
Di kediaman Keyla sudah ramai dengan hadirnya para sanak saudara dan tetangga yang membantu mempersiapkan segalanya.
Acara ijab akan di adakan di rumah Keyla, sedangkan resepsi akan di adakan di salah satu restoran milik Pras.
"Keyla," teriak Vita, Airin, dan Anita di depan pintu kamar Keyla.
"Masuk tidak di kunci," balas Keyla dari dalam.
"Calon pengantin terkurung dalam kamar," ucap Vita sambil tertawa kemudian duduk di samping Keyla yang berada di atas ranjang.
"Lu udah bertelur berapa kilo, Key?" Kini Airin yang berkata.
"Memangnya lu kira gue ayam," kesal Keyla disambut tawa para sahabatnya.
"Apa harus seperti ini kalau orang mau nikah, sungguh menyiksa. Gue bosen banget selama satu minggu di suruh di kamar terus nggak boleh kemana-mana," ucap Keyla.
"Tidak juga, semua tergantung pada orangnya," balas Vita. Setiap orang memiliki prinsip dan adat masing-masing.
"Pras gimana, Key?" tanya Vita.
"Entah." Keyla mengangkat kedua bahunya pertanda dia juga tidak tahu kabar caoon suaminya sudah tiga hari ini Pras tak menghubunginya.
"Lu, gimana sih, Key masa kabar calon laki lu nggak tau." Vita yang merasa heran.
"Dia pasti sibuk banget, Vit jadi ya gue nggak mau ganggu," ucap Keyla.
"Pak Dewa, kira-kira datang nggak ya gaes?" Vita mengajukan pertanyaan pada para sahabatnya.
"Pasti datang dong," balas Airin.
"Datanglah, meskipun membawa luka di hatinya," sambung Anita.
__ADS_1
"Nggak kebayang gimana ya reaksi, pak Dewa nanti," ucap Vita.
"Jangan di bayangin, tapi kita lihat aja nanti," balas Airin.
'Sudahlah, bahas yang lain saja," tegas Keyla. Dia tak mau terus mengingat semua hal tentang Dewa. Kini dia harus menatap ke depan bersama masa depannya.
"Ok, ok. Kita ganti topik," ucap Vita.
*
*
*
Di tempat lain tengah berdiri seseorang di balkon kamar sambil menatap kearah lurus ke depan, entah kenapa dia selalu mengurung diri agar tidak berjumpa dengan orang lain.
'Andai kau tahu betapa besarnya cintaku mungkin saat ini kamu berada di sampingku. Jika aku bisa mengulang waktu, akan aku perjuangkan cintaku padamu hingga aku bisa bersanding di samping mu, membina bahtera rumah tangga bersama mu.
*
"Jangan terus-menerus memikirkan sesuatu yang bukan milikmu."
"Tidak, gue hanya cari angin."
"Baguslah, segeralah keluar dari masa lalu karena masa depanmu sudah menunggu."
"Tumben, omongan lu bener."
"Gini-gini gue pawang cinta."
"Pawang cinta kok jomblo, ha-ha-ha."
__ADS_1
"Bukan jomblo cuma belum ketemu sama yang cocok."
"Sama aja Bambang."
"Beda."
"Apa bedanya sama-sama sendiri."
"Beda. Jomblo itu kalau nggak laku, nah kalau gue memang belum ketemu jodohnya."
"Terserah apa kata, lu lah yang waras ngalah."
"Susah kalau ngomong sama orang yang sedang patah hati."
"Gue nggak patah hati."
"Terus, patah cinta gitu."
"Nggak, hanya belum di terima."
"Dewa, Dewa bikin gue ngakak aja."
"Kenapa? gue nggak nyuruh lu ketawa."
"Ah, terserah Lu, intinya besok lu datang tidak di acara pernikahan Keyla?" tanyanya.
"Pastilah. Memangnya kenapa, Her?" tanya Dewa.
"Tak apa, siapkan mental jangan nangis di sana," ucap Heru.
"Memangnya lu kira gue cowok apaan nangis hadir di pernikahan mantan," jelas Dewa.
__ADS_1