
bab 111
.
.
.
Siang telah berganti dengan malam. sinar mentari juga sudah berganti dengan indahnya sinar rembulan.
Namira menatap dirinya dari pantulan cermin besar dihadapannya.
Gaun merah jambu pilihan pelayan butik benar-benar menyatu sempurna pada tubuhnya.
Riasan tipis namun elegan, membuat Namira terlihat cantik.
seakan merasa Dirinya belum sempurna, Namira terus memutar tubuhnya melihat adakah yang kurang dari penampilannya malam ini.
Attalah yang baru selesai berganti baju menggelengkan kepala seraya tersenyum, saat Melihat tingkah sang istri.
Attalah mendekati Namira dan langsung memeluk Namira begitu saja.
" kenapa ?? gaunnya tidak cocok ya ??" tanya Attalah yang meletakkan kepalanya diceruk leher Namira.
Namira tersenyum dan menikmati pelukan hangat dari suaminya. "aku hanya tidak mau mempermalukanmu saja didepan Klienmu."
" mempermalukan yang bagaimana ?? kau cantik meski tanpa Gaun ini sayang.."timpal Attalah dengan mencium pipi Namira.
Namira tertawa kecil dengan godaan suaminya. " menurutmu saja aku cantik, bukan mereka.."
" kau tau, aku sebenarnya sangat kawatir jika kau berdandan secantik ini." ucap Attalah.
"kenapa ?? kau malu atau bagaimana ??!!" tanya Namira keheranan.
" bukan malu sayang..hanya saja aku tidak mau kejadian waktu kita diZoo terulang. pasti nanti banyak pria yang memperhatikanmu.." gerutu Attalah sembari menjelaskan.
__ADS_1
" hanya memperhatikan ya biarkan saja." balas Namira.
" itu tidak boleh, !! hanya aku yang boleh menatapmu.." timpal Attalah.
" kau seperti ABG saja.." ucap Namira dengan tersenyum geli saat mendengar alasan suaminya.
Attalah mengeratkan pelukannya dengan memejamkan mata dengan posisi sama.
" apa kita tidak.jadi pergi ??" tanya Namira
" jadi dong..!!" balAs Attalah.
" tapi kenapa kau begini terus ,??!!" protes Namira sembari menengok kesamping dimana kepala suaminya berada dipundaknya.
" he..he..he.. ini terlalu nyaman. bagaimana jika kita batalkan ??" tawar Attalah dengan memutar tubuh Namira agar menghadap dirinya.
" kau bilang ini klien penting, apa kau yakin harus dibatalkan ??!" balas Namira.
" iya, ya sudah ayo.." ajak Attalah sembari menarik lengan Namira.
" ada apa lagi ??" tanya Attalah menengok.
" apa kau akan makan malam dengan boksermu itu ??!" ucap.Namira sembari menujuk dengan mata kearah bawah tubuh Attalah dimana Attalah Masih menggunakan celana bokser pendek.
Attalah terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "maaf sayang.. tunggu sebentar ya ??" Attalah berkata demikian seraya mencium pipi Namira dan berlari menuju walk in closet miliknya guna mencari celana panjangnya.
Namira menggelengkan kepala seraya tersenyum, saat melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak.
.
.
.
Sementara Bima dan kedua orangtuanya sudah sampai dirumah Widia. sambutan hangat dari kedua orangtua widia begitu terlihat membahagiakan.
__ADS_1
" selamat datang tuan dan nyonya.. silahkan masuk.." sapa Papa tedy dengan sopannya.
" panggil ayah dan Ibu saja papanya widia, kami bukan dari kalangan sekaya panggilan itu." balas Ayah wira tak lupa dengan sopan juga
" baiklah..mari kita masuk saja dulu.." ajak Mama arum dengan penuh antusias.
Semua masuk kedalam.rumah widia. Bima masih terdiam dengan fikiran yang bergelut dilema. jujur saja ia sangat gugup, entah mengapa. ia sendiri juga tidak tau, jika ditanya adakah rasa suka pada widia, Bima bahkan belum bisa menjawab, ia hanya berniat mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Widia.
Acara lamaran malam itu memang berlangsung secara sederhana. Hanya dihadiri Aparat komplek setempat sebagai saksi.
Mama arum mempersilahkan Ibu wulan dan ayah wira serta bima duduk.
dihadapan mereka duduk, sudah tersaji camilan berbagai jenis kue, pelayan rumah juga langsung datang membawakan minuman untuk kedua orangtua Bima.
" Ini banyak sekali kuenya mama widia.. bikin sendiri atau beli ??"0 tanya Ibu wulan dengan wajah begitu kagum.
" bikin sendiri buk, maklum saya hanya ibu rumah tangga yang selalu dirumah," jawab Mama arum.
Bima sesekali melirik kearah tangga, entah mengapa seolah ia begitu mengharapkan Widia segera turun agar rasa gugup pada dirinya sedikit berkurang.
" Nak Bima mencari Widia ya ??" tanya papa tedy saat melihat Bima menatap kearah tangga terus.
Bima gelagapan dibuatnya, " oh.. ee.. iya, em..maksud saya tidak tuan.."
Papa tedy dan mama arum tertawa kecil begitupun dengan Kedua orangtua bima.
" sabarlah Bima.. belum waktunya.." goda ibu wulan.
" ibu.." protes Bima sembari menundukkan wajahnya karna pasti wajah itu memerah sebab rasa malu yang berlebihan yang ia rasakan.
.
.
.
__ADS_1
.