Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 73 Kejujuran Keyla


__ADS_3

Sampai di butik Dewa menggandeng tangan Keyla masuk ke dalam.


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Susi salah satu pegawai butik.


"Iya, Mba. Bisa tolong bantu carikan gaun untuk calon istri saya," ucap Dewa.


"Bisa, Pak. Silakan!" Susi mengajak Keyla menuju tempat gaun berada. Keyla mengikuti langkah Susi dari belakang.


"Silakan dipilih, Kak!" Susi memperlihatkan beberapa gaun simpel tapi kece.


Kayla memilih beberapa gaun untuk di coba terlebih dahulu karena belum tentu Dewa cocok dengan pilihannya.


"Mba, ini boleh saya coba dulu?" tanya Keyla.


"Silakan, Kak, di sebelah sana ruang gantinya saya panggilkan calon suaminya supaya menunggu di depan ruang ganti," ujar Susi.


"Iya, Mba. Terima kasih." Keyla berjalan menuju ruang ganti.


"Sama-sama, Kak." Susi berjalan menghampiri Dewa.


"Pak, silakan tunggu di ruang ganti," ucap Susi.


"Iya, Mba." Dewa berjalan menuju ruang tunggu bersama Susi.


Dewa duduk di sofa depan ruang ganti sambil menunggu Keyla yang sedang mencoba gaun dia memainkan ponselnya.


Keyla keluar memakai gaun warna hitam lengan pendek panjang selutut.


"Gimana, Mas?" tanya Keyla.


Dewa menggelengkan kepalanya tanda tak suka dengan pilihan pertama.


Keyla kembali masuk mencoba gaun kedua.


Tak lama keluar lagi dengan gaun warna maroon tanpa lengan panjang selutut.


Jawaban Dewa seperti yang pertama.


Keyla mencoba lagi gaun yang ketiga.


Dia memilih waran hitam tanpa lengan dengan panjang sampai mata kaki.


Dewa tak berkedip saat melihat Keyla keluar dari ruang ganti.


"Mas-Mas--," panggil Keyla tapi yang di panggil tak merespon. Keyla memanggil kembali dengan nada suara yang lebih tinggi.


"Mas." Keyla menaikkan satu level suaranya.


"Ah, iya Key," jawab Dewa.


"Ini gimana?" tanya Keyla.


"Cantik." Satu kata yang keluar dari mulut Dewa sebagai jawaban.


Keyla yang malu pipinya jadi seperti tomat.


"Kita, ke ruang make up ya Kak," ucap Susi.

__ADS_1


"Iya, Mba." Keyla mengikuti Susi dari belakang meninggalkan Dewa yang terus memandangi Keyla.


Lima belas menit Keyla selesai di make up. Keyla keluar mencari keberadaan Dewa.


"Mas," panggil Keyla saat melihat Dewa di ruang tunggu.


"Masya'Allah, cantiknya," lirih Dewa.


"Gimana, Pak Dewa?" tanya Sella pemilik butik.


Dewa mengacungkan jempolnya ke arah Sella. "Terima kasih, Sell," ucap Dewa.


"Sama-sama, sudah sana lu pergi keburu di bawa orang tuh cewek," balas Sella.


Dewa dan Sella adalah teman saat mereka SMA. Butik Sella juga langganan Mama Dewa.


Dewa menggandeng tangan Keyla berjalan keluar butik.


"Wih, lu cantik banget Key," ujar Heru yang melihat penampilan berbeda dari Keyla.


"Apaan sih Mas Heru." Keyla tersipu malu membuat pipinya seperti tomat.


"Eh, lu ngapain muji calon gua," omel Dewa.


"Ealah, belum tentu juga Keyla mau sama Lu," balas Heru.


"Sudahlah, kalian berdua jangan berdebat disini malu di lihat orang." Keyla berjalan masuk kedalam mobil.


Melihat Keyla masuk, Dewa dan Heru pun langsung mengikuti Keyla.


"Kita ke tempat acara dulu," ucap Dewa.


Satu jam perjalanan mereka sampai di tempat tujuan. Setelah memarkirkan mobil mereka berjalan masuk kedalam cafe menemui sahabatnya.


"Selamat ya bro, mudah-mudahan sukses selalu," ucap Dewa saat bersalaman dengan Doni.


"Terima kasih, Wa," balas Doni. "Siapa nih Wa, bening bener?" Doni menatap kearah Keyla.


