
bab 139
.
.
" mas, kenapa anak buah Tio tidak berjaga lagi ?? apa kita sudah aman ??" tanya Namira saat keduanya sudah masuk kedalam kamar mereka.
Attalah mengembangkan senyum seraya merengkuh pundak Namira. "iya sayang.. sekarang kau bebas bisa kemana saja. maaf ya, kemarin aku mengurungmu.."
Namira begitu bahagia hingga memeluk Attalah. "syukurlah mas, berarti kau menemukan pelakunya ??" tanya Namira. seraya mendongakkan wajahnya menatap Attalah.
Attalah mengajak Namira duduk ditepi ranjang, tangan Attalah mengusap wajah istrinya dengan penuh kelembutan. menyelipkan anak rambut Namira yang terjatuh.
" maafkan aku sayang.. pelakunya..pelakunya adalah mama." ucap Attalah dengan lirih.
Namira terpaku dengan mata bulat yang tidak berkedip beberapa saat.
" aku tau kau begitu kecewa. tapi aku akan menjatuhkan hukuman lagi pada mama.." lanjut Attalah
Namira tersadar dan segera mengedipkan matanya beberapa kali. "mas.. kau yakin mama pelakunya ??" tanya Namira dengan serius.
" iya. pelaku yang melempar batu dirumah kita, sudah tertangkap, dan dia mengatakan jika mama yang membayarnya untuk meneror kita."terang Attalah dengan wajah sendu.
Namira menatap kearah lain, seolah ia sedang memikirkan sesuatu. "tidak mungkin mama.."batin Namira.
Attalah mengusap punggung Namira. "tenanglah sayang. apapun yang mama lakukan aku akan selalu melindungi dan disisimu..sekarang istirahat saja ya, jangan diterlalu difikirkan.." Attalah mencoba menenangkan Namira.
" tapi mas.. mungkin saja bukan..-"
" sudah..sudah.. jangan bahas itu lagi, tolong mengertilah, aku juga begitu kecewa terhadap mama" Attalah menimpali ucapan Namira.
Namira akhirnya hanya bisa diam, fikirannya terus memutar meski saat ini dalam dekapan suaminya diatas ranjang.
__ADS_1
"tapi yang menghubungiku bukan mama.. siapa wanita itu ??" Namira terus bertanya-tanya dalam hati dan menerka.
.
.
.
Malam telah berganti pagi, Sinar matahari sudah menampakkan diri dengan cerahnya. banyak orang sudah melakukan aktivitas dipagi hari. dari memulai pekerjaan mereka hingga mengantar anak sekolah.
termasuk juga Namira yang mengantar putrinya bersekolah kembali. Erlita yang begitu senang tak memudarkan senyumnnya dengan menggandeng jemari sang Bunda, memasuki halaman sekolahnya.
" Masuklah sayang..nanti bunda jemput lagi.." ujar Namira seraya mengecup kening putrinya.
" iya bunda." Erlita tak lupa mencium tangan Namira sebelum berlari masuk kedalam ruang kelas.
Namira masih berdiri dengan melipat kedua tangannya.
saat Erlita sudah tak terlihat, Namira memutar tubuhnya dan kembali menuju mobil yang berada diluar sekolahan.
.
.
meski rasa takut dan kawatir terus hinggap dihati Namira, namun ia berusaha kuat dengan beberapa kali mengatiur nafas agar lebih tenang.
Saat sudah tiba. sang sopir segera membukakan pintu mobil untuk Namira.
" bapak tunggu disini saja, saya hanya sebentar." ucap Namira.
" nyonya yakin akan sendiri ??" tanya Sang sopir
" iya. tenang saja."balas Namira yang langsung melangkahkan kaki memasuki Lapas dimana mama.Tyas ditahan.
__ADS_1
Setelah meminta kepada penjaga dilapas itu. Namira dipersilahkan untuk duduk dan menunggu.
tak lama mama tyas muncul dengan didampingi polisi wanita yang membawa Mama tyas.
pertama kali yang Namira terima adalah tatapan tajam dan nampak tidak suka tehjadap dirinya. Namira menelan ludahnya beberapa kali dan mengerjapkan mata agar ketakutannya mereda.
Mama tyas duduk tanpa berkata namun tatapannya tak lepas dari sosok wanita yang amat ia benci.
" apa kabar nyonya tyas ??" sapa Namira dengan menundukkan wajahnya.
" jangan basa basi.!! apa yang kau inginkan ?? bukannya kau sudah mengambil anakku !!?" balas Mama tyas dengan bernada keras.
" maafkan saya nyonya..saya dan Attalah...-"
" hentikan ocehanmu tentang cinta antara kau dan Attalah !!! sekarang bicaralah kau mau apa menemuiku !!!" gertak mama tyas suaranya bahkan sedikit meninggi.
Namira mengatur nafasnya dan memberanikan diri membalas tatapan mama tyas yang begitu tajam.
" apa nyonya yang melakukan teror terhadap kami ??" tanya Namira
Mama tyas tersenyum hingga tertawa kecil. "kau !! jadi kau yang meracuni otak putraku agar menuduhku !!!?"
" saya hanya bertanya nyonya ?? bukan menuduh " balas Namira. entah keberanian dari mana Namira membalas ucapan mama tyas.
" apa kau fikir aku ini gila !!! mana mungkin aku melukai putraku sendiri !!! dimana otakmu itu !!??" bentak mama tyas.
" tapi nyonya memang tidak menyukai saya kan ??!" timpal Namira bahkan matanya sudah mulai.berkaca.
" ya !!! saya memang tidak menyukaimu !!! tapi buat apa saya mengotori diri dengan menerormu !!! jika mau saya bisa membunuhmu sekarang juga !!!" Bentak mama tyas dengan mata berapi-api.
Namira dan mama tyas saling lempar tatapan dengan nafas sama-sama memburu.
.
__ADS_1
.
.