Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
kematian Mika


__ADS_3

bab 154


.


.


Attalah nampak begitu frustasi dengan tawa yang terdengar begitu memilukan. Namira mencoba terus menguatkan suaminya.


" mas.. tenangkan dirimu.."


" lihatlah mira, semua bahkan sudah tau.. ha..ha..ha.. bodohnya aku.." ujar Attalah


" cucuku.. dengarkan dulu.. sayang.." Oma Rani berjalan menghampiri Attalah.


Sentuhan dari Oma Rani membuat air mata Attalah terjatuh begitu saja. tangisnya pecah dalam dekapan oma Rani, sandaran Attalah sejak kecil.


" hentikan tangisanmu cucuku.. jangan menangis.." ujar oma Rani yang ikut menitikkan air mata.


" aku ini siapa oma..aku ini anak siapa sebenarnya " ucap Attalah dengan terus berlinang air mata.


Namira terduduk ikut memeluk suaminya yang dalam keterpurukan.


" kau ini cucuku Atta.. sampai kapanpun kau tetap cucuku.." balas oma Rani yang juga terus berlinang.


Adam tertunduk merutuki semua yang terjadi, hanya sesal yang saat ini ia rasakan.


namun lampu emergenzy terdengar dari kamar rawat Mika yang terbaring, pertanda Keadaan Mika memburuk.

__ADS_1


semua nampak begitu terkejut, hingga para perawat serta dokter berlarian menuju ruang rawat Mika.


" ada apa ini ??" tanya Adam menatap Mama tyas.


" ayo kita lihat.." ajak mama tyas yang sembari mendekati perawat terakhir yang hendak menutup pintu.


" maaf nyonya, tuan. kalian dilarang masuk. kondisi pasien kritis." ucap sang suster.


" sus, ada apa dengan putri kami ??" tanya mama tyas dengan mimik wajah begitu kawatir.


" dokter sedang akan memeriksanya, tolong menunggu nyonya." balas sang suster yang langsung menutup pintu begitu saja.


" bagaimana ini..!!?" mama tyas amat kawatir hingga menggunjang tumbuh Adam.


" semoga dia selamat.." balas Adam dengan penuh harap.


" anakku ma.. dia adiknya Attalah. aku akan katakan semua nanti. aku mohon bantu aku mendoakan dia agar segera membaik." terang mama tyas dengan mengatupkan kedua tangannya menghadap oma Rani.


Oma Rani menatap Adam dan Mama tyas bergantian, ingin berucap tapi pintu ruang rawat kembali terbuka.


Adam dan Mama tyas segera berlari mendekati Dokter yang nampak keluar


" bagaimana keadaan anak saya dok ?? dia sudah melewati masa kritisnya ?? apa dia sudah sadar ??" tanya Adam bertubi-tubi.


Sang dokter tertunduk dengan wajah terlihat tak bersahabat.


" maaf tuan. kami tidak bisa menyelamatkan putri anda. pembuluh darah yang pecah membuat dia tidak bisa bertahan." terang sang dokter.

__ADS_1


Mama tyas reflek menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna dan tergenang air mata.


" apa dok ?? anak kami.. anak kami..." Adam bersuara dengan bergetar.


Dokter itu langsung mengangguk pelan membenarkan meski ucapan Adam terhenti.


" aaahhh !!!! " mama tyas berteriak histeris dengan menutup kedua telinga, kakinya bahkan tak mampu menopang berat tubuh mama tyas sendiri.


" tidak.. anakku..anakku..." kembali mama tyas histeris dengan begitu memilukan.


Adam meraih tubuh Mama tyas dengan air mata yang juga mengalir dengan derasnya.


" sabarlah Tyas.. sabarlah.."


Mama tyas berontak dan berlari masuk kedalam ruang rawat Mika. berhambur memeluk tubuh kaku dan Pucat yang sudah selesai dilepas semua alat medis yang menempel ditubuh Mika.


" Mika..bangunlah sayang.. mika...ini Ibu nak...!!! bangunlah... maafkan ibu nak !!!!" begitu histeris dengan terus mendekap tubuh kaku Mika.


Adam mengusap punggung mama tyas yang begitu terpukul dengan kematian putri mereka yang begitu cepat.


" Mika... anakku...ini ibu nak...ini ibumu...aku tyas adalah ibumu...!!!! hu..hu..hu.." terus dan terus kata itu yang terlontar dari mulut mama tyas. penyesalan yang begitu mendalam terasa dihati Mama tyas. ia sangat sadar, keegoisannya telah menghancurkan semua keluarganya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2