
"Key," panggil Pras.
"Iya, Mas," balas Keyla.
"Sini duduk!" Pras menyuruh Keyla agar duduk di sampingnya. Keyla pun berjalan menghampiri sang suami yang sedang bersantai di sofa kamar.
"Maaf," lirih Pras.
"Untuk?" Keyla yang bingung.
"Hari ini Mas harus berangkat ke Surabaya karena restoran cabang lagi bermasalah," jelas Pras. Sebenarnya Pras merasa tidak enak sama Keyla, tapi bagaimana pun itu adalah tanggung jawabnya sebagai bos pemilik restoran.
Dia juga baru tahu jika harus berangkat ke Surabaya, karena manager baru saja menghubunginya.
"Tak apa, Mas." Keyla mencoba untuk mengerti karena tidak mungkin dia mencegah.
Pras mengelus lembut kepala Keyla. "Kamu mau di rumah Bunda apa di rumah Ibu?" tanya Pras. Kini mereka masih berada di salah satu rumah yang berada di area restoran Pras. Rumah tersebut biasanya di sewakan untuk penginapan bagi tamu yang ingin bermalam.
"Key, tinggal di rumah Ibu saja," jawab Keyla. Dia akan merasa canggung jika tinggal dirumah Bunda karena belum terbiasa apalagi disana sendiri tanpa suami, pasti itu sangat tidak nyaman ya meskipun Bunda dan Ayah sangat baik padanya, tapi tetap saja jika tidak tinggal di rumah sendiri itu rasanya kurang bebas.
Sebaik apapun mertua, tapi tetap saja kalau kita tinggal satu atap pasti ada rasa tidak nyaman.
"Baiklah, nanti aku antar ke rumah Ibu," ujar Pras.
"Mas Pras, berapa lama disana?" tanya Keyla antara sedih dan bahagia. Sedih karena baru nikah sudah di tinggal pergi. Bahagianya dia bisa bebas bermain bersama para sahabatnya.
__ADS_1
"Belum tau, tergantung keadaan di sana, nanti kalau sudah beres aku pasti akan segera pulang." Pras juga merasa kasian sama Keyla, tapi mau bagaimana lagi jika keadaan membutuhkannya terpaksa dia harus tetap pergi.
Keyla hanya bisa menundukkan kepalanya semua ini memang sudah resikonya karena memiliki suami bos restoran yang memiliki banyak restoran. Dia hanya butuh waktu untuk membiasakan diri karena pasti dia akan sering di tinggal Pras pergi keluar kota.
"Jangan sedih seperti itu. Apa kamu mau ikut?" tanya Pras.
"Ah ... tidak." Keyla menggelengkan kepalanya bukan dia menolak ajakan suaminya, tapi entah kenapa dia tidak ingin mengikuti suaminya pergi.
Pras tersenyum ke arah Keyla. "Baiklah, baik-baik di rumah ya," ucap Pras.
Keyla mengangguk sebagai jawaban.
"Bersiaplah, kita berangkat sekarang!" ujar Pras.
"Iya." Keyla berdiri dari duduknya berjalan menuju lemari mengambil pakaian yang kemarin dia bawa kemudian memasukkannya kedalam tas.
Jika orang pengantin baru lagi manja-manjaan, bahagia, berbalik sama Pras dan Keyla mereka justru pelukan karena kesedihan akan berpisah beberapa waktu.
"Ayo, Mas!" ajak Keyla setelah selesai merapikan pakaiannya dan sang suami.
Pras berdiri dari duduknya kemudian menghampiri sang istri mengambil alih tas yang di bawa Keyla. Mereka berjalan keluar rumah menuju parkiran mobil.
"Selamat pagi, Pak, Bu," sapa salah satu karyawan restoran.
"Pagi juga," balas mereka bersama dengan ramah.
__ADS_1
"Kita mau langsung pulang, apa mau beli sesuatu dulu buat Ibu?" Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Langsung pulang saja, Mas makanan kemarin pasti masih banyak di rumah," jawab Keyla.
Pras langsung melajukan mobilnya menuju rumah Keyla. Satu jam perjalanan mereka sampai di depan rumah yang masih terpasang tenda acara akad nikah kemarin yang belum di bongkar. Begitu miris tenda saja belum di bongkar pengantinnya sudah harus berpisah ranjang.
"Assalamualaikum," ucap Keyla dan Pras di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam," balas salah satu saudara Keyla yang masih berada di rumahnya. "Lho, kok pengantinnya sudah pulang," lanjutnya merasa heran saat melihat kedua ponakannya sudah pulang ke rumah.
"Iya, Tante." Keyla menyalami Tantenya kemudian berjalan masuk kedalam.
"Lho, Key, kok kamu sudah pulang?" Ibu Aminah yang terkejut melihat anak dan menantunya padahal baru juga di tinggal pulang beberapa jam yang lalu.
"Ibu, duduklah dulu!" Keyla menyuruh Ibunya untuk duduk bergabung terlebih dahulu agar dia bisa menjelaskan.
Ibu Aminah pun duduk di sofa depan anak dan menantunya.
"Sebelumnya, Pras minta maaf, Bu karena pagi-pagi sudah pulang kembali. Pras ingin menitipkan Keyla pada Ibu untuk beberapa waktu karena Pras harus berangkat ke Surabaya ada kerjaan yang harus di selesaikan," ucap Pras mencoba menjelaskan pada mertuanya.
"Apa tidak bisa di tunda besok?" tanya Ibu Aminah.
"Tidak bisa, Bu karena Mas Pras bosnya jadi dia harus turun tangan sendiri." Kini bukan Pras yang menjawab melainkan Keyla.
"Oh, begitu ya sudah tidak apa-apa," balas Ibu Aminah.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan dari mertuanya, Pras langsung bergegas pamit.