
bab 159
.
.
Disaat semua tengah bahagia, ada dua orangtua yang masih dalam kesedihan mereka. terduduk bersama disebuah ruangan temaram dengan penyesalan yang mendalam. Adam sama sekali tidak kefikiran jika akan kehilangan putri kesayangannya, begitupun dengan Mama tyas. keegoisannya membuat dua anak kandungnya yang sengaja terpisah harus saling salah faham dan menimbulkan konflik hingga membuat satu anaknya meninggal.
" kita harus segera menemui Attalah dan Namira Tyas." ujar Adam.
"apa Atta masih mau menerimaku Dam ?? dengan semua kenyataan ini ??" Mama tyas mencoba memperjelas.
" apapun keputusan dia kita harus menerimanya, aku tau ini berat, tapi jika kita tidak menceritakan semuanya malah akan menjadi beban kita seumur hidup. seperti kataku sebelumnya, aku ingin pensiun menjadi mafia, dan hidup tenang dimasa tua. Ingatlah Tyas, usia kita sudah betambah tua." terang Adam.
Mama tyas mengatur nafasnya, memejamkan mata beberapa kali. "baiklah. ayo kita kerumah Attalah." ajak mama tyas membenarkan ucapan Adam.
keduanya segera bangkit dan segera menuju kemana akan mereka datangi.
.
.
Sementara Namira dan Attalah kini tengah berada dijalan untuk kembali kerumahnya. dokter juga telah memperbolehkan Namira untuk pulang, senyum kebahagiaan nampak sekali diwajah Namira dan Attalah. bahkan sikecil Erlita juga terus bercanda ria dengan sang ayah.
" mas. kita kemakam Hans ya ??" pinta Namira.
"baiklah sayang." balas Attalah yang segera menujukan mobilnya kearah dimana makam Hans berada.
" bunda.. adik bayi kapan keluarnya ??" tanya Erlita.
"sabar dong sayang..biar dia tumbuh dulu diperut bunda, nanti kalau sudah saatnya pasti keluar. Er sudah mau jadi kakak, nggak boleh cengeng lagi."tutur Namira.
__ADS_1
" Er sudah besar ya berarti." balas Erlita penuh antusias.
" benarkah ?? ya ampun.. anak ayah sudah gadis sekarang.." puji Attalah.
Semua tertawa bahagia didalam mobil.
" apa Oma pulang mas ??" tanya Namira.
" tidak, oma menunggu kita dirumah bersama Tio." jawab Attalah.
Namira menganggukkan kepala.
Attalah menghentikan laju kendaraannya tepat didepan pemakaman dimana Hans diistirahatkan.
Namira pun segera turun dengan membawa buket bunga ditangannya yang ia beli sewaktu dijalan.
sementara Attalah segera menuntun putri kecilnya menyusul Namira yang berjalan terlebih dulu.
Namira meletakkan buket bunganya. "maafkan aku, rasa bersalah masih saja aku rasakan. aku tidak tau masa lalumu, tapi ternyata kau disukai wanita cantik selama ini, kau malaikat dalam hidup kami, sampai kapanpun."
Attalah mengusap punggung istrinya.
mereka kemudian berdoa bersama, mendoakan Alm. Hans agar ditempatkan ditempat terbaik disisi yang maha kuasa.
.
.
Mobil Adam berhenti tepat didepan rumah besar Attalah. mama tyas masih mematung dengan banyaknya kenangannya bersama Attalah.
" apa yang kau fikirkan ?? ayo turun" ajak Adam.
__ADS_1
Mama tyas mengangguk dan mengikuti adam untuk turun dari mobil.
" ayo.." Adam berjalan terlebih dulu menuju gerbang.
penjaga segera menghampiri Adam dan Mama tyas, " nyonya Tyas. mari silahkan masuk" sapa Penjaga yang sudah mengenal mama tyas dan langsung membukakan gerbangnya.
" apa putraku dirumah ??" tanya Mama tyas.
" tuan sedang menjemput nyonya Namira dirumah sakit sebentar lagi mungkin pulang." terang penjaga.
" menantuku dirumah sakit ?? kenapa ??" tanya Adam.
penjaga keheranan, ia merasa asing dengan pria disisi mama tyas.
" emm...dirumah ada siapa ??" mama tyas mencoba mengalihkan pandangan penjaga.
" Nyonya besar dirumah bersama asisten Tio. mari nyonya silahkan." ujar penjaga.
" apa kita kembali nanti ??" tanyq Mama tyas kepada Adam.
" kita harus menemui Oma, dan menjelaskan semuanya."ujar Adam.
mama Tyas mengangguk pelan dan menyetujuinya.
" dia rekan saya. biarkan dia masuk." kata Mama tyas. seraya melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam.
Mama tyas berusaha mempersiapkan diri dengan semua keadaan yang akan terjadi nanti. entah apapun responnya, mama tyas harus berusaha menerimanya.
.
.
__ADS_1
.