
bab 124
.
.
.
Sinar mentari yang cerah, secerah kebahagiaan kedua orangtua Bima dan kedua orangtua Widia. hari ini adalah hari pernikahan Bima dan widia. hari yang bahagia untuk pasangan yang akan menikah.
Bima Sudah siap dengan setelan serba putih yang membuatnya tampak begitu tampan.
Dalam pantulan cermin Bima menatap dirinya, seolah tak percaya ia akan mengucapkan ijab kabul pagi itu.
Bima mengatur nafasnya menarik dan membuang nafas perlahan. jujur saja ia sedikit grogi dengan keadaan.
" ehhem... cieee... yang mau nikah.." ejek Tio dari pintu dengan senyum ejekannya.
Bima langsung memutar tubuhnya dan mendegus.
Tio melangkah masuk dengan tangan dimasukkan kedalam saku.
" biasa saja. kan cuma mau lihat widia yang cantik. bukan mau menangkap mafia" kembali Tio menggoda Bima.
" hentikan ocehanmu bujang lapuk !!" tegur Bima dengan kesal.
Bima mendudukkan dirinya dipinggir tempat tidur.
" ha..ha..ha..ha.." tawa Tio pecah memenuhi seisi ruangan.
" aku bukan bujang, aku ini adalah duda yang belum menikah " ujar Tio yang ikut duduk disisi Bima.
" itu sama saja !!!" bentak Bima yang segera berdiri.
Ayah Wira masuk dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
" kau sudah siap ??" tanya ayah wira.
" dia sangat siap yah, lihat saja dia sejak tadi kebingungan.." jawab Tio penuh semangat.
Bima memukul lengan Tio dengan keras dan langsung berdiri mendekati sang ayah.
" apa sekarang yah ??" pertanyaan Bima membuat Tio terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya
ayah wira pun ikut tertawa dengan menutupi mulutnya.
" kenapa kalian berdua kompak sekali mengejekku sih !!" gerutu Bima.
" kau sangat lucu Bima.. ha..ha..ha.." balas Tio dengan sisa tawa lepasnya.
" sudah..sudah.. ayo..turun.." ajak sang ayah yang juga masih dengan sisa tawanya.
Bima pun segera memperbaiki penampilannya dan melangkah keluar kamar.
" hey Bima !! jangan lupa kata ijab nya ya ??!!!" meski Tio masih didalam kamar namun kata-kata Tio bisa didengar Bima yang terus mengumpat temannya itu.
.
.
.
Sementara dikamar Widia, beberapa perias sudah selesai merias dirinya. Widia dibantu agar berdiri dan bisa melihat dirinya Yang begitu sempurna bagi mata yang melihat.
ini bukan pertama kali bagi widia memakai kebaya putih dan berhadapan dengan peghulu. namun entah mengapa rasa grogi terus menghantui widia.
padahal sewaktu ia dan Attalah dulu menikah tidak seperti ini. Bahkan tangan widia juga begitu dingin dan berkeringat.
Rasa ragu, ketakutan, dan bingung menjadi satu dalam hati dan benak Widia. pernikahan tanpa cinta lagi yang kini ia akan jalani. akankah bertahan ??
Widia mengatur nafasnya dan memejamkan mata.
__ADS_1
" Ya ampun.. mama arum.. lihatlah, bidadari cantik ini.." puji Ibu wulan yang masuk bersamaan dengan Mama arum.
" ibu wulan terlalu memuji. Widia tidak secantik itu kok.." balas mama arum tak lupa senyum menghiasi wajahnya.
Widia berbalik menatap kedua wanita yang begitu ia hormati
" ibu.. mama.." panggil Widia.
Ibu wulan dan mama arum mendekati Widia.
" sayang kau cantik sekali.." puji Ibu wulan.
" ibu juga cantik dengan kebaya ini.." balas Widia yang juga memuji ibu wulan.
" kau sudah siap sayang ?? Bima sudah dibawah dengan papamu." ujar mama Arum
" mama.. widia sudah siap kok.. iya kan sayang ??" balas Ibu wulan begitu antusias.
" ibu wulan bisa saja.." Mama arum tertawa kecil dengan godaan ibu wulan terhadap widia.
mama arum memegang lengan putrinya serta jari Namira digenggam oleh mama arum. mama arum bisa merasakan dinginnya tangan Putrinya.
"sayang.. percayalah ini adalah pernikahan terakhirmu. kau pasti akan bahagia dalam pernikahan kali ini.. mama tau perasaanmu, mama tau traumamu, tapi kau harus ingat satu hal, ada pria baik yang dengan senang hati menerimamu dalam statusmu.. jika dia tidak baik, mama yakin dia akan meninggalkanmu saat tau status janda yang kau sandang." terang mama arum mencoba memberi pencerahan pada putrinya.
Ibu wulan ikut menggandeng lengan calon menantunya itu. "ada ibu juga disisimu. jika Bima melakukan kesalahan, kau boleh mengadu pada Ibu. biar ibu yang menghukumnya, ibu janji ibu tidak akan membeda-bedakan kalian berdua, semua akan menjadi anak ibu.."
Widia merasa menjadi wanita paling beruntung karna berada diantara banyak orang yang begitu menyayanginya. dengan haru Widia memeluk mama arum dan Ibu wulan bersamaan. " terima kasih.." gumam Widia dengan setulus hati.
" jangan bersedih.. hari ini hari bahagiamu, tersenyumlah.." ucap Ibu wulan mengusap air mata Widia yang akan terjatuh.
.
.
.
__ADS_1