
Jika Allah sudah berkehendak manusia hanya bisa menerima takdir. Yakinlah bahwa setiap takdir Allah itu yang terbaik untuk kita.
Karena tadi pagi tidak bawa motor akibat ban kempes, sesuai janjinya Pras menjemput Keyla.
Tepat pukul 14.00 Pras sudah menunggu di depan toko. Sedangkan yang ditunggu masih bercanda sama para sahabatnya.
Lima belas menit kemudian Keyla keluar bersama Airin. "Key, itu bukannya mobil Pras?" tanya Airin yang tak sengaja melihat mobil Pras parkir tak jauh dari toko.
Keyla pun menoleh sesuai arahan Airin. "Iya," jawab Keyla.
"Cie ... yang sudah di jemput," goda Airin dengan menyenggol bahu Keyla.
"Apa sih. Gue duluan ya Rin," pamit Keyla.
"Iya, Key, hati-hati," balas Airin.
Setelah berpamitan dengan Airin Keyla berjalan menghampiri mobil Pras. "Sudah, lama menunggu Mas?" tanya Keyla, kini dia sudah berada di dalam mobil duduk di samping Pras.
"Lumayan," jawab Pras, karena yang ditunggu sudah datang Pras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Keyla, dia baru sadar jika Pras melajukan mobil bukan kearah rumahnya.
"Ikut sebentar ya, saya ada urusan di restoran," balas Pras. Keyla mengangguk sebagai jawaban.
Dua puluh menit perjalanan. Pras memarkirkan mobilnya disebuah restoran tapi berbeda dengan restoran biasanya, disini tempat makannya disaung-saung di pinggir kolam ikan banyak juga tempat untuk berfoto dan bersantai ada vila untuk menginap banyak yang menyewa tempat ini untuk acara pernikahan atau tunangan. Karena tempatnya yang luas, adem sejuk karena banyak pepohonan dan juga orang yang datang bukan hanya kondangan tapi juga bisa refreshing pula apalagi yang bawa anak-anak bisa bermain di ayunan dan memberi makan ikan.
"Ayo, masuk!" Pras mengajak Keyla masuk ke area restoran. Keyla berjalan dibelakang Pras.
"Selamat siang, Pak, Bu," sapa salah satu pegawai restoran.
"Siang juga Mba. Gimana persiapannya Mba?" tanya Pra.
"Alhamdulillah sudah 90% Pak," jawab pegawai tersebut.
"Sana kesana dulu," pamit Pras. Pegawai tersebut mengangguk.
Pras mengajak Keyla keliling resto serta melihat persiapan acara besok. "Mas, kita mau ngapain disini? Mas Pras mau nikah?" tanya Keyla.
"Nikah sama siapa, pengantin ceweknya saja belum nerima cinta saya," sindir Pras.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Keyla.
"Kamu," Jawab Pras.
Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Keyla karena sampai sekarang belum bisa memberikan kepastian pada Pras.
"Maaf," lirih Keyla.
"Tidak apa," balas Pras sambil mengelus lembut kepala Keyla.
"Maaf, Pak," panggil salah satu pegawai resto dari arah belakang mengangetkan mereka berdua.
"Ah ... iya ada apa Mba?" tanya Pras sedikit salah tingkah karena malu.
"Ada tamu yang ingin bertemu Pak, beliau ada di saung nomor dua," jawab pegawai tersebut.
"Baiklah, saya akan kesana, terima kasih," ucap Pras kemudian dia pergi berjalan menuju saung nomor dua.
"Selamat Siang, Mas, Mba," sapa Pras setelah sampai di saung.
"Siang juga Pak," balas tamu tersebut.
"Ah ... iya alhamdulillah," balas Pras nggak mungkin kan dia bilang bukan istri saya, jadi tak apalah bokong sedikit meskipun tetap dosa, hehe.
"Ada yang bisa saya bantu Mas?" tanya Pras sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Pak ini saya minggu depan ingin menyewa tempat ini untuk acara pernikahan kami," tutur tamu tersebut.
