
bab 132
.
.
.
Namira mengusap lembut kepala sang putri yang terlelap dalam dekapannya. setelah merengek meminta sekolah seperti biasa dengan banyak teman.
" sampai kapan kami akan dikurung seperti ini ??" gumam Namira, yang begitu gundah dengan keadaan yang terjadi pada keluarga kecilnya, Sesekali Namira hanya bisa membuang nafas dengan kasar.
Setelah memastikan putrinya tertidur, Namira memilih mengambil tas kecilnya dan segera keluar dari kamarnya.
Pelayan dirumah menghampiri Namira saat melihat sang bos terlihat akan pergi.
" nyonya mau kemana ??" tanya pelayan itu.
" mana pengawal untuk saya. ?? saya mau keluar sebentar. tolong jaga Er ya ??" pinta Namira pada pelayan dirumahnya.
" baik nyonya. mari saya antar keluar." pelayan itu mempersilahkan Namira keluar. dan benar saja diluar sudah berjajjar beberapa pria berjas hitam lengkap dengan kaca mata hitam.
salah satu dari mereka segera menghampiri Namira yang berdiri diujung tangga dihalaman rumahnya.
" nyonya akan pergi ??" tanya pengawal itu.
" iya. bisa antar saya ??" tanya Namira balik.
" tentu nyonya. mari silahkan." Pengawal itu memberikan jalan kepada Namira dan yang lain segera menyiapka mobil.
Namira merasa dirinya layaknya seorang putri kerajaan yang begitu berharga. tapi apalah daya dirinya, ketakutan juga masih terus menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Namira segera masuk kedalam mobil, dan pengawal itu pun juga segera masuk kedalam mobil.
" kita akan kemana nyonya ??" tanya pengawal itu.
" ke pemakaman saja." jawab namira.
sopir memgangguk dan segera melajukan mobil menuju tempat tujuan Namira.
.
.
.
Jarak antara rumah Attalah dan makam Hans memang cukup jauh. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Namira tiba dimakam pria yang dulu begitu menyayanginya.
pengawal segera membukakan pintu mobil untuk Namira, Setelah Namira turun mereka dengan sigap mengawal Namira memasuki area pemakaman.
Meski terasa risih, Namira tak mau berkomentar apapun. ia hanya sesekali mengusap buket bunga yang ia beli sewaktu dijalan tadi.
" Assalamualaikum.."
Namira berjongkok dan meletakkan buket bunga diatas makam Hans.
" apa kabar tuan Hans..apa kau marah padaku karna sudah lama aku tidak kesini ??" seolah mengajak Hans mengobrol, Namira berbicara menghadap Nisan disisinya.
" maafkan aku..maafkan aku..aku tidak melupakanmu dan Cintamu.."Kembali namira bersuara.
"kau tetap abadi dalam hatiku, jadi jangan marah ya..?? Attalah juga sedang sibuk, makanya dia tidak ikut." Namira terus mencurahkan kegundahan dihatinya
"aku harus apa tuan Hans..?? siapa orang yang tidak menyukai keluargaku ?? jika benar dugaanku, apa yang harus aku lakukan ??" Tangis Namira.
__ADS_1
Dering ponsel Namira membuat Namira tersadar dan segera mengusap air mata yang menetes dikedua pipinya.
segera Namira meraih ponselnya, nomer tidak dikenal terlihat dilayar ponsel. meski bertanya-tanya, Namira tetap menerima panggilan itu
" halo.. siapa ini ??" tanya Namira saat panggilan sudah tersambung.
" hay Namira safitri..apa kabar ??" jawaban dari sebrang terdengar ditelinga Namira. suara wanita yang begitu asing bagi Namira.
" kau siapa ?? bagaimana kau mengenalku ??" tanya Namira lagi.
" tidak penting siapa aku. apa kau ketakutan dengan kiriman dariku ?? kufikir kau melupakan pria yang dulu menolongmu, ternyata saat kau terpuruk saja, kau baru mau mengunjunginya.menjijikkan !!."terang suara wanita dalam sambungan telfon.
Mata Namira membulat begitu sempurna. dari perkataannya, wanita itu adalah pelaku peneror keluarganya. namira menelan ludahnya beberapa kali, lalu berdiri dan menatap kesekeliling. bagaimana bisa wanita itu tau dia sedang dimakam Hans. dan siapa wanita itu ?? Fikiran Namira terus memutar.
" kau terkejut ?? sama aku juga. ingat namira, aku tidak akan membiarkanmu dan keluargamu hidup tenang dan bahagia, luka harus dibalas dengan luka." ancam wanita dalam sambungan panggilan itu.
Nafas Namira memburu, rasa kawatir bercampur menjadi satu dibenaknya. "siapa kau ?? katakan saja !!?"
" setelah kau dan suamimu mati, aku akan datang menguburkan mayat kalian !!!" setelah berkata demikian Wanita itu menutup panggilannya.
" halo..halo !!! halo !!!" teriak Namira begitu frustasi, kakinya terasa lemah saat kembali mendapat ancaman dan kali ini secara langsung dan terang-terangan, hingga kedua pengawal yang mengikutinya mendekati Namira dan menyangga tubuh Namira
yang hampir terjatuh.
" Nyonya.. nyonya kenapa ??" tanya pengawal itu.
Namira hanya diam dengan tatapan mata yang dipenuhi air mata. untuk berucap saja rasanya lidahnya sudah kelu, tak tau harus berkata apa.
.
.
__ADS_1
.
.