
bab 127
Malam sudah semakin larut, pesta sudah akan usai. Erlita yang merengek ingin pulang membuat Attalah dan Namira memilih segera pulang setelah berpamitan dengan Kedua orangtua Bima dan Juga Widia.
Tio yang sejak tadi sibuk dengan banyaknya wanita yang terus mengejarnya seolah sampai lupa memberi ucapan selamat kepada temannya itu.
Bima menuntun Widia yang bersiap untuk beristirahat, Namun dihentikan oleh Tio yang memanggil mereka.
" Bima !! widia !!" panggil Tio.
" kau dari mana saja ??! menghilang" tegur Bima.
" maaf, aku terlalu risih dengan wanita-wanita disini. mereka terlalu menganggumiku.." balas Tio.yang membuat widia menutupi seringainya.
" cih.. siapa yang mau dengan kau Tio !!" ejek Bima dengan candaanya.
" banyak Bim..aku saja yang memang belum mau !!" timpal Tio yang langsung mengulurkan tangannya.
"Selamat menempuh hidup baru.."
Bima menerima uluran tangan Tio dan menarik Tio dalam pelukannya.
Bima sangat tau kehidupan percintaan Tio yang memilukan.
" thanks..semoga kau segera menyusul."
" Aku saja belum menemukan dia.." balas Tio yang membuka pelukannya. Bima hanya membalas dengan senyuman, sebab ia tidak ingin membuat Tio kembali bersedih.
lalu beralih pada widia. "selamat, semoga untuk kali ini kau bisa bahagia."
__ADS_1
" terima kasih Tio.. dari dulu kau dan Attalah sangat baik terhadapku.."balas Widia dengan senyum sumringahnya.
" tentu saja..aku ini pria baik sedunia " Tio membusungkan dada memerkan diri sendiri.
Hal itu membuat Bima dan widia tertawa bersama.
" ya sudah. masuk sana, aku harus pulang, selamat melakukan malam pertama.." ejek Tio sembari melangkahkan kaki meninggalkan Bima dan widia.
wajah widia bersemu merah saat mendapat ejekan dari Tio, Sedang kan Bima hanya mendegus saja.
Saat Tio sudah tidak terlihat. Bima menggenggam jemari Widia lagi dan sontak membuat widia terperajak.
" kau kenapa ??" tanya Bima saat melihat widia yang terperajak.
" maaf, aku terkejut." jawab widia sambil menunduk.
" ucapan Tio jangan didengarkan. ayo, kau bilang lelah ??" ajak Bima dengan suara lembutnya.
Widia mulai mengangkat wajahnya dan mengangguk, ia kemudian mengikuti Bima menyusuri lorong hotel itu.
Dirumah Namira langsung merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri. sedangkan Attalah yang baru selesai menidurkan putrinya juga baru masuk kedalam kamar mereka.
baru saja Attalah akan melangkah mendekati Namira yang berbaring diranjang. tiba-tiba sebuah batu besar menerjang jendela kaca mereka.
pyaarrr.. !!!!
" aahhhh !!!" Namira langsung spontan menutup mata dan telingannya.
sedangkan Attalah berjongkok seolah berlindung pada tumpuan tangannya.
__ADS_1
Terkejut, hanya itu yang mereka berdua rasakan. Bahkan nafas Attalah memburu dengan sangat cepat.
Fikirannya hanya satu, Dan Attalah langsung berlari mendekati Namira yang tetap memejamkan mata sembari menutup telinganya.
" sayang kau baik-baik saja ??!" tanya Attalah penuh kawatir.
Namira terengah-engah dengan raut wajah terkejut bercampur takut.
" a..apa..i..tu tadi ??" tanya Namira masih dengan terbata.
Attalah berlari kearah jendela, melihat kesekeliling, nampak Penjaga rumahnya berlarian kesana kemari mengejar pelaku. Attalah mengepalkan kuat tangannya, tersangka yang ada diotaknya hanya satu dan itu membuat Attalah nampak sangat marah.
" mas.. er.." kata Namira, yang teringat erlita.
Mereka berdua berlari kearah kamar putri mereka dan langsung masuk saja, takut terjadi apa-apa pada putrinya.
Attalah dan Namira bernafas lega, setidaknya putri mereka tidak mendengar suara pecahan kaca dari kamar sebelah, tepatnya kamar Attalah dan Namira.
Namira menutup kembali pintu kamar erlita dan mengatur nafasnya dengan bersandar didaun pintu kamar erlita.
attalah merangkul pundak Namira berusaha menenangkan.
" tenanglah sayang.. kita pasti baik-baik saja.."
" aku takut mas.. aku takut sekali.." balas Namira. sebab ia mulai teringat beberapa kali ia hendak dicelakai dan Namira mulai menghubungkan satu persatu kejadian yang menimpanya.
" jangan takut ada aku disini.. penjaga anak buah Tio pasti segera menangkap pelakunya.." Attalah berusaha menenangkan Namira. dengan memeluk Namira sangat erat dan mengusap kepala Namira penuh kelembutan.
ia sesekali hanya melirik ponselnya, anak buah Tio yang ditugaskan menjaga rumah Attalah hanya memberi laporan lewat pesan singkat, agar Namira tidak mendengar apapun. Attalah sangat takut Istrinya menjadi kawatir yang berlebihan.
__ADS_1