Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Penyelesaian


__ADS_3

bab 150


.


.


.


Dommm !!


domm..!!!


Api berkobar dengan dahsyatnya. Semua merunduk dengan memeluk keluarga kesayangannya. Mika mematung dengan mata merah dengan air mata yang tergenang, didepan rumahnya yang sudah terlahap bara api yang begitu hebat.


Adam meringis menahan luka dipinggangnya.


" Adam, ayo kerumah sakit !!" ajak mama tyas begitu kawatir, tanpa peduli siapapun yang lain mama tyas membawa Adam masuk kedalam mobil, Attalah hendak mencegah namun lengannya sudah ditahan Namira dengan gelengan kepala pertanda untuk membiarkan dulu.


Sementara Tio tetap waspada meski kini mika sudah terlihat menyerah, dimana ia tadi membawa semua orang yang berada diatas atapnya menaiki helikopter agar tidak ada korban jiwa.


setelah memastikan Widia baik-baik saja, Bima meraih sesuatu dari sakunya dan mendekati Mika.


" kau ditahan Mika !!" tanpa menunggu jawaban Mika, Bima memborgol lengan Mika yang nampak begitu tak berdaya.


" hentikan Bima " Mika mulai bersuara. seraya menoleh kearah semua orang. namun Bima hanya mengeryitkan dahi begitu saja.


Mika menatap satu persatu wajah-wajah orang dihadapannya dengan mata berlinang.

__ADS_1


Erlita yang nampak.begitu ketakutan saat mata Mika tertuju padanya. Dengan cepat Erlita menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang Ayah.


"aku tidak akan melawan. Lepaskan tanganku."ujar mika lirih


Bima mengeryitkan dahinya, lalu beralih menatap Tio yang dibalas anggukan oleh Tio.


" jika kau sampai melawan lagi, aku tidak akan segan menembakmu Mika." balas Bima.yang kemudian melepaskan tangan Mika.


Attalah sangat waspada dengan melindungi Namira serta putri mereka.


"aku tidak menyangka jika aku memiliki keluarga seperti orang-orang lain."ujar Mika sembari menatap Attalah.


Hening semua hanya diam mendengarkan ucapan Mika.


" aku marah krna Hansku harus mati dimalam pernikahan kalian. padahal dia sangat mencintaimu Namira. Semua terasa tidak adil, kenapa kalian bisa bahagia dan tersenyum sementara Ada yang rela berkorban disini !!" lanjut Mika dengan berlinang air mata.


" diam kau !!! sejak kapan kau jadi adiknya hah ?!!! bahkan kau selalu menolak ajakan dia kembali kerumah hanya demi mengikuti Attalah itu kan ??!!! kau biarkan dia menahan sakit seorang diri ??!!" balas Mika tak mau kalah.


Tio mengepalkan kuat tangannya.


" apa ?? kau mau mengelak ?? bahkan aku tau semuanya Tio ??!!" ujar Mika dengan senyum penuh frustasi.


" kau !!!" timpal Tio


" aku tau perasaanmu, jika saja kau hadir saat Hans masih hidup aku tidak akan berani mendekati dia. maafkan aku.." ucap Namira yang menyela ucapan Tio. wajah Namira nampak.begitu sangat sedih. mengingat semua memang kesalahannya yang menjadikan Hans sebagai pelarian.


Mika menyunggingkan senyum dengan cepat Mika meraih Pistol dari saku blezzernya.

__ADS_1


hingga membuat Tio dengan sigap juga mengarahkan pistol miliknya kepada Mika. namun yang menjadi semua nampak terkejut, Mika malah menempatkan Pistol itu dipelipisnya.


" apa yang kau lakukan ??" tegur Bima.


" turun kan senjatamu !!" tambah Tio.


Attalah segera menarik Namira dalam dekapannya bersama Erlita.


" kita bisa bicara baik-baik.." Widia ikut bersuara.


" aku sudah kalah. aku kehilangan orang yang aku cintai, dan aku juga kehilangan ayahku. selamat tinggal semua.." setelah berkata begitu Mika dengan cepat menarik pelatuk Pistol ditangannya.


Dorr !!!


" Mika !!!" pekik Tio yang begitu tak percaya dengan apa yang terjadi.


Widia juga menutup matanya karna tidak tega melihat pelipis Mika mulai mengeluarkan darah.


Attalah dan Namira juga demikian mereka memejamkan mata, dengan Attalah menutup telinga Erlita.


Perlahan tapi pasti tubuh Mika ambruk begitu saja dengan darah segar mengalir melalui pelipisnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2