
bab 112
.
.
.
Dari arah tangga terdengar hentakan sepatu hak dari sang pemilik yang terpancar kecantikannya, hingga membuat Bima terkagum beberapa saat. Gaun berwarna lavender yang berbalut brukat dan manik-manik menjuntai tak begitu panjang, hingga menampakkan kaki jenjang Widia yang putih mulus.
Semua menatap kearah tangga seolah menyambut kedatangan widia yang begitu dinantikan.
Ibu wulan yang melihat Bima sedikit membuka mulut dengan mata yangntidak berkedip mencubit pinggang Bima hingga membuat Bima tersentak.
" aww.. ibu !!"
" mulutnya dikondisikan Bima..ibu tau kau terpesona.." bisik Ibu wulan pada Bima.
hingga membuat Bima membulatkan matanya.
Ayah wira hanya terkekeh tanpa berkomentar saat ia bisa mendengar bisikkan ibu wulan.
mama arum menyambut widia dengan mengulurkan tangannya. widia menatap kesekeliling hingga berhenti pada Bima yang bagi widia begitu tampan, meski setelan jas yang dikenakan Bima tidak seformal pada umunya.
mama arum mendudukkan Widia disisinya,
Sesekali widia dan Bima saling tatap dengan senyum dibibir mereka.
Acara lamaran dimulai dan berlangsung kidmat , bahkan entah kebetulan atau bagaimana cincin pilihan Bima juga sangat pas dijemari Widia.
tepukan tangan mengiringi pertukaran cincin antara Widia dan Bima. senyum bahagia memenuhi ruangan keluarga itu.
__ADS_1
" Allahamdulillah.. acaranya sudah selesai ibu.. mari kita makan malam dulu.." ajak Mama arum.
" ide bagus Ma.. mari ibu, ayah.." Papa tedy begitu antusias mengajak kedua orangtua Bima.
Dengan antusias juga, Ibu wulan dan ayah wira mengikuti kedua orangtua Widia menuju meja makan.
Sementara Bima menatap widia dengan senyum diwajahnya. anggukan dari widia membuat Bima segera meraih jemari Widia untuk ditautkan dengan jemarinya dan melangkah beriringan menuju Meja makan.
.
.
.
Namira mengalungkan tangannya pada lengan Attalah. bagai pasangan yang begitu serasi, Attalah dan Namira menjadi pusat perhatian banyak orang diRestoran yang terbilang mewah itu.
" dimana Klienmu ??" tanya Namira sembari menengadah menatap Attalah.
" itu disana. ayo.." ajak Attalah.
Jabatan tangan. mengawali pertemuan Attalah dengan kliennya yang berasal dari negara tetangga itu.
" selamat datang tuan Attalah.." sapa Fergus. pria paruh baya dengan kaca mata bening dan senyum sumringah menyambut kedatangan Attalah.
" maaf membuat anda menunggu.." balas Attalah dengan keramahan.
" tidak masalah." Fergus menatap kearah Namira "ini kah istri tuan ??" tanya Fergus
" iya, dia istri saya namanya Namira." jawab Attalah memperkenal kan Namira dengan menatap Nmaira penuh cinta.
Namira menundukkan wajah dan tubuhnya memberi salam pada klien suaminya.
__ADS_1
Fergus menatap Namira dari atas hingga bawah. Namira sangat cantik bagi fergus.
Menyadari Istrinya ditatap dengan berlebihan, Attalah berdehem dengan meraih pinggang Namira, seakan ingin mengatakan Bahkan Namira adalah miliknya.
" oh.. baik.. silahkan duduk.." Fergus mempersilahkan Attalah dan Namira.
" bukannya anda bilang datang dengan istri. dimana istri anda ??" tanya Attalah sembari duduk.
" istri saya sedang tidak enak badan. maklumlah, lagi nyidam." balas Fergus dengan santai.
Attalah mengangguk pertanda mengerti,
Begitupun dengan Namira.
" anda pengantin baru ya Tuan Attalah ?? sepertinya kalian sedang begitu hangat.." tanya Fergus dengan candaanya.
" iya tuan." jawab namira.
" tapi kami sudah memiliki seorang putri berusia 4tahun." ralat Attalah.
" benarkah ?? ini sangat mengejutkan.saya fikir istri anda ini belum pernah melahirkan, bodynya bahkan masih..." balas Fergus sembari meneliti Namira.
Attalah begitu jengah, lagi-lagi ia harus bertemu Klien yang gatel seperti ini. tidak wanita tidak laki-laki, sama saja. gerutu Attalah dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1