
bab 158
.
.
Ketukan pintu membuyarkan ciuman yang sudah mulai memanas antara Attalah dan Namira. pangutan terlepas begitu saja saat keterkejutan melanda keduanya.
" mas, ada orang." ucap Namira seraya membenahi dirinya.
Attalah mendegus dengan kesalnya.
" siapa sih mengganggu saja !!!" umpat Attalah seraya turun dan membuka pintu.
Kala pintu terbuka, nampak Senyum Erlita dihadapannya. seketika pula kekesalan dihati Attalah sirna begitu saja.
" Ayah..!!" Erlita berhambur memeluk Attalah, Reflek Attalah pun menerima dan membawa putri kesayangannya dalam gendongannya.
" anak ayah datang ya ??! maaf ya, ayah belum sempat jemput.." balas Attalah yang selesai mengecup kedua pipi putrinya.
" tidak apa-apa Ayah. bibi Widia baik kok, paman Bima Bilang Bunda kecapekan, jadi tidurnya dirumah sakit. makanya Erlita kesini ayah.." celoteh Erlita.
Attalah mendengarkannya dengan setia.
" kau mengunci pintu kamar rawat istrimu Atta ??" tanya widia yang tidak habis fikir dengan kelakuan mantan suaminya itu.
" tentu saja. perawat sudah berapa kali mengganggu acara berduaan kami !!" balas Attalah tanpa malu.
Bima.menyunggingkan senyum saat mendengar ucapan frontal bapak satu anak itu.
" jika begitu bawa pulang saja istrimu !!" timpal Widia.
" maunya sih begitu !! tapi dokter masih mau memeriksanya kembali." ujar Attalah lagi.
" lalu bagaimana kondisi nya ??" tanya Bima.
" ayo masuk saja. " ajak Attalah memberi jalan untuk Bima dan widia masuk kedalam ruang rawat Namira.
__ADS_1
" bunda !!!" panggil Erlita yang masih dalam gendongan ayahnya.
" sayangnya bunda... kesini ya.."balas Namira begitu bahagia.
Seakan tau putrinya pasti akan mencium sang bunda, Attalah segera mencondongkan tubuhya kedepan agar Erlita bisa memberi ciuman rindu untuk sang bundanya.
" Mira.." sapa Widia yang langsung mendekati Namira dan menggenggam jemari Namira.
" mbak Widia..sudah dari tadi mbak ??" tanya Namira dengan senyum menghiasi wajahnya.
"baru saja. Er pengen ketemu dengamu." jawab Widia.
" maaf sudah merepotkan ya mbak.." ujar Namira.
" kau ini seperti dengan siapa saja !!" tambah Bima.
Namira tertawa kecil dengan balasan temannya itu.
" bagaimana keadaanmu Mira ??" tanya Widia
" aku baik mbak. hanya saja aku sedikit lemah setelah memiliki suami." jawab Namira diimbangi dengan candaan.
Namira mengangguk menyetujui.
" oh ya, biar Erlita aku yang urus. jika kalian akan pulang nanti." ujar Attalah.
" kau mengusir kami ??" tanya Widia dengan candaannya.
" tidak juga.. hanya mengingatkan saja." balas Attalah dengan santai.
" ayah, bibi widia mengajakku jalan-jalan kemarin. seru banget, besok Ayah maukan jalan-jalan sama Er ??" tanya Erlita menceritakan.
" tentu sayang. tunggu sampai bunda sehat ya ??!" balas Attalah tak lupa senyum bahagia terus terbit.
Bima yang bisa melihat Attalah sudah nampak biasa sedikit merasa lega.
" wah.. sedang ngumpul ya ??" suara Oma Rani terdengar dari pintu masuk.
__ADS_1
" Eyang..!!" Erlita melorot dan berlari memeluk sang Eyang yang amat menyayanginya.
Oma Rani pun menerima pelukan cucunya meski tangannya penuh dengan paper bag. Widia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri mantan omanya itu guna membantu Oma Rani membawa bawaannya.
" sini widia bantu oma.." tawar Widia
Oma Rani dengan senang hati mengulurkan paper bag pada widia. Widia buru-buru meletakkan bawaannya diatas meja.
dari pintu Muncul juga Tio yang tadi mengantar oma Rani entah kemana.
" Oma bawa apa ?? kenapa terlihat banyak ??" tanya Attalah.
" makanan untuk kita." balas Oma Rani setelah selesai menciumi cicit kesayangannya.
" kau kenapa Tio ??" bisik Bima yang sudah sejajar dengan Tio.
" kau tau, oma Rani mengajakku berkeliling jakarta !! ya ampun.. aku sampai kelelahan." balas Tio dengan berbisik pula.
" hey Tio, lihatlah teman kita banyak kan ?? tidak rugi oma beli banyak makanan." ucap Oma Rani yang seolah tau sedang dibicarakan.
Tio hanya mendegus, sementara Attalah terkekeh begitupun dengan Bima, widia dan Namira.
" ayo..ayo.. kita makan bersama..." ajak Oma Rani.
" kita makan dirumah sakit ??" tanya Tio memastikan.
" tentu saja !!! kau tidak lihat istriku sedang berbaring !!" timpal Attalah.
" huh !! aku kalah lagi.." umpat Tio dengan kekesalannya.
dan akhirnya semua mengangguk setuju, dan segera mengambil tempat masing-masing.
Namira amat bahagia melihat Attalah sudah bisa menguasai dirinya dan menerima dengan kenyataan yang terungkap.
.
.
__ADS_1
.
.