Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 43


__ADS_3

Deva dan Devi menemui Dewa. "Assalamualaikum," ucapnya di depan ruangan Dewa.


"Wa'alaikumussalam, masuk," jawab Dewa.


Deva dan Devi masuk kedalam, menghampiri meja Dewa.


"Silahkan, duduk!" Dewa mempersilakan mereka berdua untuk duduk di kursi.


"Terima kasih, Pak." Mereka berdua duduk di kursi depan Dewa.


"Apa kalian sudah pernah bekerja sebelumnya?" tanya Dewa.


"Sudah, Pak," jawab mereka berdua.


"Baiklah, kalau begitu kalian sudah terbiasa dengan pekerjaan, jadi saya hanya minta kalian berdua bisa menyesuaikan diri dengan yang lain, kalau ada yang belum di mengerti kalian bisa tanyakan pada Mutia. Tapi untuk sementara kalian harus masuk full terlebih dahulu dalam waktu dua Minggu, setelah itu baru bisa masuk sesuai shif kalian," jelas Dewa.


"Iya, Pak."


"Kalau begitu, kalian bisa bekerja mulai hari ini," ucap Dewa.


"Alhamdulillah, terima kasih Pak," balas Deva dan Devi.


"Sama-sama," imbuh Dewa.


Deva dan Devi keluar dari ruangan Dewa.


Keyla hanya diam duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.


"Pak, kapan kita pulang?" tanya Keyla, karena sudah hampir magrib.


"Pak, terus, saya bukan bapak kamu Keyla," kesal Dewa.


"Iya, ya, maaf lupa," ucap Keyla.


"Lupa kok terus-terusan," sindir Dewa.


"Ah, sudahlah ayo, pulang!" Keyla sudah bersiap untuk berdiri dari duduknya.


"Bilang yang benar dulu," ujar Dewa, dia suka sekali menggoda Keyla.

__ADS_1


Keyla beranjak dari duduknya dan menghampiri Dewa, kemudian dia duduk di kursi depan Dewa. "Mas Dewa, ayo, kita pulang!" Keyla berkata dengan nada yang lembut.


"Duh, jadi gemes deh, sebentar lagi sayang tanggung nih dikit lagi," ujar Dewa, masih menatap layar laptop di depannya, mengecek laporan pemasukan toko selama satu minggu.


Karena dia hanya datang seminggu sekali.


Keyla hanya bisa menghembuskan nafasnya, kemudian dia mengambil ponselnya di dalam tas dan melanjutkan biasa melihat drakor.


Satu jam berlalu, Keyla sudah mulai bosan.


"Mas, ayo, kita pulang!" rengek Keyla, jika disuruh memilih dia akan memilih bekerja dari pada cuma diam dan menunggu, itu sangat membosankan.


"Iya, saya merapikan ini dulu," balas Dewa, dia menutup laptopnya, kemudian beranjak dari duduknya.


"Jadi pulang tidak?" tanya Dewa di samping Keyla yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Jadi." Keyla langsung mematikan ponselnya dan memasukkan kedalam tasnya. Kemudian mereka keluar dari ruangan Dewa.


"Mas Heru, di mana Mas?" tanya Keyla, dari tadi tak melihat keberadaan Heru.


"Ada di gudang lagi ngecek barang," jawab Dewa, kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Heru.


Dari pada bosen ngurusin dua manusia itu, Keyla berjalan berkeliling toko melihat-lihat barang yang ada di toko.


"Nggak perlu Mba," balas Mutia.


"Tidak apa, saya juga karyawan Pak Dewa di toko pusat. Mbanya sudah lama bekerja di sini?" tanya Keyla kepada Mutia.


"Awal toko ini buka Mba," jawab Mutia.


Saat Keyla lagi berbincang-bincang dengan Mutia, Dewa menghampiri. "Jadi pulang tidak?" bisik Dewa di samping Keyla. "Iya." Kemudian Keyla berpamitan dengan Mutia.


"Mba, saya pulang dulu ya, sampai ketemu lagi," pamit Keyla, kemudian menyusul Dewa yang lebih dulu berjalan keluar toko.


Keyla dan Dewa sudah berada didalam mobil.


Heru melajukan mobilnya keluar dari gerbang toko.


"Kita mau kemana?" tanya Heru.

__ADS_1


"Pulang," jawab Keyla. "Makan," balas Dewa.


"Jawabnya yang benar," protes Heru.


"Pulang."


"Makan." Dewa dan Keyla masih berdebat antar pulang dan makan.


"Stop!" teriak Heru. Seketika membuat Dewa dan Keyla terdiam.


"Kita makan dulu saja, Her," ucap Dewa.


Keyla hanya bisa pasrah, dia memilih untuk diam, dan menyenderkan kepalanya di dekat pintu mobil tak lama dia terlelap dalam mimpi, mungkin karena kelelahan.


Dewa langsung membenarkan kepala Keyla supaya bersandar di bahunya, dengan lembut Dewa mengelus kepala Keyla.


"Keyla, tidur Wa?" tanya Heru.


"Iya," jawab Dewa.


"Pantas saja tak terdengar suaranya, ternyata dia tidur. Kita mau makan di mana, Wa?"


"Di rumah makan yang tak jauh dari toko saja," ujar Dewa, dia selalu saja memandangi wajah ayu Keyla yang sedang tertidur manis.


Satu jam mereka sampai di depan rumah makan tujuan mereka, dengan pelan Dewa membangunkan Keyla.


"Sayang, ayo bangun." Dewa mengelus lembut kepala Keyla.


"Kita, di mana Mas?" Keyla yang bingung belum sadar seratus persen.


"Ada di rumah makan, ayo, kita makan terlebih dahulu!" Dewa turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Keyla. Setelah Keyla turun, mereka masuk kedalam.


"Pesan apa Mas?" tanya pegawai rumah makan.


"Nasi goreng tiga, dan es jeruk tiga," ujar Dewa.


"Baik." pegawai itu pergi menuju dapur.


Sekitar lima belas menit pesanan mereka datang. Dengan lahap mereka makan sampai habis tak bersisa, hanya makanan Keyla yang tak habis, masih ada separo lagi.

__ADS_1


... ****************...


... Terima kasih. ...


__ADS_2