"Kenalin namanya Keyla," jawab Dewa.


Doni mengulurkan tangannya. Keyla pun menyambut uluran tangan Doni.


Mereka berbincang-bincang masalah bisnis.


Dua jam berlalu acara selesai Dewa, Heru, dan Keyla pun keluar dari cafe menuju parkiran.


Dewa membukakan pintu untuk Keyla setelah Keyla masuk Dewa pun masuk duduk di samping Keyla.


"Berangkat," ucap Heru setelah semua masuk ke dalam. Heru melajukan mobilnya keluar gerbang cafe menuju tempat ke dua mereka.


"Kita, mau kemana Mas?" tanya Keyla pasalnya saat dia melihat luar bukan jalan ke arah rumahnya.


"Malam mingguan bentar ya," jawab Dewa.


"Oh." Keyla mengangguk sebagai jawaban.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam Heru menghentikan mobilnya di depan ruko bangunan dua dengan desain unik, cantik, lampu berkelap-kelip.

__ADS_1


"Kita ngapain kesini Mas?" tanya Keyla.


"Nongkrong saja," jawab Dewa.


Mereka keluar dari mobil. Dewa memegang tangan Keyla berjalan masuk kedalam disambut hangat oleh para pegawai restoran. Dewa mengajak Keyla menaiki tangga menuju lantai dua duduk di pinggir melihat pemandangan malam.


"Mau pesan makanan?" tanya Dewa.


Keyla menggeleng. "Key, sudah kenyang," jawab Keyla.


Keyla merasa ada sesuatu yang tidak beres. 'Kenapa perasaan ku tidak enak ya, apa ini saatnya aku jujur sama Pak Dewa. Aku tak mau terus di hantui rasa bersalah,' batin Keyla.


"Key," panggil Dewa.


"Iya, Mas," balas Keyla.


"Sebenarnya saya mengajak kamu kesini ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada mu." Dewa memegang tangan Keyla.


'Duh, kenapa deg degan gini ya, jantungku rasanya pengen loncat,' batin Keyla.


"Sebenarnya saya juga ingin menyampaikan sesuatu pada Mas Dewa." Keyla berbicara dengan sedikit gugup.


Keringat dingin mulai bercucuran, rasa gugup, gelisah, tidak tega, itulah yang Keyla rasakan.


"Apa, itu?" tanya Dewa.


"Namun, sebelum saya bilang Mas janji tidak akan marah pada Key." Keyla menatap serius ke arah Dewa.


"Baiklah." Dewa mengangguk dan tersenyum ke arah Keyla.


"Janji." Keyla mengucap sekali lagi dia benar-benar takut kalau Dewa marah tapi, dia juga tidak bisa memendam kenyataan ini terus menerus.


"Iya." Dewa mencubit hidung mancung Keyla dengan gemas.


"Mas, ih---," keluh Keyla.


Keyla menarik napas dalam-dalam sebelum memulai berbicara. 'Bismillah, ya Allah mudah-mudahan ini yang terbaik,' batik Keyla.


"He'em." Keyla terdiam beberapa saat.


"Em, Mas sebelum Key minta maaf." Keyla menghentikan ucapannya.


"Maaf, kenapa? sebenarnya ada apa Key?" tanya Dewa.


"Maaf, Mas. Keyla hanya ingin menyampaikan bahwa akhir bulan ini Keyla akan tunangan." Setelah mengucapkan kata-kata itu Keyla menundukkan kepalanya butiran bening mengalir begitu saja.


Ucapan Keyla seketika membuat hati Dewa terasa sakit bagaikan disayat-sayat dengan silet yang tajam. Dewa tak tahu harus bicara apa lagi hatinya benar-benar hancur.


Dewa terdiam memandang ke arah Keyla menenangkan hati dan pikirannya sebelum dia berucap.


"Kenapa, menangis?" Dewa mengangkat dagu Keyla kemudian menghapus air mata Keyla yang membasahi pipinya. "Jangan menangis. Lihat saya!" ucap Dewa.


Keyla menatap kearah Dewa hatinya pun ikut sesak saat melihat sorot mata Dewa menyimpan kekecewaan yang mendalam tapi, apalah daya jika semua sudah suratan takdir.


Semakin dia bersama Dewa, Keyla merasa hatinya begitu sakit karena tak bisa membalas cinta Dewa padanya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya Kakak.


__ADS_2