"Iya, tapi saya belum bisa kasih kepastian ya Mas, nanti Masnya bisa langsung hubungi asisten saya." Karena untuk urusan kerjaan semua asisten pribadi Pras yang mengurus Pras hanya mengetahui setelah ada laporan masuk dari sang asisten.
"Baik, Pak," ujar tamu tersebut.
Pras mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi Rudi asisten pribadi Pras.
Tak lama Rudi datang. "Ada apa Pak?" tanya Rudi.
"Ini ada tamu, silakan kamu urus jadwalnya. Saya permisi dulu." Pras berpamitan dengan tamunya kemudian pergi meninggalkan saung tersebut membawa Keyla ke ruangan pribadinya.
"Masuk Key!" Pras mengajak Keyla masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
Keyla pun masuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangan.
"Kamu mau makan Key?" tanya Pras.
"Tidak, Key masih kenyang," jawab Keyla.
"Baiklah, kalau begitu. Tunggu sebentar ya," ucap Pras.
"Iya." Keyla mengambil ponselnya dari pada bosan menunggu Pras yang sedang melihat laporan, Keyla memilih menonton drakor kesayangannya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Sesekali Keyla melirik kearah Pras. 'Ternyata tempat ini milik Mas Pras, gue kan makin malu dan merasa tak sederajat dengannya, siapalah diriku berdampingan di sampingnya, kenapa sih Mas kamu harus mencintaiku kenapa bukan yang sederajat denganmu sehingga pantas saat bersamamu, batin Keyla.
Ternyata bukan hanya Keyla yang mencuri pandang Pras pun sama diam-diam melirik kearah Keyla. 'Saat kamu diam seperti itu sangat manis andai saja setiap hari bisa seperti ini Key, kamu selalu menemaniku dimana pun aku pergi, bekerja didampingi istri sungguh harapan yang selalu ku impikan, aku berharap kamulah takdir dalam hidupku Key, entah apa yang akan terjadi jika kamu bersanding dengan yang lain, mulutku bisa melepasmu tapi tidak dengan hatiku, batin Pras.
Mereka berdua sama-sama memikirkan dirinya sendiri. Memang cinta tak bisa di paksa jadi ikuti saja alurnya dia mau kemana.
Waktu sudah hampir magrib Pras belum juga selesai mengerjakan pekerjaannya. "Mas apa masih lama?" tanya Keyla.
"Sebentar lagi selesai. Kamu kalau ingin membersikan diri masuk saja keruangan itu Keyla, tadi Vega sudah siapkan baju didalam," ucap Pras menunjuk pintu yang tak jauh dari sofa Keyla duduk. Nadia adalah sekretaris Pras.
"Iya, Mas." Keyla membuka pintu tersebut ternyata di dalam ruangan tersebut ada lemari, satu kasur tidur berukuran lumayan besar dan kamar mandi. Keyla masuk kedalam ruangan tersebut mengambil paper bag yang dimaksud Pras kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Dua puluh menit Keyla keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian yang disiapkan Pras. Keyla berjalan menuju lemari yang ada cerminnya, dia pun bercermin melihat dirinya yang kini seperti berbeda karena dia jarang sekali pakai gaun seperti yang saat ini ia pakai.
"Permisi," ucap seseorang dari luar.
"Masuk," jawab Keyla.
Orang tersebut masuk kedalam menghampiri Keyla. "Pasti ini yang namanya Mba Keyla," tebak orang tersebut.
"Iya," balas Keyla ramah.
"Pantas saja Pak Pras tergila-gila, cantik sekali," ucap orang tersebut. "Kenalin saya Nadia Mba." Nadia mengulurkan tangannya, dengan senang hati Keyla pun menyambut uluran tangan Nadia. "Salam kenal," ujar Keyla.
"Mba, saya kesini di suruh Pak Pras untuk make up Mba Keyla," tutur Nadia.
Keyla menautkan kedua alisnya, dia dibuat bingung dengan ucapan Nadia. Keyla hanya diam dengan pikirannya.
...********************...
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya ya Kakak. hehehe.