
bab 135
Bima bersiap setelah menerima telfon dari Tio. entah mengapa Tio merasa Bima bisa membantunya. meski Attalah tidak meminta. setidaknya mereka berdua akan membantu Attalah dan Namira mengungkap siapa sebenarnya peneror itu.
" kau mau kemana ?? bukannya kau masih cuti ??" tanya Widia saat melihat Bima bersiap namun tidak menggunakan seragam kepolisiannya.
" widia aku mau bicara denganmu."ujar Bima sembari menatap serius pada Widia.
widia segera mengangguk dan duduk disisi Bima. Bima mengembangkan senyum sebelum mengatakan seraya menepuk sofa disisinya agar widia duduk disana.
Widia pun menurun dan duduk begitu dekat dengan Bima. setelah memutuskan berpacaran saat setelah menikah, Bima dan widia sudah semakin dekat. bahkan kemesraan mulai terlihat. meski mereka belum melakukan ritual malam pertama sejak menikah.
" aku tadi ditelfon Tio. dia meminta bantuanku."Bima mulai bercerita.
Widia mengangguk dan terus menjadi pendengar.
" tuan Attalah dan Namira mengalami teror. beberapa kali Namira diteror akan dicelakai, tuan Attalah juga diteror dengan menyabotase mobilnya tuan Attalah, hingga pengeroyokan tuan Attalah. dan lagi yang terakhir kemarin, ada yang sengaja melempar batu kearah kamar Tuan Attalah dan Namira." tambah Bima dengan serius.
Widia amat terkejut, kejadian itu begitu membuatnya ikut kawatir. "kasihan sekali mereka. tapi kira-kira siapa yang meneror mereka bim ??"
" tuan Attalah menuduh mamanya, karna pelaku peneror suruhan mengakui Nyonya Tyaslah yang menyuruhnya, tapi Tio sangat yakin dalang dibalik semua ini bukan nyonya Tyas."terang Bima lagi.
__ADS_1
" tante Tyas ?? tapi menurutku juga tidak mungkin Bim..mana mungkin tante tyas melukai putranya sendiri.."tambah Widia.
" tujuan kami hanya satu orang. dan kami akan memastikannya."ujar Bima dengan menatap kearah lain dengan tangan saling beradu.
" kau sudah mengira tersangka lain??" tanya Widia.
" masih dugaan saja." jawab Bima. Bima meraih tangan Widia dan memegangnya. "aku minta ijin padamu untuk membantu mereka, sebab Namira sudah aku anggap keluargaku sendiri,."
" kenapa kau harus minta ijin ?? semua ini kan memang tugasmu pak komisaris" balas Widia dengan menggoda suaminya.
Bima.menerbitkan senyum seraya menarik widia kedalam pelukannya. "terima kasih sayang..tapi jika kau memang tidak mengijinkan aku tidak akan pergi."
" jangan bicara begitu.. Attalah juga sudah aku anggap seperti keluargaku..meski dulu dia tidak mencintaiku, tapi dia begitu menghormati kehadiranku."terang widia.
" mereka keluarga kita. sampai kapanpun." timpal Bima seraya menciumi pucuk kepala Widia. widia membalas dengan anggukan dan senyum bahagia. kini ia bisa merasakan kenyamanan pelukan seorang pria yang sudah halal baginya.
Tio mondar mandir didepan rumah besar miliknya. sesekali ia melirik ponsel menunggu telfon atau kabar dari dua pria temannya yang sudah ia suruh datang kerumah itu.
" apa mereka sengaja membuatku jamuran !!! astaga, kenapa memiliki istri membuat mereka berdua jadi tidak tepat waktu begini !!!"0 gerutu Tio dengan kesal.
tak lama Nampak masuk dari.gerbang mobil milik Attalah. melaju kencang dan seketika berhenti disisi Tio berdiri.
__ADS_1
kaca mobil terbuka memperlihatkan Attalah yang masih menggunakan kaca mata hitam miliknya.
" ada apa kau menyuruhku kemari ??! kau mau memutilasi orang dihadapanku !!!" tanya Attalah dengan kesal.
Tio menyunggingkan senyum tipis. "aku tidak sekejam itu Atta !!"
" lalu kenapa ??!!" Attalah berkata dengan suara meninggi. rasa marah dan kesal masih menyelimuti diri Attalah.
" turunlah dulu !! kita menunggu Seseorang lagi."pinta Tio seraya sesekali melirik gerbang rumahnya.
Attalah mendegus kesal, namun ia tetap menurut dan turun dari mobil.
baru saja Attalah melangkah mendekati Tio, deru mobil memasuki gerbang terdengar hingga baik Tio maupun Attalah menoleh bersamaan.
Tio tersenyum lebar dengan melipat kedua tangannya. sedangkan Attalah masih bertanya-tanya siapa tamu mereka.
Mobil berhenti tepat dibelakang Mobil Attalah.
" apa aku terlambat ??" tanya Bima yang baru turun dari mobil.
" Pak Bima ??" Attalah membuka kaca matanya seolah masih tak percaya kenapa polisi ada disana.
__ADS_1
" apa kabar tuan Atta." sapa Bima dengan senyum mengembang diwajahnya
" sudah..sudah.. ayo masuk dulu ada yang mau aku bicarakan." Tio menarik Bima dan Attalah bersamaan agar mengikutinya masuk kedalam rumah besar miliknya.