Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 103 ngumpul bareng 2


__ADS_3

Menu makan malam sudah siap, semua di sediakan di atas karpet karena mereka makan di ruangan Keyla jadi makan beralaskan karpet, lesehan.


"Enak ya jadi Keyla," ucap Airin.


"Alhamdulillah, semua sudah di atur sama Allah," balas Keyla.


"Key, lu tau nggak, si Vita tadi tuh godain pak Dewa," ujar Anita.


"Bukan, woi gue cuma ngeledekin dia aja. Kan gue penasaran sebenarnya pak Dewa tuh ada rasa nggak sih ke Mila, gue pikir kan setelah patah ada pak bos simpati dan membuka hatinya lah ya buat Mila meski sedikit, tapi ternyata tidak sama sekali. Gue dengarnya antara kasihan, pengen ketawa," jelas Vita.


"Lu kurang kerjaan apa gimana?" tanya Airin.


"Ya kan gue ngilangin rasa penasaran, Rin secara kalian lihat sendiri bagaimana Mila mencintai pak bos, tapi pak Dewa tak menganggapnya sama sekali," jawab Vita sambil tertawa kecil.


"Terus," ucap Airin.


"Pas tadi gue suruh pak Dewa nerima cinta Mila. Dia sangat menolak mentah-mentah, malah gue di omelin di ancam potong gaji segala. Gue bilang aja di cintai lebih baik dari pada mencintai. Pak Dewa tetap memilih orang lain dari pada harus bersama Mila," sambung Vita.


"Wow ... pak bos belum bisa move on, hahaha," ujar Anita dengan tertawa


"Bener banget tuh," timpal Airin. "Eh ... kalau gue pikir-pikir kasihan juga si Mila cintanya harus bertepuk sebelah tangan," lanjutnya.


"Iya, harusnya pak Dewa berpikir ya bagaimana rasa sakitnya patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan itu kan sakit, kenapa dia tidak mau mencoba memberikan sedikit peluang buat Mila masuk kedalam hatinya," sambung Anita.


"Cinta itu tidak bisa di paksakan gaes, biarlah semua berjalan bagaikan air mengalir," ucap Vita.


"Sudahlah, nanti juga kalau sudah saatnya pasti Allah akan mempertemukan mereka dengan pendamping hidupnya." Keyla tak ingin ambil pusing karena hidup itu sudah ada yang mengatur dan menentukan.


"Amin ...," balas mereka bertiga kompak.

__ADS_1


Dasar karyawan pada nggak ada akhlak.


"


*


*


*


"Assalamualaikum, Mba Keyla," ucap seseorang dari luar pintu.


"Wa'alaikumussalam, masuk," balas Keyla.


"Ada apa, Yul?" tanya Keyla saat melihat karyawannya masuk ke dalam ruangan.


"Siapa, Yul? cewek atau cowok?" tanya Keyla.


"Yuli tidak mengenalnya, Mba. Orangnya perempuan," balas Yuli.


"Baiklah, sebentar lagi saya akan turun suruh tunggu saja," ucap Keyla.


"Baik, Mba. Kalau begitu Yuli permisi dulu, Mba," pamit Yuli.


"Iya, Yul."


"Kenapa, Keyla?" tanya Vita.


Keyla mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban jika dia juga tidak mengerti.

__ADS_1


"Gue, keluar sebentar ya," pamit Keyla pada para sahabatnya. Mereka pun mengangguk.


Keyla keluar ruangan berjalan menuju lantai bawah tempat di mana tamu tersebut berada.


"Yuli," panggil Keyla saat sampai di lantai bawah langsung menghampiri Yuli yang berada di belakang kasir.


"Iya, Mba," balas Yuli.


"Mana orangnya?" tanya Keyla.


"Ada di meja pojok, Mba, mari!" Yuli mengantarkan Keyla menemui orang yang mencarinya.


"Permisi, Kak," sapa Yuli.


"Iya, mana pemilik restoran ini yang mengaku istrinya Pras," ucap perempuan tersebut dengan nada yang lumayan tinggi.


"Ada yang bisa saya bantu Kak?" tanya Keyla.


"Gue pengen ketemu sama pemilik restoran ini," jawabnya dengan ketus.


"Saya adalah pemilik restoran ini," ucap Keyla dengan tersenyum ramah.


"Oh, jadi ini perempuan yang berani-beraninya mengaku istri Pras." Perempuan tersebut menatap Keyla dengan tajam, melihat penampilan Keyla dari atas sampai bawah.


"Kakak, siapa ya?" tanya Keyla.


"Gue tunangan, Pras," jawab perempuan tersebut.


Nyes -- bagaikan di sambar petir di siang bolong tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, tubuhnya lemas, hatinya seketika hancur.

__ADS_1


__ADS_2