
bab 160
.
.
.
Dengan menggandeng Erlita, Namira memasuki rumahnya. pandangan Attalah terfokus pada mobil asing yang terparkir disisi mobil Tio.
sedangkan Namira yang tak terlalu memperhatikan langsung masuk saja.
Attalah menghampiri penjaga rumah dan bertanya. "siapa yang datang ??"
" nyonya tyas Tuan. beliau mencari anda." jawab Penjaga.
Attalah mengangguk dan segera menyusul Namira yang sudah masuk kedalam rumah.
" Oma..!!" Erlita berlari kecil kearah oma Rani yang duduk diruang tamu tanpa melihat siapa yang berada dihadapan omanya.
Oma Rani bangkit dan membuka kedua tangannya. " cucu oma sudah pulang ya ??" pelukan penuh kasih selalu diberikan oma Rani kepada Erlita.
Sementara Namira masih berdiri diam saat melihat mama tyas juga menoleh kearah dirinya. entah mengapa rasa takut masih saja menyelimuti hati Namira.
__ADS_1
Attalah yang berada dibelakang Namira merengkuh pundak Namira dan menatap Namira dengan senyum dan membawa Namira mendekat.
" Namira.. kau sakit apa nak ??" tanya Adam dengan mimik wajah kawatir.
" dia hanya mengalami kram saja diperutnya." jawab Attalah dengan singkat.
" sudah..sudah.. kita duduk saja dulu ya.." ajak oma Rani.
Attalah membawa Namira duduk disisi oma Rani berhadapan dengan Adam dan mama tyas.
Namira hanya bisa tertunduk dengan mama tyas dihadapannya. kenangan dimana mama Tyas amat membencinya seolah menjadi trauma tersendiri bagi Namira.
" Atta, kedua orangtuamu sudah menceritakan semuanya pada Oma, sekarang kau dengarkan cerita mereka, dan oma Harap kau bisa menerimanya, semua adalah masalalu, hanya patut kita kenang dan kita pelajari saja." ujar Oma Rani dengan bijak.
mama tyas menatap Adam dan anggukan dari Adam membuat mama tyas segera memulai cerita pahit masa lalunya.
" sebelum mama ceritakan. mama mau minta maaf dulu dengan istrimu Atta." ujar mama tyas.
Namira langsung mengangkat wajahnya, seolah tak percaya dengan apa yang didengar.
" Mira.. saya tau saya banyak sekali salah dan dosa denganmu, semua karna Ego saya yang terlalu berlebihan. sekarang saya sangat menyesal dengan semua yang terjadi, Namira.. maukah kau memaafkan saya ??" pinta mama tyas dengan wajah nampak memelas dengan mata memerah menahan air mata.
Attalah menggenggam jemari Namira yang begitu dingin saat mendengar permintaan maaf mama tyas.
__ADS_1
" Nyonya.. saya memaafkan nyonya jauh sebelum nyonya meminta maaf dengan saya. saya juga minta maaf atas kelancangan saya selama ini.." balas Namira dengan suara lembut.
Mama tyas berdiri dan berjalan kearah Namira, berjongkok dan bersimpuh
" nyonya.. apa yang anda lakukan.." Namira membantu mama tyas berdiri.
" panggil saya mama Mira.. saya mertuamu, saya ibunya Attalah.." ujar mama tyas dengan deraian air mata.
" iya..iya.. saya akan memanggil anda mama, tapi bangunlah.. ini tidak benar.." Ajak Namira seraya membantu Mama tyas agar duduk disisinya.
Mama tyas menggenggam jemari Namira dengan menatap nanar wajah Namira, "terima kasih.. terima kasih sudah memaafkan saya.."
" Semua orang punya kesalahan ma, dan tidak baik jika kita memendam dendam dan mengutuk kesalahan orang lain..mama adalah ibu dari suamiku, tidak mungkin aku bisa membenci mama.." terang Namira.
pertahanan Mama tyas runtuh seketika, tangisnya pecah memenuhi seluruh ruangan. ia langsung memeluk Namira dengan erat, semua merasakan betapa harunya suasana rumah Attalah siang itu.
Oma Rani bahkan ikut menitikkan air mata, begitupun dengan Attalah dan Adam yang melihat semua itu.
.
.
.
__ADS_1