
Setelah semua tamu pulang Azmia segera masuk ke dalam kamar mengganti pakaiannya, di ikuti Pras dari belakang.
"Mas Pras, mau ganti baju?" tanya Keyla dengan setenang mungkin mencoba menahan ke gugupannya karena kini jantungnya tak berhenti berlarian.
"Iya. Apa koperku sudah di bawa kesini, Dik?" Pras bertanya pada Azmia.
"Sudah kok Mas, biar Key siapkan bajunya," ucap Keyla.
"Baiklah, aku mandi dulu ya." Pras berjalan menuju kamar mandi sedangkan Keyla berjalan menuju lemari mengambil pakaian ganti untuknya. Pakaian Pras sudah dia siapkan di atas kasur kemudian Keyla berjalan keluar kamar menuju kamar Ibunya, dia akan membersihkan diri di kamar Ibunya.
"Kenapa kesini, Key?" tanya Ibu Aminah saat melihat Keyla masuk ke dalam kamarnya.
"Key, ingin membersihkan diri, Bu," jawab Keyla.
"Oh, ya sudah." Ibu Aminah mempersilakan anaknya memakai kamarnya kemudian beliau kembali bergabung dengan sanak saudara di ruang tamu.
Setelah membersihkan diri Keyla kembali ke kamarnya, ternyata Pras sudah rapi dengan pakaian santai yang tadi ia siapkan.
"Mas Pras, mau makan sekarang?" tanya Keyla.
"Nanti saja, sini!" Pras menyuruh Keyla duduk di sampingnya. Keyla pun menghampiri Pras yang duduk di pinggir ranjang.
"Terima kasih," ucap Pras sambil menggenggam tangan Keyla.
"Untuk?" Keyla yang bingung dia pun bertanya balik.
__ADS_1
"Karena kamu telah memilihku, dan bersedia hidup bersama ku, jika suatu hari nanti aku pergi jangan menangisi kepergian ku. Aku yakin ada orang yang akan menggantikan posisi ku dan menjaga mu dengan baik." Pras mencium tangan Keyla. "Aku akan selalu mencintaimu dimana pun aku berada," lanjutnya.
"Mas, kamu bicara apa sih, lebih baik sekarang Mas Pras istirahat terlebih dahulu sebelum acara nanti malam," ujar Keyla. Mendengar ucapan Pras perasaan Keyla menjadi tidak tenang.
"Tetap seperti ini saja, menikmati kebersamaan kita untuk yang pertama kalinya." Pras membawa Keyla kedalam pelukannya.
*
*
*
Di sebrang sana.
"Sekarang tutuplah buku mu, buka buku baru untuk masa depan yang lebih indah," ucap Heru sambil memegang bahu Dewa.
"Cakep, gue yakin lu pasti bisa," ujar Heru.
"Bawa gue ke coffe Amar," ucap Dewa.
"Mau ngapain lu, jangan sampai melakukan hal yang merugikan diri lu." Heru takut Dewa minum yang membuatnya lupa diri.
"Tidak, tenang saja. Gue cuma pengen nenangin diri saja," balas Dewa.
"Baiklah." Heru melajukan mobilnya menuju ke coffe Amar.
__ADS_1
Bukan hanya wanita atau laki-laki semua sama saat mereka patah hati terkadang membuatnya lupa diri, ada yang sampai bunuh diri dll.
Tak butuh waktu lama mobil Dewa sudah tiba di tempat tujuan mereka yaitu coffe Amar. Dewa berjalan masuk ke dalam di ikuti Heru dari belakang.
"Wih, pak bos, ada gerangan apa nih tumben sekali berkunjung ke sini?" Seorang laki-laki muda menyambut ke datangan mereka berdua.
"Kasih gue sebungkus rokok," ucap Dewa tanpa basa-basi.
"Siap," balasnya, tapi matanya menatap kearah Heru dengan isyarat bertanya ada apa sebenarnya.
"Biasa." Heru yang mengerti tentang tatapan Laki-laki tersebut.
"Mar, coffe late dua," ucap Dewa.
Amar -- pemilik coffe dia sahabat Dewa dan Heru.
"Siap, Wa." Amar mengambil sebungkus MG kemudian mengantarkan ke meja Dewa.
"Nih." Amar datang membawa nampan yang berisi dua coffe late dan MG pesanan Dewa kemudian dia taruh di meja tempat Dewa.
"Terima kasih, Mar," ucap Heru.
"Sama-sama." Amar ikut bergabung bersama sahabatnya duduk di samping Heru.
"Lu, pasti lagi galau ya," tebak Amar. Dia sudah mengenal Dewa bertahun-tahun dia tahu bagaimana sahabatnya karena yang Amar tahu saat Dewa merokok pasti keadaannya sedang tidak baik-baik saja, pasti terjadi sesuatu yang menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Sok tahu, Lu," elak Dewa sambil menyalakan satu batang RK.
"Dewa - Dewa, lu kira gue anak kecil, bisa di bohongi," jelas Amar.