
bab 156
.
.
.
Namira langsung ditangani oleh dokter saat tiba dirumah sakit. Attalah ditahan untuk tidak ikut kedalam pemeriksaan, Raut wajah kawatir terus nampak pada Attalah. ia mondar mandir didepan ruangan dimana Namira yang masih diperiksa.
Oma Rani dan Tio yang baru tiba pun segera mendekati Attalah. kekawatiran Oma Rani begitu terlihat seiring dengan langkahnya yang begitu cepat.
" bagaimana Atta ?? Mira baik-baik saja kan ??" tanya Oma Rani.
" Mira.masih ditangani Oma.." jawab Attalah dengan suara pelan.
Tio menepuk pundak temannya itu. "doakan yang terbaik saja."
Attalah membalas dengan mengangguk pelan.
Tak lama Dokter keluar bersama satu perawat disisinya. Melihat itu Attalah langsung mendekati dokter itu.
" bagaimana kondisi istri saya dok ??" tanya Attalah.
__ADS_1
" Nyonya Namira hanya mengalami kram pada perutnya, Mungkin karna tekanan batin atau terlalu stres berfikir saja. Janin juga tidak bermasalah. saya sarankan agar Nyonya Namira jangan sampai terlalu stres, buat suasana hatinya bahagia setiap saat. stres yang berlebih akan berpengaruh pada perkembangan janin tuan." terang sang dokter.
" Baik dok, saya akan ingat semuanya.."balas Attalah yang sadar, Namira pasti terlalu memikirkan dirinya.
" kalau begitu saya permisi. Nyonya Namira akan dipindahkan diruang rawat secepatnya." pamit dokter.
Attalah mengangguk dan dokter itu langsung melenggang meninggalkan Attalah serta Oma Rani dan Tio.
Attalah tertunduk, kenyataan pahit yang tidak bisa ia terima membuat ia melupakan keadaan sang istri yang tengah hamil muda.
" jangan menyalahkan dirimu lagi.." nasehat oma Rani yang bisa melihat gurat kesedihan dimata cucunya.
" aku sampai melupakan Mira Oma.." ujar Attalah lirih.
" kenyataan ini memang begitu sulit diterima cucuku..Bahkan dulu sewaktu oma tau, oma merasa ini benar-benar menyakitkan. tapi apalah daya kita jika memang inilah kebenarannya, cucu kandung atau bukan itu semua tidaklah penting bagi Oma. Bagi Oma kau tetap cucu kesayangan Oma sampai kapanpun. Oma mengerti perasaanmu, tapi ingat satu hal, Papamu amat tidak suka jika kau sampai membenci mamamu, ibu yang mengandung dan melahirkanmu, siapa ayah kandungmu, kau harus belajar menerimanya, oma rasa kau cukup dewasa menyikapi semua ini. ingatlah, Namira kini tengah mengandung. jika kau terus terpuruk dalam rasa tidak terima, Namira pasti juga ikut merasakannya..berusahalah lapang dada cucuku, meski kau bukan anak dari putraku Wirnawan, setidaknya tirulah sikapnya yang selalu sabar, bijak dalam segala keputusan." Oma Rani menasehati Attalah dengan begitu penuh kelembutan.
Tio yang melihat oma Rani dan Attalah, ikut merasakan keharuan. Dia kini hidup sendiri tanpa keluarga dan saudara, penyesalan, hanya itu yang menyelimuti hati Tio.
Tio hendak memutar tubuh dan meninggalkan Attalah dan Oma Rani. namun Oma Rani segera mencegahnya.
" Tio.. kau mau kemana ??"
Tio.berbalik dengan senyum terhias diwajahnya. "aku mau mencari angin oma. setidaknya kondisi Mira kan sudah tidak apa-apa." balas Tio beralasan.
__ADS_1
Oma Rani membalas senyuman Tio. "kemarilah cucuku.." panggil Oma Rani.
Tio tertawa kecil saat dipanggil cucu oleh oma Rani.
" kau tuli ya ??!! oma memanggilmu !!?" goda Attalah
Tio berjalan mendekat dimana Oma Rani dan Attalah duduk. lalu berjongkok dihadapan oma Rani. sentuhan lembut dari tangan yang sudah mulai keriput milik oma Rani membuat Tubuh Tio meremang, ia hampir melupakan sentuha hangat dari orangtua.
" apa kau tidak lagi mau menjadi cucuku anak nakal ??!" ujar Oma Rani.
Tio terkekeh dengan ucapan oma Rani.
" apa Atta mau berbagi oma denganku ?? bahkan dulu dia selalu cemburu jika oma memberiku hadiah.." Tio mengalihkan pandangannya kepada Attalah guna mengejek temannya itu.
" sembarangan !! siapa juga yang cemburu !!" Attalah mengelak.
" jujur saja anak manja !!" kembali Tio.melayangkan godaannya.
" ha..ha..ha.. Bahkan oma hampir lupa.jika Atta dijuluki anak manja waktu dulu." Tawa Oma Rani.
Tio pun ikut tertawa, sedangkan Attalah hanya mendegus dan tersenyum kecil seraya mengalihkan pandangannya.
.
__ADS_1
.
.