
bab 123
.
.
.
Tengah malam, Attalah masih tetap tidak bisa memejamkan mata. memikirkan ulah mama tyas lagi, mamanya tega melukainya, tidak menutup kemungkinan, mama tyas pasti akan melukai Namira ataupun Erlita.
Sesekali Attalah mengusap kasar wajahnya saat melihat dua kesayangannya yang terlelap disisinya. wajah tak berdosa yang begitu amat dibenci oleh sang mama. entah mengapa Attalah sendiri tidak tau.
" aku harus memberi kalian perlindungan." gumam Attalah yang segera beranjak dari tempat tidur seraya menyambar ponselnya diatas meja nakas.
Tak ingin membuat putri dan istrinya bangun, Attalah memilih keluar kamar dan tujuan Attalah adalah ditepi kolam renang.
segera ia mengusap layar ponselnya dan mencari nomer yang hendak ia hubungi.
Lama tak tersambung, Attalah kembali mencoba lagi
" kenapa menghubungiku malam-malam ??" suara Tio yang terdengar parau karna terjaga saat tertidur.
" maaf aku mengganggumu, aku perlu bantuanmu." ujar Attalah.
" bantuan apa malam-malam begini ??!!" tanya Tio sambil memutar tubuhnya tengkurap.
" aku perlu beberapa anak buahmu untuk menjaga Er dan namira. " balas Attalah dengan jelas.
__ADS_1
" anak buahku ?? menjaga ?? kau berfikir mamamu akan melukai anak dan istrimu ??" terka Tio.
" iya. dia saja tega menyuruh orang melukaiku Tio, apa lagi dengan Namira dan Erlita, mama begitu membenci mereka.."jelas Attalah.
" tapi mamamu kan memgelak jika dia yang menyuruh orang untuk membunuhmu Atta ?!!" timpal Tio memberi arahan.
" mengelak adalah ilmu mama sejak dulu, sejak ia mengatakan hal buruk tentang Namira dulu !! kau kan juga tau !!" ujar Attalah penuh frustasi.
" baiklah. terserah kau saja. besok aku kirim beberapa kerumahmu."ucap Tio mengalah.
" terima kasih. usahakan yang seperti biasa orangnya, aku tidak mau jika preman yang kau suruh." Attalah mewanti-wanti.
" kau tenang saja !!" balas Tio.
" tapi.. untuk Namira adakah anak buahmu yang wanita juga ?? aku mana tenang jika pengawal Namira pria ??!!" pinta Attalah.
" aku hanya jaga-jaga saja !! carikan yang wanita ya ??" pinta Attalah tanpa mengindahkan omelan Tio.
" jika saja kau disini, aku sudah memukul kepalamu Attalah !!" balas Tio.
Attalah malah terkekeh dengan jawaban Tio yang terdengar ditelinganya.
tanpa menunggu Tio berkata lagi, Attalah mematikan panggilannya.
Meski rasa kawatir masih menyelimuti hatinya, setidaknya Ia sedikit lega karna istri dan anaknya akan aman.
Attalah hendak berbalik, namun ia langsung dikejutkan dengan Namira yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
" sa..sayang..kau..kau sedang apa disini ??" tanya Attalah dengan ekspresi terkejut.
" kau sendiri kenapa disini tengah malam ?? siapa yang baru saja kau hubungi ??" tanya Namira.balik.
Attalah menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, " itu..aku menghubungi Tio."
" malam-malam begini kau menghubunginya ?? memangnya besok kalian tidak bertemu ??" Namira seolah tak percaya.
" tidak sayang.. maksudku, besok kan aku harus mitting pagi sekali dengannya, jadi aku meminta dia menyiapkan bahan." terang Attalah mencoba beralasan.
Namira hanya membuang nafasnya begitu saja. "ya sudah. apa masih mau disini ,??" tanya Namira.
" tentu saja tidak. ayo kekamar " ajak Attalah.
" kau naik saja dulu. aku mau mengambil minum." balas Namira.
" baiklah. aku naik ya.." Attalah mencium pipi Namira dan melangkah menaiki tangga. meski raut tak seperti biasa terlihat diwajah Attalah.
Namira.hanya menatap punggung Attalah yang menaiki tangga,
" aku akan cari tau sendiri besok." gumam Namira yang memang tadi mendengar sekilas percakapan Attalah tentang pengawal.
.
.
.
__ADS_1