
"Kamu ingin makan apa, sayang?" tanya Pras pada Keyla. Kini mereka sedang berada di restoran yang berada di dalam Mall. Tadi setelah selesai pekerjaannya Pras mengajak mereka untuk makan di luar karena Bunda tidak jadi masak ada urusan mendadak.
Meskipun di restorannya jug
"Gue nggak di tawarin," protes Romi.
"Lu pesan saja sendiri," ucap Pras.
"Keyla," teriak seseorang yang baru masuk kedalam cafe.
Merasa ada yang memanggil namanya Keyla menoleh ke sumber suara. "Hai ... Airin, Anita." Keyla langsung melambaikan tangan menyuruh orang tersebut menghampirinya.
"Keyla." Airin dan Anita langsung memeluk Keyla.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Keyla.
"Di ajak pak bos," jawabnya.
"Why?"
"Biasa aja kali, Key."
"Kalian cuma berdua, Vita mana?" tanya Keyla.
"Vita masih di belakang sama pak bos," jawab Anita.
"Duduk, Rin, Nit!" Keyla mempersilakan sahabatnya agar duduk bergabung dengan Keyla.
Anita dan Airin pun mengikuti apa kata Keyla,
dia duduk berhadapan dengan Keyla.
Tak lama kemudian yang lain datang. "Hai ... sini." Airin melambaikan tangannya ke arah Vita. Mau tak mau mereka menghampiri Airin.
"Keyla." Vita langsung memeluk Keyla.
Keyla menyalami yang lain setelah melepaskan pelukannya.
"Apa kabar, Key?" tanya Heru.
"Alhamdulillah, seperti yang Mas Heru lihat," jawab Keyla.
"Hai ... Mel," sapa Keyla.
"Hai ... Key," balas Meli.
"Silakan Pak Dewa!" Pras mempersilakan semua yang baru datang agar duduk bergabung.
"Terima kasih." Semua langsung duduk bergabung karena tempatnya lesehan jadi muat banyak jika makan banyak orang.
__ADS_1
"Kalian mau pesan apa?" Keyla memberikan daftar menu pada para sahabatnya.
Setelah semua memilih menu makanannya, Pras memberikan kertas tersebut pada salah satu karyawan cafe.
Sambil menunggu pesanan datang mereka saling mengobrol.
"Toko tutup, Mas Heru?" tanya Keyla.
"Iya, Key. Biasa ini acara bulanan kita," jelas Heru.
"Oh." Keyla mengangguk tanda mengerti.
"Pak Dewa, bagaimana usahanya?" tanya Pras membuka suara.
"Alhamdulillah, Pak Pras semua lancar," jawab Dewa.
"Silakan!" pesanan mereka datang karyawan tersebut mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan yang disajikan.
"Terima kasih, Mba," ucap Pras.
"Pak Dewa ingin saya ambilkan ini juga?" tanya Meli menawarkan gorengan pada Dewa.
"Tak perlu, ini saja sudah cukup," tolak Dewa.
Meli terus saja menawarkan ini itu pada Dewa, dia seperti ingin membuktikan pada Keyla kalau dia berhasil mendapatkan Dewa, tapi kenyataannya salah justru dia seperti orang yang mencari muka.
"Mas, jangan terlalu banyak makan sambal," ucap Keyla saat melihat Pras terus mengambil sambal di mangkok kecil.
Keyla menggelengkan kepalanya, tapi Pras tak memperdulikannya dia semakin memajukan tangannya dengan malu-malu akhirnya Keyla membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang suami.
"So sweet," ucap Airin.
"He'em," sambung Anita. "Pras lu jangan bikin baper kita kasihan ini jomblo," ucap Anita.
"Iya nih si Pras bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta," sambung Airin.
"Sorry - Sorry," balas Pras.
"Tapi, jangan hanya di depan kita seperti itu," celetuk Vita.
"Tidaklah, di belakang gue lebih romantis iya kan, Dik?" Pras menatap kearah Keyla dengan tersenyum manis.
Keyla bukannya menjawab pertanyaan Pras, tapi dia malah memukul lengan tangan suaminya.
"Sakit, Dik," keluh Pras sambil mengelus lengannya.
Tak ada angin tak ada hujan, makan udah selesai tiba-tiba Dewa terbatuk-batuk entah apa yang membuatnya batuk.
Spontan Keyla langsung memberikan segelas minuman yang bada di depannya, bukan hanya Keyla. Meli juga dengan siaga langsung memberikan minuman yang lain hanya melongo melihat kejadian itu.
__ADS_1
Tak ingin terjadi salah paham Dewa meminum kedua minuman tersebut.
Kini keadaan jadi sedikit canggung. Tak lama Pras kembali ke tempat duduknya.
"Dik, kita pulang sekarang yuk!" ajak Pras.
"Baiklah," balas Keyla.
"Kita pulang dulu ya," pamit Pras dan Keyla.
"Hati-hati, Key," ucap Vita, Airin, dan Anita.
"Apa kamu ingin membeli sesuatu terlebih dahulu?" tanya Pras pada Keyla saat mereka sudah keluar dari restoran.
"Tidak," jawab Keyla.
"Kalau begitu kita langsung pulang saja ya," ujar Pras.
Keyla mengangguk.
Sepanjang perjalanan menuju perkiraan Pras selalu menggenggam tangan Keyla.
"Gue, jadi kayak bayangan dari tadi nggak di anggap sama sekali," kesal Romi.
"Ada suara nggak ada rupa," ucap Pras.
"Saudara terlaknat kau," balas Romi.
"Lagian lu ngikutin kita, orang lagi pacaran di ikutin, nikmatin ajalah," ujar Pras.
"Nasib jomblo sungguh menyedihkan." Romi memasang wajah melasnya.
"Sudahlah itu muka tidak pantas seperti itu, lu yang nyetir, nih." Pras memberikan kunci mobil.
"Sabar-sabar," ucap Romi.
Pras dan Keyla duduk di kursi belakang.
**
Di dalam Mall.
"Kita mulai ya. Pertama saya berterima kasih kepada kalian semua karena sudah bekerja keras sehingga membawa kesuksesan untuk toko kita. Kedua, alhamdulillah pemasukan bulan ini meningkat tiga puluh persen. Ketiga, saya ingin kalian tetap bekerjasama dan akur dalam bekerja, jika selisih silakan di selesaikan baik-baik. Keempat, saya minta maaf karena minggu-minggu ini menambah pekerjaan kalian jadi lebih banyak karena toko cabang dua di renovasi jadi barang saya taruh di pusat semua. Kelima, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak semoga bulan depan pemasukan kita lebih meningkat lagi," ucap Dewa.
"Amin," balas semua bersama.
"Gaji kalian biasa sudah saya transfer ke rekening masing-masing. Tetap semangat untuk terus maju ke depan," ujar Dewa.
"Semangat," balas Vita di ikuti yang lain.
__ADS_1
Setelah pembahasan bulanan selesai mereka semua pulang karena waktu juga sudah hampir larut malam.