
Satu minggu berlalu.
"Kenapa?" tanya Ibu Aminah. Beliau tak sengaja melihat Keyla yang berdiam diri di samping rumah duduk di atas kursi sambil melihat ke arah layar ponselnya.
"Ibu, bikin kaget aja." Keyla menatap kearah Ibunya.
"Pras belum bisa pulang?" Ibu Aminah duduk di samping Keyla.
Keyla mengangguk.
Ibu Aminah menarik kepala putrinya agar bersandar di bahunya. "Sabar, mungkin memang dia masih sibuk jadi belum bisa pulang," ucap Ibu Aminah sambil mengelus lembut kepala Keyla mencoba menenangkan putrinya.
"Iya, Bu. Key, tidak masalah jika Mas Pras belum bisa pulang cuma key bosan di rumah terus tidak boleh kerja," balas Keyla.
"Hist, kamu ini, Ibu kira sedih karena kangen dasar." Ibu Aminah mencubit hidung putrinya dengan gemas.
"Bu, nanti malam Key makan malam bareng Vita ya?" karena tidak ada suami jadi dia minta ijin sama Ibunya.
"Boleh, tapi jangan pulang terlalu malam." Meskipun tidak suaminya, tapi tetap saja Keyla tidak bisa sesuka hatinya.
"Siap, Bos," balas Keyla.
"Lanjutin lagi melamunnya, Ibu ingin berangkat ke toko," ucap Ibu Aminah kemudian berdiri dari duduknya berjalan melanjutkan langkahnya keluar rumah tadi sempat tertunda karena melihat Keyla melamun sendiri dia pikir anaknya sedang sedih di tinggal Pras eh ... ternyata dia salah paham, anaknya sedih di sebabkan bosen dirumah.
Keyla memang sudah tidak bekerja setelah menikah, Pras menyuruhnya berhenti agar bisa ikut bersamanya kapanpun dia membutuhkan sang istri. Pras sudah menyiapkan satu restoran untuk Keyla kelola sendiri.
*
__ADS_1
*
*
Malam hari.
Keyla keluar rumah menuju kedai Fery menggunakan motor kesayangannya.
"Malam, Fer," sapa Keyla saat masuk kedalam kedai.
"Wih ... pengantin baru," balas Ferry.
Keyla tak menanggapi ucapan Ferry, dia memilih melanjutkan langkahnya mencari meja yang kosong.
Keyla duduk di meja paling pojok belakang supaya lebih nyaman jika ngobrol.
"Keyla, apa kabar lu?" Anita langsung memeluk sahabatnya.
"Seperti yang lu lihat," jawab Keyla.
"Jangan seperti ini malu tuh di lihat orang nanti di kira kita, hi ... amit-amit," ucap Keyla.
"Hih ... gue masih normal kali." Anita melepaskan pelukannya.
"Ha-ha-ha." Keyla membalasnya dengan tertawa kecil.
"Lu, masuk pagi, Nit?" tanya Keyla.
__ADS_1
"Iya bareng sama tuh nenek sihir," jawab Anita.
"Nenek sihir?" Keyla yang bingung tak mengerti dengan ucapan Anita.
"Iya, si Meli nenek sihir," jelas Anita dengan nada sedikit kesal.
Keyla tertawa cekikikan mendengar ucapan Anita yang memberikan nama lain untuk Meli.
Meli memang orang yang sedikit menyebalkan, tapi saat Keyla masih kerja tidak sampai memberikan gelar untuk Meli.
"Dia itu sangat menyebalkan sekali, Key. Setelah lu keluar dia itu semakin berani mendekati pak Dewa. Ih ... gue sama mas Heru sampai geleng kepala lihat tingkah dia yang lebay banget," jelas Anita.
"Biarkan saja, kali aja pak Dewa bisa mencintai dia dengan seiring berjalannya waktu," balas Keyla. Meskipun sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi sekarang dia sudah milik orang.
"Pak Dewa bukannya cinta, tapi malah ilfil, Key dengan tingkah dia yang seperti itu," ujar Anita.
"Memangnya dia bersikap seperti apa sih, Nit?" Keyla jadi penasaran seperti apa seorang Meli sekarang.
"Dia tuh ya kalau pak Dewa datang langsung pura-pura sibuk ini itu, terus sengaja dia yang berada di kasir biar bisa dekat-dekat sama pak Dewa kan pak bos suka duduk di kursi sebelah kasir ngecek buku laporan. Si nenek sihir beraksi pura-pura nggak ngerti biar dia bisa ngobrol sama pak Dewa, ah ... pokoknya nenek sihir menyebalkan sekali," cerocos Anita.
"Mungkin memang dengan cara seperti itu pak Dewa bisa melihat dia, Nit. Lu kan tahu selama ini pak bos cuek banget sama dia," balas Keyla.
"Iya juga sih, tapi Key kalau menurut aku nih ya, janganlah seperti itu perempuan harus punya harga diri," ujar Anita.
"Hem.m.m sudahlah biarkan saja itu urusan dia," balas Keyla. "Kamu haus apa doyan?" Keyla melihat gelas Anita yang sudah kosong tak tersisa setetes pun.
Anita melihat gelasnya kemudian tertawa kecil. "Lha minuman gue habis ya, hahaha. Kesel gue, Key." Anita yang tak sadar jika minumannya sudah habis tak tersisa karena saking asyiknya cerita sambil sesekali menyeruput minumannya.
__ADS_1