepat saja."timpal ibu wulan.


" baiklah. kira-kira kapan yang bagus ya ??" tanya Mama arum.


" semua hari bagus bu arum, bagaimana jika satu bulan dari sekarang ?? sekiranya untuk persiapan kan sudah cukup ??" tawar ayah wira.


papa Tedy dan Mama arum saling tatap dengan senyum penuh kebahagiaan, calon besan mereka seolah tau arah fikiran mereka berdua.


" baiklah. kami setuju." balas Papa tedy dan mama arum.bersamaan.


Semua setuju dan sudah sepakat, Widia sesekali melirik Bima, trauma dipernikahan pertama yang diabaikan karna tanpa cinta melintas dibenak widia, "apa kau akan mengabaikanku juga Bim ?? bahkan aku tau kau menikahiku karna bertanggung jawab atas kelalaianku sendiri..??" batin widia.

__ADS_1


.


.


Namira baru saja membersihkan diri dan bertukar pakaian, ia duduk didepan cermin dimeja riasnya. ritual malam yang biasa ia lakukan, membersihkan wajah.


Melihat sang istri tengah sibuk tanpa melihat dirinya, Attalah teringat sesuatu yang ia beli sewaktu dipusat perbelanjaan.


" sibuk sekali sih ??!!" hembus nafas Attalah terasa hangat ditelinga Namira.


" kau selalu mengejutkanku.." balas Namira dengan senyum manisnya.


" aku ada sesuatu untukmu" bisik Attalah ditelinga Namira.


" apa ??" Namira hendak.berbalik namun ditahan Attalah.


" jika ku beritau bukan kejutan namanya.." Ucap Attalah.


" pejamkan matamu." pinta Attalah.


" harus ??" tanya Namira memastikan.


" tentu saja. kejutan kecil" jawab Attalah sembari mengecup pipi Namira.


" baiklah.." Namira segera memejamkan matanya dan tetap menghadap kecermin riasnya.


Attalah segera membuka kotak perhiasan yang ia pesan sejak lama. senyum terkembang diwajah Attalah saat Melihat indahnya berlian yang ada disana.

__ADS_1


sesekali Attalah melirik Namira memastikan istrinya tidak mengintip.


" jangan mengintip sayang.." pinta Attalah dengan tangan mencoba membuka pengait Liontin berlian itu.


" apa mataku terlihat mengintip ?? cepatlah.."balas Namira dengan gerutuannya.


Attalah menempatkan liontin itu dileher Namira dari arah belakang. "nah sekarang buka matamu." ucap Attalah.


Perlahan Namira membuka matanya, samar hingga terlihat jelas sinar berlian yang bertengger dilehernya.


" aku mencintaimu.." bisik Attalah saat sudah selesai memakaikannya.


" ini indah sekali.. bukannya ini...??" Namira meraba Kalung berlian dilehernya dan menatap Attalah dengan mata berkaca.


" iya sayang.. ini pesanan kita 5 tahun yang lalu. maafkan aku baru memberikannya sekarang, dulu aku berniat memberikan ini saat melamarmu, tapi karna kebohongan mama kita sampai terpisah.." terang Attalah dengan sorot mata teduh dan penuh ketulusan.


Namira sama sekali tidak menyangka lagi-lagi ia mendapat kejutan yang sama sekali tak terfikir olehnya. bukan karna nilai dari berlian itu, melainkan kenangan indah saat mereka sepakat memesan berlian itu dulu.


seakan menjadi wanita paling sempurna, Namira begitu amat bersyukur bisa dicintai dan dimiliki oleh pria yang amat tepat.


Attalah merangkul Namira dari belakang dan memperlihatkan dari dekat "sesuai keinginanmu, ada ukiran nama kita dibatu berlian ini.."


Air mata Namira menetes begitu saja, bukan kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. tak bisa berkata apapun, Namira hanya memutar tubuhnya dan memeluk Attalah dengan erat. Attalah menerima pelukan itu serta membalasnya penuh cinta.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2