Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Part 89


__ADS_3

"Sorry gaes nunggu lama, biasa pak bos


tiba-tiba datang," ucap Vita yang baru datang bersama Airin. Mereka langsung duduk bergabung bersama kedua sahabatnya.


"Jam berapa pak bos datang?" tanya Anita.


"Setelah magrib, segala bawa barang banyak banget," jelas Vita.


"Pasti lu sisain buat gue?" tebak Anita.


"Itu pasti," jawab Vita dengan tertawa.


"Jahat lu. Ah ... pasti besok si nenek sihir ribet banget deh."Anita tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya besok pasti sangat melelahkan.


"Kalau tuh nenek sihir nggak mau bantuin, lu getok aja pakai sapu," balas Vita di sambut gelak tawa para sahabatnya.


"Setelah itu gue langsung viral deh dengan Vidio tuduhan penganiayaan," ucap Anita.


"Lha kan bagus lu jadi terkenal," sambung Airin.


"Iya, terkenal jahat," ujar Anita.


"Sudahlah, ayo kita makan pasti kalian lapar kan?" tanya Keyla.


Dibalas anggukan oleh ketiga sahabatnya.


"Wih ... udah kumpul semua ini personilnya," ucap Ferry sengaja menghampiri Keyla.


"Nah kebetulan sekali ada dia." Vita menunjuk kearah Ferry.


"Apaan?"


"Gue mau pesan makanan kebetulan lu datang jadi lu layani kita," ucap Vita.

__ADS_1


"Ogah banget," balas Ferry. "Minta aja sana ke depan," lanjutnya.


"Ayolah, Fer. Lu baik hati deh." Vita mengeluarkan rayuan maut.


"Nggak mempan rayuan lu, sana!" Ferry tetap tidak mau.


"Ok, gue pesan sendiri, tapi lu yang bayar, gimana?" Vita memberikan pilihan.


"Pesanlah, nanti biar saya yang bayar," balas seseorang yang duduk tepat di belakang meja Vita.


Mendengar ada suara seseorang semua langsung menoleh ke sumber suara. "Pak Dewa," ucap mereka bersama.


Vita yang tadinya ngoceh terus melihat ada bosnya dia langsung diam. Vita menyenggol lengan Ferry.


Ferry yang mengerti isyarat dari Vita langsung mengangguk dan mengambil daftar pesanan para sahabatnya.


Kemudian dia berjalan ke dapur memberikan kertas pesanan Keyla.


Setelah mengantarkan kertas tersebut Ferry kembali menghampiri Keyla dia ikut duduk bergabung bersama.


"Lu lupa apa gimana, ini kan kedai milik gue wajar dong gua ada disini. Sudah lama nih kita nggak pernah ngumpul bareng," ujar Ferry.


"He'em," balas Airin.


"Gue cari-cari ternyata lagi mojok di sini Lu," omel seseorang orang yang baru datang sambil memukul bahu Ferry.


"Hai, Kak Firdaus," sapa Airin.


"Dari mana lu, Fir? pasti habis jalan nih sama __." Ferry menghentikan ucapannya karena mulutnya langsung di tutup tangan Firdaus.


"Tuh mulut nanti gue lakban nih," kesel Firdaus.


"Sorry," ucap Ferry.

__ADS_1


"Hai ... apa kabar, Key?" tanya Firdaus.


"Alhamdulillah, seperti yang lu lihat," jawab Keyla.


"Sendirian?"


"Lu nggak lihat apa gimana, ada kita di tanya sendirian," sahut Vita.


"Tau nih memangnya lu kira kita orang-orangan," sambung Airin.


"Bukan begitu, maksudnya dia sendiri nggak sama Pras gitu," jelas Firdaus.


"Oh, gitu," ucap Vita, Airin, Anita bersama.


Firdaus tak menanggapi lagi, dia memilih diam sesekali curi pandang ke arah Keyla.


"Jangan lihat-lihat gitu nanti bintitan tau rasa," sindir Vita.


Semua langsung menatap ke arah Vita. "Ngapain pada ngeliatin gue, noh yang curi-curi pandang," ujar Vita sambil melirik ke arah Firdaus.


Mereka langsung beralih memandangi Firdaus.


"Apaan sih, gue lagi lihatin orang di sebelah sana," jelas Firdaus mengelak.


"Sudah-sudah, tuh makanannya datang," tegas Keyla.


"Ran, satu lagi buat gue ya," ucap Firdaus pada salah satu karyawan yang mengantarkan pesanan Keyla.


"Baik, Kak," balas Rani.


"Suami lu kerja, Key?" tanya Firdaus.


"Iya," jawab Keyla. "Cewek lu mana nggak di ajak ke sini?" Kini gantian Keyla yang bertanya.

__ADS_1


"Gue belum punya pacar, masih setia nungguin lu," balas


__ADS_2