Diantara Dua Pilihan

Diantara Dua Pilihan
Ternyata


__ADS_3

bab 117


.


.


.


Sedangkan Widia dan Bima tengah sibuk fitting baju pengantin mereka. bersama Mama arum dan ibu wulan mereka dipaksa untuk beberapa kali bertukar model. waktu pernikahan mereka tinggal menghitung hari, semua sudah siap hanya tinggal baju untuk ijab kabul dan resepsi saja. kemarin-kemarin, baik widia maupun Bima selalu menolak untuk melakukan fitting.


" ma.. sudah dong.. ini sudah yang kelima !!" protes Widia yang merasa lelah.


" emm...satu lagi sayang.. mama punya satu lagi pilihan..mbak..!! bawa sini pilihan saya yang terakhir !!" pinta mama arum tanpa memperdulikan protesnya widia.


Widia hanya mendegus dan membuang nafasnya dengan kasar.


Sementara Bima yang mulai bosan menunggu sedikit gelisah.


" bima.. bisa tidak diam sebentar ?! widia sedang memilih !!" tegur sang ibu.


" memang berapa sih bu yang dipilih, ??! bima kan sudah bilang, ibu dan mama saja yang memilih kami nurut kok !!" balas Bima.


" kau jangan sembarangan ya !! lusa adalah hari sakral kalian, moment berharga, harus spesial semuanya !!" timpal ibu wulan.


Bima hanya bisa diam dan membuang nafasnya begitu saja. berdebat dengan sang ibu hanya akan membuat telinganya memerah karna pasti sang ibu akan menarik telinganya.


Bima memilih meraih ponselnya dan berkirim pesan dengan Sahabatnya.


Tirai tempat dimana Widia berganti baju terbuka, nampaklah widia yang begitu cantik dengan balutan gaun putih menjuntai kebelakang,


Ibu wulan begitu terpesona dan berdiri menghampiri.

__ADS_1


" ibu..mau keman..-" Bima menghentikan ucapannya saat matanya mengikuti sang ibu yang berdiri dan netranya menangkap kecantikan Widia. terpesona, hanya itu yang Bima rasakan. matanya bahkan tak berkedip beberapa saat.


lemparan tisue dari Ibu wulan membuat Bima sedikit terperajak.


" Bima... awas matanya loncat nanti.." goda sang Ibu.


mama arum menutupi seringainya saat mendengar besannya menggoda Calon menantunya.


Bims berdehem dan menundukkan wajahnya, rasa malu menyelimuti dirinya yang begitu terpesona dengan widia.


" cantik kan ??" tanya ibu wulan lagi yang kembali dilayangkan kepada Bima.


" em..iya.. itu cantik gaunnya.." jawab Bima sekenanya.


Senyum widia luntur seketika, ternyata bima hanya mengagumi gaun yang ia kenakan. rasa ragu kembali menghantui hati widia. namun semua persiapan sudah sempurna, tidak mungkin ia membatalkannya lagi.


.


.


.


" kenapa kau kusut sekali ??" tanya Tio saat sudah dekat dengan Attalah.


" Namira sakit. aku kefikiran terus.." jawab Attalah seraya melangkah lebih dulu.


" kenapa kau tidak dirumah saja jika kau terus kefikiran ??!" balas Tio yang mengekor dibelakang Attalah.


" Namira tetap memaksaku untuk berangkat. semalam dia mendengar jika kita akan membicarakan proyek besar."timpal Attalah.


Mereka masuk bersama diruang mitting yang sudah dihadiri beberapa staf mereka.

__ADS_1


" duduk semuanya.. ada yang mau saya bagikan !!" ucap Tio dengan santai.


Attalah tak begitu mendengarkan, ia memilih duduk dan membuka tas miliknya.


Tio mengeluarkan segepok kertas berpita yang nampak seperti undangan. beberapa karyawan mulai menduga-duga.


" pak Tio mau menikah ya ??" tanya salah satu anggota mitting.


" sembarangan !! ini undangan dari temanku !!"jawab Tio yang mulai membagikan.


" kalian masih ingat kan mantan istrinya Tuan Attalah ?? nah ini, dia mau menikah lagi dengan teman saya.." terang Tio.


" oww bu widia ya ??" para karyawan mulai membuka kertas undangan itu.


" wah.. bu widia dapet komisaris polisi !! tampannya.." mulut karyawan wanita termasuk sekretaris Attalah juga ikut memuji.


Tio hanya tersenyum saja menanggapi.


ia memgambil satu dan disodorkan pada Attalah.


" kau datang kan ??" tanya Tio sembari mengulurkan undangan pada Attalah.


" tentu saja. Bima teman Namira, widia mantan istriku. pasti datang." jawab Attalah dengan santai.


Tio mengangguk setuju. " baiklah.. mohon tenang.!! kita akan mulai mitting pagi ini !!" Tio menghimbau semuanya agar diam dan mulai fokus pada materi mitting mereka.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2